
Di bangku taman terlihat Adit sedang menatap langit. Pikirannya sedang berkecamuk tentang apa yang baru saja Hans kabarkan padanya. Jika hal itu benar, itu artinya Adit berhutang nyawa pada Ayah Dania, dan keluarganyalah penyebab kecelakaan yang menimpa ayah Dania. Adit menarik nafas dalam mengingat setiap hal yang terjadi akhir-akhir ini dalam hidupnya. Ia kesal pada dirinya sendiri, dan ia juga tak habis pikir mengapa omma menyembunyikan semua hal ini darinya, jika saja dari awal omma mengatakannya mungkin sikapnya pada gadis itu takkanlah seburuk yang terjadi saat ini.
"Kau sedang apa paman?" sapa gadis itu mengagetkan Adit dari lamunannya.
"Dania, sejak kapan kau disana?"
"Sejak saat kau menghela nafas panjang" celoteh gadis itu.
"Haha...kemarilah, kenapa kau belum tidur?" Ucap Adit sambil bergeser ke tepian bangku.
"Aku tak bisa tidur paman, kamar itu terlalu besar untukku sendiri" celotehnya.
"Hahaha, jika kau tak ingin sendiri, aku bisa menemanimu" Ucap Adit menggoda gadis itu, langsung saja tanpa aba-aba Dania langsung melotot manatap pria di sampingnya itu dengan tatapan tak senang.
"Hahaha aku hanya bercanda" ucap Adit sambil mengacak-ngacak rambut Dania.
"Tapi sedang apa paman, malam-malam disini?"
"Hmmm, aku lelah bekerja jadi aku cari angin sebentar"
"Emang apa sih yang paman kerjakan, sampai sok sibuk begitu".
"Banyak hal....apa kau mau ikut dengan ku besok ke kantor?"
"Aku?? untuk apa? gak ah nanti aku malah ganggu paman kerja".
"Gak kok, kau bisa lakukan apapun di kantorku, dan aku tetap bisa kerja, bukankah kau ingin tau kegiatanku?"
"Hmm, boleh juga, ya udah besok aku ikut paman ke kantor deh" Celoteh gadis itu sambil tersenyum kecil.
"Paman..."
"Hmmm"
"Dingin...". Adit menatap gadis di sampingnya itu dengan tatapan lembut, ia membuka sweternya dan memakaikannya pada gadis itu.
__ADS_1
"Apa masih dingin?" Tanyanya lembut.
"Udah lebih baik dari yang tadi, tapi apa paman gak kedinginan?"
"Aku tak apa".
"Wah..ternyata malam ini bintangnya banyak..."
"Iya, Kau suka?"
"Iya, Cantik ya.." Celoteh gadis itu sambil tersenyum menatap langit, Adit yang mendengarnya pun menatap gadis itu dengan tatapan lembut.
"Iya Cantik..."
"Paman..."
"Hmm.."
"Aku ngantuk.."
"Tapi aku gak bisa tidur kalau di kamar?"
"Kenapa?" tanya Adit bingung.
"Entahlah paman, tapi kamar itu tampak asing untukku, dan sepertinya kamarnya terlalu besar untukku sendiri".
"Hmmm..ya sudah, sekarang baringkan aja kepalamu disini?"ucap Adit sambil menepuk nepuk bahunya.
"Ta..tapi.." Ucap gadis itu ragu sambil menoleh ke arah pundak Adit. Adit yang melihatnya langsung menarik Dania mendekat dan melekatkan kepala gadis itu di pundaknya.
"Tidurlah" ucap Adit sambil membelai rambut gadis di sampingnya itu dengan lembut. Dania yang melihat reaksi Adit sedikit terkejut namun tak menolak, ia merasa perasaan yang hangat saat Adit membelai rambutnya.
"Paman..."
"Hmmm..."
__ADS_1
"Apa paman menyukaiku?" tanya gadis itu membuat Adit terkejut dan menghentikan belaiannya di rambut Dania.
"Kenapa kau bertanya?". Tanyanya selidik.
"Entahlah aku hanya penasaran".
"Menurutmu...., apa aku menyukaimu?"
"Entahlah paman aku tak tau, tapi saat aku terbangun di Rumah Sakit, hanya kau yang datang menemuiku, aku tak tau siapapun saat ini selain paman". Ucap gadis itu lagi. Adit hanya mendengar ucapan yang dikatakan Dania. Ia terdiam sejenak, mencoba berpikir dan menela'ah.
"Mungkin aku menyukaimu...ah bukan. Aku mencintaimu Dania.." ucap Adit lembut sambil kembali membelai rambut Dania. Dania yang mendengar ucapan Aditpun terdiam sesaat, rasa kantung yang tadi ia rasakan seolah menghilang begitu saja. Ada perasaan hangat yang ia rasakan juga perasaan bersalah karena tak mengingat kenangannya bersama pria itu.
"Maafkan aku paman, aku tak bisa mengingatmu, apa dulu aku juga menyukai paman...?" ucap gadis itu pelan...
"Kau tak perlu minta maaf, Itu bukan salahmu, jika kau merasa bersalah karena tak bisa mengingat semuanya, kita bisa membuat kenangan yang baru dan kau hanya perlu mencintaiku sekali lagi.." Ucap Adit sambil menarik tangannya dan menghadapkan dirinya ke arah gadis yang ada di hadapannya itu. Dania yang tadinya berada di sandaraan Aditpun kini sudah duduk di posisi ke arah Adit.
"Kau hanya perlu jatuh cinta padaku lagi.." ucap Adit pada gadis itu sambil memegang ke dua tangan Dania. Dania menatap pria di hadapannya itu dengan tatapan lembut, ia mengarahkan tangannya ke wajah Adit dan membelai rambut pria itu.
"Kalau begitu, buat aku jatuh cinta lagi pada paman" ucapnya sambil tersenyum lembut. Melihat sikap Dania padanya, dan melihat gadis dihadapannya itu tersenyum lembut padanya, hati Adit seolah menggeliat, ada yang menggelitik di hatinya, tanpa sadar dibawah cahaya rembulan yang benderang, ia mendekatkan wajahnya ke arah wajah gadis di hadapannya itu, dan melekatkan bibirnya ke bibir gadis kecil itu. Dania yang melihat sikap Adit sedikit terkejut, namun tak menolak saat Adit mencoba menciumnya, tubuhnya gemetar bukan karena dingin, ada sensasi hangat yang juga menggelitik yang ia rasakan, Adit yang melihat tak ada reaksi penolakan dari gadis itu pun memperdalam ciumannya, untuk beberapa saat mereka melupakan dinginnya malam yang mulai menusuk.
........
Setelah beberapa saat, Adit melepaskan ciumannya dari Dania, dan membuat gadis itu salah tingkah.
"Se..Sepertinya aku ingin tidur sekarang, aku akan kembali ke kamar sekarang" ucapnya terbata dan tergesa sambil beranjak dan berlari menjauh dari Adit. Ia berlari cepat ke kamar.
"Ah...apa itu tadi, kenapa aku diam saja, kenapa aku tak menolaknya."gumamnya sambil berjalan kembali ke kamar. Disisi lain, Adit hanya tersenyum senang melihat sikap Dania yang ia anggap lucu dan menggemaskan.
"Kenapa aku baru sadar dia semenggemaskan ini ya.." gumam Adit pelan sambil terus tersenyum menatap ke arah Dania pergi tadi.
"Sepertinya aku juga harus kembali masuk, sebelum aku jadi gila karena tersenyum sendiri disini" gumam Adit lagi dan ia pun beranjak meninggalkan tempat itu dengan perasaan bahagia berbeda saat ia tadi datang kesana.
Di kamar Dania tak bisa tidur, ia terus mengingat kejadian saat ia beradadi taman bersama Adit, walaupun saat di Rumah sakit Adit pernah mencoba menciumnya, tapi kali ini berbeda. Jika kemarin iya merasa kesal saat Adit berusaha menciumnya, namun kali ini ia tak merasa kesal sedikitpun malah ada sesuatu yang berbeda dug dig dug, dug dig dug yang ia rasakan, ia tak tau hal itu apa, yang pasti kali ini jantungnya berdegup cepat seolah ingin mencuat keluar.
"Ah...aku malu sekali, Aku malu, aku malu..bagaimana aku bisa bertemu dengannya besok" gumamnya lagi sambil beguling guling di kasur.
__ADS_1
"Ah...aku jadi tak ngantuk sama sekali sekarang, sekarang apa yang harus aku lakukan, apa aku jalan-jalan lagi aja keluar...Ah gak, gimana kalau nanti ketemu lagi, aku kan malu" celotehnya berkali-kali, hingga akhirnya ia lelah dan tertidur.