Aku dan Dirimu

Aku dan Dirimu
Pernahkah kau merindukanku..


__ADS_3

"Masuklah" Ucap Adit saat Dania sudah ada di depan pintu. Dania berjalan pelan memasuki ruangan Adit.


"Ada apa bapak memanggil saya?" Ucapnya gugup


"Kemarilah..."Ucap Adit pelan


"Maaf..." Dania


"Kemarilah" Ucap Adit lagi dengan suara yang terdengar keras. Dania mencoba mendekat ke arah Adit meski ada ke ragu-raguan di hatinya, saat Dania mulai mendekat Adit langsung menariknya ke arahnya dan mendekap erat Dania.


"Apa kau tau....aku benar-benar merindukanmu" Ujar Adit sambil membisik di telinga Dania. Dania mencoba melepaskan diri dari dekapan Adit, namun tenaganya tak mampu mengimbangi kekuatan pria itu.


"Pak, tolong lepaskan saya, ini namanya pelecehan..." Ujar Dania dengan nada marah.


"Bagaimana bisa seorang suami melecehkan istrinya" Adit.


"Kita sudah memilih berpisah, jadi tolong lepaskan saya" Ujar Dania sembari mendorong tubuh Adit. Adit membiarkan Dania melepaskan diri dari dekapannya.


"Anda benar-benar keterlaluan Bapak Adit" Ujar Dania marah.


"Bukankah kau yang jauh lebih keterlaluan dariku? kau meninggalkanku tanpa sepatah kata, kau bahkan pergi bersama pria lain, meski kau begitu membenciku, bukankah kau masih berhutang penjelasan padaku." Adit


"Anda benar-benar lucu, yang seharusnya memberi penjelasan bukan saya, tapi anda" Dania masih dengan nada yang emosi.


"Kau benar, tapi aku tak berniat menyembunyikannya darimu, karena sama halnya denganmu, aku pun baru mengetahui hal itu, meski itu tetap tak membuat rasa bersalahku hilang untukmu".


"Saya tak ingin membahas masa lalu, jika anda masih bersih keras melakukan hal ini pada saya, maka saya akan keluar dari perusahaan ini" Ujar Dania kemudian, lalu ia mencoba berjalan keluar dari ruangan itu.


"Apa selama dua tahun kau pergi, apa pernah sekalipun kau merindukanku?" Ucap Adit pelan. Dania kembali menghentikan langkahnya, ia mengepal erat jemarinya, menarik nafas dalam-dalam.


"Saya tak pernah merindukan anda.........jadi saya harap anda tak pernah mengusik saya lagi" Ujar Dania dan ia pergi meninggalkan tempat itu. Adit kembali terduduk di bangkunya, ia menatap ke langit-langit ruangan itu, menarik nafas dalam, dan mencoba menenangkan pikirannya.


"Apa kali ini pun kita harus melangkah untuk saling menyakiti, apa langkah yang ku ambil kali ini akan menyakitimu...tapi aku tak ingin lagi melepaskanmu, apa aku akan menjadi laki-laki yang paling egois.." gumam Adit.

__ADS_1


'Dania, apa yang terjadi kenapa pak direktur mencarimu" Tanya Andine saat melihat Dania memasuki ruang kerja.


"Ah..itu, pak direktur ingin menguji saya tadi tentang masalah design" Ucap Dania gugup


"Hah? pak Direktur memang orang yang sangat dingin dan tegas, kau pasti sangat gugup bertemu dengannya, ayo sini minum dulu" Andine


"ah iya, terima kasih bu" Dania.


"Tak perlu sungkan Dania, kita disini adalah rekan, dan usia kita juga tidak terlalu jauh, kau bisa memanggilku kakak, karena jika kau memanggilku ibu, aku merasa seperti orang tua." Celoteh Andine.


"ah, iya baiklah kak Andine" Ujar Dania lembut.


"Tapi meskipun pak direktur dingin dan tegas seperti itu, dari yang ku dengar ternyata beliau kesepian karena di tinggal pergi istrinya, dan semenjak itu beliau jadi orang yang dingin bahkan beliau tak pernah lagi tersenyum, ah apa sih kurangnya direktur kita itu, sudah tampan, kaya, setia pula, apa istrinya tidak keterlaluan.." Celoteh Andine panjang kali lebar. Dania hanya terdiam dan merenung mendengarnya.


"Tapi, mungkin istrinya punya alasan sendiri untuk melakukan itu.." Dania


"Tapi tak ada alasan apapun bukan untuk meninggalkan suami sendiri, bukankah menikah itu kita sudah mau menerima semuanya, bukan hanya senang-senangnya aja, intinya istrinya sangat keterlaluan, jika aku bisa menggoda pak direktur dan dia tertarik padaku aku akan sangat senang menerimanya, tapi jangankan tertarik melirikpun dia tidak" Ucap Andine lagi. Dania hanya mendengar celoteh rekannya itu, namun ia tak menyalahkan ucapan Andine tersebut, karena di dalam hatinya ia tetap merasakan rasa bersalah pada Adit dan jika ia memilih Adit ia akan merasa bersalah pada ayahnya,


"Ah, aku terlalu banyak bicara ya, karena sudah jam segini, yuk kita bahas masalah kerjaan".


.............


"Ah sudah jam 6 ya, aku akan selesaikan ini dulu, baru nanti aku pulang." Dania


"Ah kamu ini, kalau hari pertama kamu serajin ini, aku yang sudah lama akan merasa bersalah padamu" Andine


"haha, kakak santai saja, apalagi di rumah juga tidak ada siapa-siapakan, jadi aku tak masalah jika harus pualng sedikit lebih lama." Dania


"Ya sudah, aku duluan ya"


"Hati-Hati" Dania.


.............

__ADS_1


"Ah sepertinya aku sudah bekerja terlalu larut, sepertinya hari ini sudah cukup, aku akan bersiap-siap untuk pulang" gumam Dania. Ia membereskan meja kerjanya dan keluar dari ruangan itu.


"Ya ampun ini hujan, aku bahkan tak membawa payung, jika hujan begini akan sulit memesan taxi online" gumam Dania lagi. Tak lama mobil sport merah sudah berada di depannya. Dania mencoba menerka-nerka siapa orang yang ada di dalamnya. Pengemudi itu membuka kaca mobilnya dan menyapa lembut Dania.


"Masuklah, aku akan mengantarmu" Ujarnya saat membuka kaca.


"Saya bisa pulang dengan taxi, terima kasih" Ujar Dania setelah mengetahui sosok yang ada di dalam mobil.


Tin..tin terdengar suara dari mobil-mobil yang ada di belakang mobil sport itu.


"Ayo masuklah, atau kau akan membuat ke macetan di depan kantor ini" Ujar Adit sambil membuka pintu mobilnya.


"Saya kan sudah bilang, saya akan pulang dengan taxi, lebih baik anda pergi sebelum para pengemudi lain marah" Dania.


"Kenapa kau kuatir aku akan di marahi?" Ujar Adit sembari tertawa kecil.


Tin..tin..tin...Suara klakson mobil yang saling bergantian semakin membuat kegaduhan di malam itu. Mau tak mau akhirnya gadis itu mengalah dan masuk ke dalam mobil Adit. Adit pun tersenyum penuh kemenangan saat Dania masuk ke dalam mobilnya.


"Jadi kemana kita akan pergi nona" Ucap Adit dengan lembut sambil masih dengan senyum merekah di wajahnya.


"Kita lurus saja dulu" Dania dengan nada yang masih kesal.


"Baiklah tuan putri" Adit.


"Jadi bagaimana kabarmu selama ini" Ucap Adit mencoba mencairkan suasana.


"Seperti yang anda lihat, saya baik-baik saja" Dania.


"Yah, aku bisa melihatnya, apa kau tak menanyakan keadaanku kembali?"Adit


"Sepertinya itu bukan urusan saya, dan saya bisa melihat bahwa anda baik-baik saya". Dania


"Benarkah, tapi aku tak sedang baik-baik saja" Adit.

__ADS_1


"jika anda hanya ingin membahas masa lalu, maka anda lebih baik menghentikannya. Anda bisa turunkan saya didepan, saya akan naik bis dari sini." Ucap Dania dengan nada dingin.


__ADS_2