
Adit terbangun dari tidurnya, ia membuka mata dan mendapati Dania tertidur di pelukannya, ia tersenyum melihat gadis itu yang tak beranjak dari sisinya, ia merapikan rambut Dania yang menutupi wajahnya, dan dengan lembut menyentuh pipi gadis itu. Dania bergerak kecil saat pipinya di sentuh, Adit tersenyum melihat reaksi lucu dan menggemaskan Dania, ia membelai lembut rambut gadis itu dan mengecup keningnya.
"Aku harap bisa melalui hari-hari bersamamu seperti ini terus" gumamnya. Sesaat terdengar suara tering telpon Adit yang membangunkan Dania. Adit mencoba mematikan ponselnya namun Dania sudah terbangun dari tidurnya, saat menyadari Adit sudah bangun, gadis itu langsung merapikan dirinya dan bangun dari sofa.
"Ah...maaf aku ketidur, kemarin aku sedikit begadang jadi tanpa sadar aku tertidur" celoteh gadis itu gagap mencari alasan. Adit spontan tertawa mendengar ocehan gadis itu.
"Apa yang anda tertawakan" celotenya kesal seolah sedang di permainkan.
"Ah maaf, aku hanya merasa kau sangat lucu" Ucap Adit yang membuat wajah gadis itu kembali merona karena malu.
"Ah iya, aku lapar.." Ucapnya mengakhiri situasi itu.
"Hmmm, baiklah ayo kita makan" Ujar Adit lagi, dan mereka berjalan ke ruang makan.
"Aku hanya memasak seadanya, jika kau tak suka, kau bisa memesan makanan yang lain" Ujar Dania sambil duduk.
"Hmmm, aku tak suka makan di luar..." Ujar Adit singkat, Dania teringat dengan apa yang di katakan dokter di Rumah Sakit tentang kondisi kesehatan Adit, Adit tidak pernah lagi mengkonsumsi makanan.
"Ya uah, kalau gitu duduk dan makanlah" Ujar Dania lagi.
"Buatkan untukku.." Jawab Adit sedikit manja.
"Kan anda punya tangan..." Celetuk Dania
"Tapi aku sedang pusing" gumam Adit kecil
"Apa hubungannya pusing dengan tangan" celoteh Dania lagi, namun ia tetap menyiapkan makanan untuk Adit.
"Terima kasih istriku.."Ucap Adit senang saat Dania memberikan piring berisi makanan di hadapannya. Dania yang mendengar itu langsung terdiam dan wajahnya merona karena malu.
"Makanlah.." Ujar Dania lembut. Adit memakan makanan yang dibuatkan Dania untuknya dengan lahap, bahkan sampai ia meminta porsi yang lebih lagi.
__ADS_1
"Apa seenak itu?" Tanya Dania sambil menyantap makananya sendiri, dan ia hanya merasa makanan itu tak ada istimewa sama sekali, tapi ia melihat pria di hadapannya itu menyantapnya dengan lahap.
"Kau harus memakannya sambil di penuhi cinta sepertiku, dan itu akan terasa sangat nikmat" Celoteh Adit kemudian.
"Sejak kapan kau bisa mengucapkan kata-kata menjijikan seperti itu" Celetuk Dania seolah tak percaya. Adit hanya tersenyum saja dan menikmati makanannya, dan ia menyadari saat bersama Dania kondisi tubuhnya lebih stabil dari biasanya dia bahkan bisa menikmati makanan tanpa merasas mual dan muntah.
Setelah selesai makan dan merapikan tempat itu Dania dan Adit kembali ke ruang tengah.
"Apa anda sudah membaca laporannya?? Tanya Dania saat ia melihat tumpukan berkas di meja.
"Aku belum membacanya, tadi aku sangat ngantuk" Jawab Adit seperti anak kecil dengan wajah yang memelas, Dania yang mendengar dan melihat menahan tawanya sendiri.
"Kalau begitu anda harus segera membacanya, karena saya akan kembali ke kantor segera.." Ucap Dania
"Secepat itu?" Tanya Adit kecewa.
"Aku kesini bukan untuk bermain, tapi untuk bekerja"Ucap Dania tegas.
"Lalu kapan kau kesini untuk mengunjungiku bukan untuk bekerja?" Tanya Adit lagi.
"Iya..iya aku akan membacanya" Jawab Adit dengan nada seolah sedih, namun ia tak kehilangan akal untuk membuat gadis itu tetap berada disana dan tak kembali.
"Oh iya selagi aku membaca bisakah kau membantuku mencari laporan tahun lalu di lemari kamarku?" Tanya Adit pada gadis itu yang sedang memperhatikan Adit membaca berkasnya.
"Andakan bisa mencarinya nanti, atau anda bisa meminta pak Hans untuk membantu.." Ucap Dania
"Yah, kalau kau tak mau, ya sudah, aku akan mencarinya sendiri, karena aku butuh laporan itu untuk memeriksa laporan-laporan yang kau bawakan ini" Ucap Adit sambil mengangkat laporan yang Dania bawakan tadi.
"Ya sudah, akan saya carikan, dimana kamar anda" Ucap Dania mulai kesal.
"Kau jalan ke arah sana, nanti di sebelah kiri ada tangga kau naiklah kamarku ada di sisi kiri tangga.' Jelas Adit
__ADS_1
"Baiklah" Ujar Dania sambil beranjak dari duduknya.
"Terima kasih istriku"Ucap Adit lagi sambil tersenyum pada Dania.
"Jangan memanggilku seperti itu lagi" Decak Dania kesal, ia langsung pergi meninggalkan Adit di ruangan itu menuju kamar Adit.
"Hmmm, apa ini kamarnya" gumamnya saat melihat ruangan di sebelah kiri tangga. Dania membuka pintu itu, namun terkunci, dan harus dibuka menggunakan password.
"Ah....jika tau kamarnya di kunci seperti ini harusnya dia langsung memberikan pinnya padaku, merepotkan sekali" gumamnya sambil mencoba menghubungi ponsel Adit.
"Iya hallo.."Terdengar suara dari telpon.
"Pin kamarnya berapa? aku tak bisa membukanya" celetuk gadis itu saat ADit sudah mengangkat ponselnya.
"Oh ternyata ini nomor istriku.." Ucap Adit lagi
"Jadi berapa pinnya?" Tanya Dania lagi kesal.
"Ulang tahunmu" Ucap Adit lagi.
"Apa.."
"Iya kodenya tanggal kelahiranmu" Ucap Adit lagi, Dania sempat terdiam mendengarnya, namun ia mencoba menekan tombol passwordnya, dan benar saja pintu itu terbuka.
"Iya aku sudah membukanya" Ujar Dania kemudian mematikan ponselnya.
Dania membuka pintu dan masuk ke kamar Adit namun ia sangat terkejut hingga membuatnya mematung.
"Apa ini, ada apa dengan semua ini" gumamnya, Ia melangkahkan kakinya untuk masuk lebih dalam, di sana ia melihat fotonya memenuhi tempat itu, foto-foto saat ia masih tinggal di rumah keluarga Hermawan dan foto-foto saat ia sudah meninggalkan tempat itu, foto-foto saat ia sudah pergi dari kehidupan Adit. Bahkan foto-foto itu diambil nyaris setiap hari dari 3 bulan pertama ia pergi karena tercantum tanggal di setiap foto, namun setelahnya tak ada foto-foto lain.
"Apa ini, jadi dia sudah tau aku dimana sejak lama, dan dia tak pernah menghampiriku.." gumamnya sambil menyentuh foto-foto itu. Dan kamar itu juga sudah di hias dengan bunga-bunga mawar kesukaannya, di balkon juga sudah di siapkan meja dengan cake di atasnya yang dihiasi lilin namun belum di nyalakan.
__ADS_1
"Apa ini....." ucapnya nyaris menangis. Tak lama Adit masuk ke kamar itu. Ia memeluk tubuh Dania dari belakang dengan lembut, dan berbisik lembut id telinga gadis itu.
"Selamat ulang tahun Dania, selamat ulang tahun istriku". Dania berbalik mengarahkan tubuhnya ke ke arah Adit, hingga mereka berhadapan, saat itu Dania sudah meneteskan air matanya.