
"Ibu kepala!!!! Ibu kepala!!!" Teriak anak laki-laki yang menerobos masuk keruangan itu.
"Ada apa Cello?! Kenapa kamu teriak-teriak?" Tanya kepala panti yang terkejut.
"I..itu kak Dania, kak Dania jatuh?"
"Jatuh bagaimana?" Tanya kepala panti lagi memastikan.
"Jatuh dari tangga, kepalanya berdarah..!" Mendengar itu sontak Adit langsung berlari keluar dari ruangan itu.
"Dania, aku harap kau baik-baik saja" gumamnya dalam hati. Saat mendapati sosok yang ia cari, Adit terdiam sesaat saat melihat gadis itu merlumuran darah di pelukan Kevin.
"Tolong minggir aku akan membawa Dania ke rumah sakit" Ucapnya sambil melepaskan tangan Kevin dari Dania.
"Aku akan ikut" Ucap Kevin lagi. Adit tak mempunyai pilihan dan bergegas membawa Dania ke Rumah Sakit,
Dalam perjalanan, Kevin yang menyetir mobil. sedang Adit bersama Dania di berada dibangku penumpang.
"Apa yang sebenarnya terjadi mengapa Dania bisa terjatuh?" tanya kepala panti pada Kevin yang sedang menyetir.
"Tadi dia hanya ingin pergi ke kamar mandi, lalu tiba-tiba sudah jadi seperti ini" Jawab Kevin menjelaskan.
"Apa masih jauh??!" Tanya Adit yang sudah panik.
"Sebentar lagi kita akan sampai" Jawab Kevin sambil menaikan kecepatan mobil.
Saat tiba di Rumah Sakit, Dania langsung di bawa ke IGD dan di nyatakan harus menjalani operasi karena adanya penggumpalan darah di otak.
"Nak Adit Dania akan baik-baik saja, Dania adalah anak yang kuat" Ucap kepala panti mencoba menangkan Adit.
"Tapi kenapa? baru sesaat kami bisa benar-benar memiliki hubungan yang baik tapi kenapa selalu dia lagi yang terluka."
"Semua sudah ada jalannya nak Adit, lebih baik kita berdoa agar Dania baik-baik saja" Ucap kepala panti lagi.
"Iya bu kepala terima kasih" Ucap Adit pelan.
"Wali dari ibu Dania" Teriak suster yang baru keluar dari ruang operasi.
"Saat ini ibu Dania sedang kehilangan banyak darah, kita butuh donor darah secepatnya karena persediaan darah dengan tipe yang sama seperti ibu Dania sedang kosong, mohon untuk menghubungi keluarga yang lain untuk mencari donor darah."
"Baik sus, tapi bagaimana istri saya sus"
"Ibu Dania saat ini masih kristis, oleh sebab itu tolong untuk dibantu mencari ketersediaan darah lebih dulu".
"Golongan darah saya sama dengan Danai, anda bisa ambil darah saya" sela Kevin.
"Kalau begitu, mari ikut saya pak, kita akan melakukan beberapa pemeriksaan sebelum melakukan donor Darah."
"Baik sus" Ucap Kevin sambil mengikuti suster itu ke sebuah ruangan. Adit hanya terdiam disana belum beranjak sama sekali.
"Aku tak bisa melakukan apapun untuknya" gumam Adit lirih.
__ADS_1
"Benar-benar sial" gumamnya lagi sambil menghempaskan satu pukulan dinding.
Tak lama setelah proses pendonoran darah selesai Kevin kembali ke ruang tunggu.
"Bagaimana nak Kevin?" tanya suster kepala saat melihat sosok Kevin.
"Saya sudah selesai mendonorkan darah untuk Dania, dan saya berharap itu bisa membantu Dania." Ucap kevin kemudian.
"Saya bersyukur nak Kevin ada disini sekarang" Ucap kepala panti sambil memegangi tangan Kevin.
"Saya yang lebih bersyukur bisa membantu Dania, karena Dania juga adalah orang yang penting untuk saya" ucap Kevin. Adit yang mendengar hal itu hanya diam dan matanya hanya tertuju pada kamar operasi Dania.
"Operasi sudah berjalan beberapa jam, tapi belum ada kabar apapun" ucap kepala panti yang gelisah.
"Dania akan baik-baik saja suster kepala" Ucap Kevin menenangkan.
"Iya dia pasti baik-baik saja,.....dulu saat ia terluka ia tetap tersenyum, karena tak ingin membuatku kuatir, tapi saat dia tak pernah mengatakan sakit, aku justru semakin mengkuatirkannya, karena dia tak pernah ingin membuat orang lain cemas."
.........
"Wali ibu Dania" sapa seorang dokter yang keluar dari ruang operasi.
"Iya saya dok" Jawab Adit dan Kevin berbarengan. Adit menoleh ke arah Kevin dan Kevin pun kembali duduk.
"Iya dok" Jawab Adit lagi.
"Operasi sudah selesai dilakukan dan ibu Dania sudah melewati masih krisisnya, sebentar lagi ibu Dania akan dipindahkan ke ruang perawatan, karena efek anestesi, ibu Dania masih belum sadarkan diri, dan apa sebelumnya ibu Dania pernah mengalami kecelakan di bagian kepala juga?"
"Begitu ya, kami menemukan gumpalan lama yang saat ini perlahan mencair, dan itu bukan hal buruk, kalau begitu saya permisi".
"Terima kasih dok" Ucap Adit lagi.
"Nak Adit, bagaimana Dania?"
"Dania sudah melewati masa krisisnya" Ucap Adit dengan nada berat.
"Terima kasih Tuhan" Ucap kepala panti lagi.
"Saya akan menjaga Dania disini, ini sudah sangat larut, lebih baik ibu kembali ke panti, karena saat ini sepertinya di panti juga pasti ingin mendengar kabar tentang Dania."
"Baiklah, jika ada apa-apa nak Adit tolong kabari saya"
"Iya ibu kepala, sekali lagi terima kasih"
"Saya akan ikut berjaga disini" Ucap Kevin kemudian. Adit hanya menatap tajam ke arah Kevin.
"Ah, nak Kevin bisa tolong antar saya kembali ke Panti, nak Kevin juga butuh istirahat kan, dan lagi ada nak Adit suami Dania yang menjaganya." Ucap kepala panti.
"Ta..tapi"
"Dania akan baik-baik saja nak Kevin, dan disini ada nak Adit" Ucap kepala panti lagi seolah menegaskan pada Kevin bahwa Dania sudah memiliki Adit.
__ADS_1
"Baiklah bu kepala...., tolong jaga Dania"
"Saya pasti menjaga Dania, dan sekali lagi terima kasih untuk donor yang kamu lakukan untuk Dania, suatu saat aku akan membalas kebaikan itu."
"Itu tak perlu pak Adit, karena saya hanya membantu orang terpenting untuk saya saja, jadi anda tak perlu balas budi pada saya" Ucap Kevin lagi sambil berlalu pergi.
........
Di Ruang perawatan Dania.
.....
"Maafkan aku, karena tak bisa menjagamu dengan baik, bangunlah gadis kecil, jangan membuatku sesak seperti ini lagi" gumam Adit sambil memegangi tangan Dania.
"Permisi Tuan" sapa seseorang yang tak asing untuk Adit. Aditpun keluar dari ruang itu menghampiri sosok yang tak lain adalah Hans.
"Hans, besok oma akan kembali, jika oma mencariku, katakanlah aku di Rumah Sakit, dan atur orang untuk menjemput oma besok di bandara.
"Baik tuan....apa anda baik-baik saja tuan?"
"Kau sangat lucu Hans, yag terluka adalah Dania, tapi kau bertanya tentang keadaanku."
"Karena saya tau, jika nona Dania terluka, anda adalah orang yang merasakan sakit lebih dari yang nona rasakan"
Adit terdiam sesaat.
"Aku baik-baik saja Hans, dab untuk urusan kantor, kau bisa mengurusnya."
"Saya permisi tuan."
Di kamar Dania.
"Hei gadis kecil, apa kau tau apa yang di katakan si Tua Hans itu, dia bilang aku akan lebih terluka jika kau terluka, dia benar-benar konyol tapi aku tak bisa menyangkalnya, tak bisakah kau bangun sekarang, aku benar-benar sesak melihatmu terus seperti ini." Ucap Adit sambil memengangi tangan Dania.
"Hei Gadis kecil apa kau mendengarku" Ucap Adit lagi saat menyadari lengan Dania bergerak. Adit melihat Dania perlahan membuka matanya.
"Terima kasih Tuhan, terima kasih Dania" Ucap Adit sambil memeluk Dania saat melihat Dania sudah sadar.
"Kau benar-benar membuatku takut" Ucap Adit lagi masih memeluk Dania.
"Tuan, mengapa anda disini?" tanya Dania datar, yang membuat Adit terkejut juga bingung, dan melepas pelukannya dari Dania,
"Kenapa kau berkata seperti itu gadis kecil dan kenapa lagi kau memanggilku tuan" Tanya Adit bingung.
"Karena saya anda adalah tuan saya dan saya pelayan anda, itu kan yang anda katakan dulu" Ucap gadis itu lagi.
"I..iya kau benar, tapi kita kan...." Ucap Adit terhenti, ia menyadari sesuatu, saat Dania kehilangan ingatannya, mereka tak pernah membahas masalah ini lagi, itu artinya saat ini Dania sudah mendapatkan ingatannya kembali.
"Apa ingatanmu sudah kembali?" Tanya Adit ragu.
"Apa maksud tuan, saya mengingat semuanya, bahkan saat anda bermesraan dengan wanita lain, karena itu saya pergi, dan kenapa sekarang anda disini, saya sudah memilih pergi kenapa anda malah disini!" Teriak Dania histeris, dan Adit masih terdiam menela'ah keadaan.
__ADS_1