Aku dan Dirimu

Aku dan Dirimu
Dania


__ADS_3

Pada garis waktu, ada saat kita tersadar akan hal penting yang kita lewatkan, kadang kita mengganggap pemikiran kita adalah sebuah kebenaran, padahal tanpa kita sadari kita sedang membuat diri kita semakin merangkak mundur. Dan saat kita mulai tersadar yang kita jumpai hanya sebuah rasa penyesalan. Namun bukankah lebih baik menyesali daripada harus tetap terbelenggu dalam ego yang tak pernah usai. Itulah yang dirasakan Adit saat ini. Setibanya di Rumah Sakit, Ia bergegas menuju Dania. Hatinya miris saat melihat Dania terbaring lemah dikasur dengan alat bantu pernafasan seadanya. Adit terduduk tepat disamping ranjang Dania. Tanpa sadar air matanya jatuh. Ia menyesali setiap hal buruk yang ia lakukan pada gadis itu.


"Tuan....."sapa seseorang yang tak asing dibelakangnya.


Adit menyeka airmatanya " Bapaimana dengan perpindahan Rumah Sakitnya Hans"


"Kita masih harus menunggu perbantuan alat dari Rumah sakit besar di kota untuk bisa membawa nona Dania tuan" Jelas Pria Paruhbaya itu.


"Dia akan baik-baik saja kan Hans??"


"Nona akan baik-baik saja Tuan"


"Bukankah aku begitu lucu Hans, aku mendorongnya pergi sebisaku, tapi saat aku tak mendapatinya disisiku aku malah kehilangan akalku."


"Ini bukan salah anda Tuan, jangan menyalahkan diri anda sendiri, anda beristirahanlah tuan, sejak tiba disini anda belum makan apapun dan belum beristirahat"


"Bagaimana aku bisa beristirahat dengan nyaman saat aku melihatnya seperti ini"


"Tapi anda harus tetap kuat agar tetap bisa menjaga nona Tuan".


"Apa oma sudah berangkat ke Inggris ??"


"Sejam yang lalu nyonya besar sudah berangkat menuju Bandara tuan"


"Jangan biarkan oma mengetuhui masalah ini dulu Hans, aku tak ingin membuat oma sedih".

__ADS_1


"Baik Tuan".


Dua jam berlalu...


"Tuan tim medis akan membawa nona Dania sekarang untuk dipindahkan".


"Baiklah, dan Hans aku ingin berada di ambulans bersama Dania".


"Tuan, itu akan membuat anda tidak nyaman, jika harus ada yang menjada nona disana, biar saya saja, anda sudah cukup lelah".


"Hans, apa kau lupa...dia Istriku" ucap Adit singkat dan menyudai perdebatan mereka, Hans hanya terdiam menatap majikannya.


Selama perjalanan ke Rumah Sakit kota, Adit berjaga-jaga meskipun dia tau ada perawat dan dokter yang selalu standby disisi Dania.


"Dokter irama jantungnya menurun" ucap salah satu perawat yang membuat Adit terkejut.


"Baik dokter"


"Suster apa yang terjadi???" Adit Panik


"Maaf tuan, lebih baik anda menunggu dengan tenang dan jangan mengganggu tim medis"


"Tapi saya harus tau keadaannya" Adit semakin gelisah.


"Pasien kembali drop, hanya itu yang bisa saya katakan sekarang, lebih baik anda tetap tenang itu akan membantu pekerjaan kami".

__ADS_1


"Berapa lama lagi kita tiba dirumah sakit" Dokter


"Sekitar 60 menit lagi dokter"


"Pasien harus cepat ditangani dengan alat bantu sekarang ini kita tidak akan bisa membantu, tekanan darahnya semakin menurun dan detak jantungnya melemah, kita harus tiba setidaknya 30 menit lebih cepat."


"Dokter apa yang sebenarnya terjadi" Tanya adit lagi dengan nada membentak.


"Tuan mohon tenang, sedari awal kesediaan alat dirumah sakit kecil saat pasien tiba memang tidak memadai, sehingga penanganannya tidak bisa maksimal."


"Lakukan sesuatu! bukankah itu tugas anda! Ucap Adit marah


"Tuan, jika tuan marah-marah seperti ini, ini tidak akan membantu sama sekali, dan ini juga diluar kuasa saya sebagai manusia".


"Apa yang harus dilakukan dokter".


"Kita harus tiba di rumah sakit 30 menit lebih cepat, karena ini sudah batas pasien, tapi kita tidak bisa mengatur lalu lintas".


"Lalu lintas?? baiklah, dokter tolong lakukan yang terbaik saya akan pastikan kita tiba 30 menit lebih awal.


"Hans, bagaimanapun caranya, atur perjalanan ke Rumah sakit selambatnya 30 menit lebih awal.


"Baik tuan, ucap seseorang ditelpon.


"Bertahanlah...." ucap Adit lirih sambil menatap Dania.

__ADS_1


 


 


__ADS_2