
Saat Adit telah keluar dari ruang
itu. Dania kembali terduduk di sisi ranjang tempat tidurnya. Matanya tak
berhenti menatap ke arah tempat Adit beranjak pergi.
“Apa yang harus aku lakukan
padamu paman” Ucap Dania dengan nada sedih. Air matanya kembali menetes.
Flassback.
Saat berada di Panti Asuhan.
Saat itu Dania sedang bermain
bersama anak-anak panti di temani oleh Kevin, mereka tertawa dan bersenang-senang
bersama.
“Kak Dania, kak Dania, paman Adit
sangat tampan, bagaimana kakak bisa bertemu dengan paman, kakak benar-benar
beruntung.” Ucap salah seorang anak kecil pada Dania.
“Hei Rara, bukan kak Dania yang
beruntung tapi paman Adit yang beruntung bisa menikahi kak Dania, benarkan kak?”
Ucap Anak yang lain pada Dania. Dania yang mendengar hal itu pun hanya tersenyum
kecil.
“kakak dan paman Adit sama-sama
beruntung kok” Ucap Dania kemudian yang diikuti ekspresi tak senang dari Kevin.
“Apa dia memperlakukanmu dengan
baik?” Tanya kevin kemudian.
“Siapa maksud kakak?”
“Pria itu, Aditya?”
“Paman sangat baik padaku, tapi
kenapa kakak berekspresi seperti itu saat membicarakan paman?”
“Berekspresi seperti apa aku
biasa saja, aku hanya tak ingin dia menyakitimu”
“Hmm, entahlah aku seperti
merasa, kakak seperti tak suka dengan paman”.
“Ya, aku memang tak begitu suka
padanya”.
“Kenapa? Apa paman pernah berkata
kurang ajar pada kakak, atau melakukan hal yang tidak kakak sukai?” Tanya Dania
merasa tak senang saat Kevin seolah mengganggap Adit pria tak baik.
“Bukan seperti itu, hanya saja
kenapa saat dia ingin menikahimu dia tak mengatakannya pada kita semua di sini,
walaupun kita semua tak punya hubungan darah apapun, tapi kau tetap bagian dari
panti ini, kita semua adalah keluarga disini.
“Aku mengerti perasaan kakak,
tapi mungkin paman punya alasan sendiri, kenapa melakukan itu semua”.
“Dan satu lagi, saat kau
kecelakaan merenggang nyawa di Rumah Sakit, saat kita semua kesulitan mencarimu
kemana-mana kenapa dia tak mengatakan apapun, apa karena kau dibesarkan di
__ADS_1
panti asuhan hingga dia berpikir tak ada satupun yang mencari dan
mengkwatirkanmu?”
“Kakak, paman tak sejahat itu,
aku percaya dia punya alasanya kenapa dia melakukan itu semua. Dan saat ini dia
adalah suamiku, aku harap kakak tak berpikir seperti itu pada suamiku.” Ucap
Dania lagi, mendengar perkataan Dania seperti itu membuat hati Kevin seolah
terbakar amarah, namun sekali lagi ia mencoba meredam semua emosinya tersebut.
“Ah, aku ingin ke kamar kecil
sebentar, toiletnya ada dimana ya kak?” tanya Dania pada Kevin.
“Kau ingin ke toilet, ayo aku
akan mengantarkanmu” Ucap Kevin kemudian.
“Jangan kak, aku bisa sendiri,
kakak tunjukan saja di mana arahnya” Ucap Dania lagi yang membuat Kevin yang
mendengarnya seolah merasa mereka seperti menjauh.
“Apa kau mencoba membuat batasan
untukku Dania” gumam kevin di dalam hatinya.
“Baiklah, kau tinggal lurus
sampai pojok ruangan, kemudian kau belok ke kiri di sana ada tangga, kau
naiklah ke atas, disana adalah tempat kita tadi bertemu ibu kepala, di sudut
ruangan itu disana ada toilet, karena toilet di lantai satu sedang di perbaiki
lebii baik kau pergi ke toilet di atas saja, apa kau paham? Karena kau tau kau
bukan orang yang mudah mengingat jalan dan lokasi.”
tapi aku pasti bisa jika aku tersesat aku akan tanya pada anak-anak yang lewat.”
“Baiklah”
........
“Lurus belok kiri ada
tangga....hmm apa tangga ini ya” gumam Dania dalam hati.
“Lalu kemana lagi ya...ah aku
benar-benar payah dalam mengingat jalan dan lokasi, begini aja udah nyasar ya
ampun Dania..Dania..” Celoteh gadis itu sambil menepuk-nepuk keningnya.
“Kenapa tak ada orang yang lalu
lalang ya....”
“Ah, disana kan ada paman dan ibu
kepala, aku tanya ke mereka aja deh” gumamnya kemudian ia mencoba mendekat dan
ingin mengetok pintu, namun langkah tangannya terhenti saat ia mendengar hal
yang membuatnya terkejut dan sangat kaget, seolah nafasnya terhenti saat itu.
Di dalam Ruangan Adit bersama Kepala Panti.
"Saat kecelakaan itu terjadi, nak Adit dan Dania sama-sama kehilangan
Ayah kalian. Dania sempat mengalami syok akibat kecelakaan itu, tak ada yang
bisa mendekati Dania termasuk nyonya Hermawan, beliau melakukan semua cara
untuk membuat Dania bisa merasa hidup kembali namun semuaya sia-sia, sampai
saat Dania bertemu dengan nak Adit. Entah karena merasakan kesedihan yang sama
akhirnya nak Adit dan Dania menjadi dekat, nak Adit menjadi kakak pelindung
__ADS_1
bagi Dania, saat itu kalian sangat dekat, bahkan Dania kecil dulu sempat
berkata ingin menikahi anda jika sudah besar nanti, dan akhirnya sekarang
ucapnya sudah menjadi kenyataan."
"Kami
dulu dekat? tapi kenapa saya tak bisa mengingatnya, Dania mungkin tak bisa
mengingatnya karena Dania masih sangat kecil, tapi saya sudah 15 Tahun saat
kecelakaan itu dan saya tidak mengingat apapun tentang Dania."
"Itu
adalah cerita yang berbeda, karena saat itu nak Adit tak mengetahui alasan
kematian ayah Dania". Adit sedikit terkejut mendengarnya, namun ia pun
tetap memilih mendengarkan.
"Anda
bisa mengatakannya, karena saya sudah tau bahwa ayah sayalah yang menyebabkan
kecelakaan itu."
"Sejauh
mana nak Adit mengetahuinya?"
"Saya
mengetahui bahwa jantung yang ada di tubuh saya adalah milik ayah Dania."
Ucap Adit Ragu.
"Iya,
karena alasan itulah nak Adit tak bisa mengingat Dania, karena saat itu nak
Adit terlalu muda untuk menerima kenyataan bahwa figur yang dikagumi oleh Dania
adalah sosok penyebab kematian ayahnya."
“Mendengar hal tersebut dari balik pintu, membuat Dania sangat terkejut, dan sesak nafas, hingga saat ia
ingin meninggalkan tempat itu ia tak dapat berpikir apapun, ia tak bisa
menerima orang yang saat ini menjadi suaminya adalam seseorang yang menjadi
penyebab kematian ayahnya, ada perasaan sakit di dadanya yang ia rasakan, air
matanya tak berhenti mengalir membasahi pipinya, hingga saat ia ingin menuruni
tangga, ia tak bisa fokus dan jatuh hingga ke dasar anak tangga.
Kevin yang sedari tadi menunggu
Dania pun gelisah karena Dania tak kunjung kembali.
“Apa dia nyasar ke kamar mandi? Kenapa
dia tak kembali juga, sepertinya aku harus menyusulnya, dasar bodoh harusnya
tadi ku antarkan saya dia.” Gumam Kevin dalam hati. Kemudian ia bergegas pergi
menyusul Dania.
“Kak Kevin mau kemana” Ucap
seorang anak pada Kevin.
“Kak Kevin mau ke toilet sebentar”
“Aku mau ikut” Celoteh anak kecil
tadi. Kemudian Kevin menggendong anak tersebut dan bergegas pergi menyusul
Dania, dan saat mereka berada di ujung jalan mereka terkejut saat melihat Dania
sudah terbaring berlumuran darah di lantai. Kevinpun langsung memapah Dania dan
anak kecil terseut memanggil Adit dan kepala panti yang berada di ruang atas.
__ADS_1