
"Tuan, bagaimana kondisi anda sekarang?" Ujar Pak Hans saat mendapati majikannya itu sudah terbangun.
"Ahhh, kepalaku masih pusing, aku sudah muak dengan pengobatan dan perawatan ini," Ujar Adit sambil memijat-mijat ringan keningnya.
"Anda harus kuat tuan, meski berat ini harus dilakukan, jika tidak kondisi anda akan drop lagi" Uajr Hans lagi.
"Kau bawel sekali hans, berapa lama lagi aku harus menunggu" Adit
"Sekitar sejam lagi tuan, tim medis sedang menyiapkan kamar untuk perawatan anda." Hans
"Ah lama sekali mereka kerjanya, percuma aku bayar mahal-mahal rumah sakit ini" Decak Adit kesal sambil memijat-mijat lagi keningnya.
"Apa anda tidak akan memberitahukan ini pada nyonya besar tuan?" Hans
"Kau jangan menambah beban pikiranku lagi Hans, kau tau sendiri oma seperti apa, yang ada oma kepikiran dan sakit" Adit
"Tapi ii sudah dua tahun sejak anda menjalani pengobatan.."Hans
"Aku akan baik-baik saja, jadi hentikan ocehanmu itu" Adit.
"Lalu nona Dania, apa anda juga tidak akan memberitahu nona Dania" Hans
"Jangan....jangan biarkan dia tau apa yang aku alami, aku tak ingin dia merasa bersalah, bukan itu yang ku inginkan darinya." Adit
"Baik tuan, saya mengerti." Hans
"Kau pergilah ke kantor" Ujar Adit
"Tapi siapa yang akan berjaga disini tuan jika saya ke kantor?" Hans
"Aku baik-baik saja, dan lagi banyak perawat disini yang akan menjagaku, ada yang harus kau lakukan.."Adit
"Apa itu tuan.." Hans
"Cari tahu hubungan Dania dan pria itu, apakah memang mereka telah menjalin hubungan dan mereka...." Adit terdiam tak melanjutkan ucapannya, ia kesal setiap membayangkan Dania bersama pria itu.
"Pria itu?" Hans
"Apa kau sudah semakin tua Hans, iya pria itu, pria yang pergi bersamanya" Adit
"Maksud anda tuan Kevin?" Hans
"Iya siapa lagi, dan cari tau detail tentang pria itu" Adit
"Baik tuan, kalau begitu saya undur diri dulu" Hans
"ya, pergilah." Adit, pak Hans pun pergi dari ruangan itu dan meninggalkan Adit sendiri.
"Dania........dania....dania...., akh aku benar-benar merindukanmu, aku ingin memelukmu sekarang disini, apa yang sedang kau lakukan sekarang, apa kau memikirkanku walau hanya sebersit. Sepertinya aku benar-benar akan gila jika kau benar-benar bersama pria itu" gumam Adit dalam hati.
__ADS_1
.........
Di kantor Dania memikirkan kata-kata Andine menegani Adit. memang aneh jika Adit berada di kota ini dan bukan di pusat, dan sejak kapan Adit tinggal di kota ini, benarkah semua hanya kebetulan atau memang Adit sudah mengetahui keberadaannya.
"Dania..dania..." Panggil Andine
"Iya kenapa kak" Dania
"Ada telpon dari bagian HRD, kamu di tunggu di ruang meeting di lantai 2" Andine
"Aku, hanya aku aja kak?" Dania
"Iya cuma kamu doang tadi yang dibilang, ya udah buruan gih, katanya urgent" Andine
"Ya udah aku pergi dulu ya" Dania.
"Ada apa ya, sepertinya gak ada urusan bagian HRD manggil aku" gumam Dania dalam hati.
"Permisi....saya Dania" Dania
"Masuklah" Terdengar suara dari dalam.
"Pak Hans" Seru Dania saat menyadari sosok yang ia temui.
"Selamat siang nona Dania, senang bertemu dengan anda lagi."Ujar pak Hans ramah.
"Silakan duduk nona" Ujar pak Hans mempersilakan duduk, Dania pun duduk di kursi yang berseberangan dengan pak Hans.
"Mungkin anda sedikit tidak nyaman bertemu dengan saya, tapi saya harus menyampaikan sesuatu pada anda nona" Ujar pak Hans sopan.
"Seperti yang bapak duga, saya memang tidak nyaman jika apa yang bapak ingin bahas adalah tentang masalah pribadi saya, tapi jika ini berkaitan dengan pekerjaan saya akan sangat menghormati anda." Ujar Dania lagi.
"Mohon maaf jika saya mengecewakan anda nona, tapi yang ingin saya bahas memang tidak ada kaitannya dengan masalah pekerjaan, tapi ini mengenai tuan Adit". Ujar pak Hans lagi, Dania menarik nafas dalam, ia mulai tak nyaman berada di ruangan itu dengan pak Hans.
"Mohon maaf pak Hans, tapi saya banyak pekerjaan yang harus di selesaikan, jika memang ini tidak ada kaitannya dengan pekerjaan saya, saya mohon undur diri lebih dulu" Ujar Dania, kemudian itu bergegas meninggalkan kursinya.
"Saat anda pergi dua tahun lalu, tuan Adit telah kehilangan harapannya untuk menjalani hidup" Ujar pak Hans yang membuat Dania menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya ke arah pak Hans.
"Apa menurut anda saya juga baik-baik saja?" Ujar Dania dengan nada menahan amarah.
"Mohon maaf nona, saya tidak bermaksud menyinggung anda, saya tau anda juga sulit menghadapi ini, tapi saya hanya ingin memohon pada anda." Ujar pak Hans, Dania yang mendengar itu hanya diam sambil mengepalkan jarinya menahan marah.
"Bisakah anda kembali pada tuan Adit" Ujar pak Hans lagi.
"Apa dia meminta anda untuk membujuk saya?" Dania
"Tidak nona, tuan bahkan tidak mengetahui ini" Ujar pak Hans sambil berjalan mendekat pada Dania.
"Jika anda pergi dari Tuan untuk ke dua kalinya, mungkin tuan tidak akan bertahan" Ujar Hans lirih.
__ADS_1
"Apa maksud anda pak Hans.."Tanya Dania kembali.
"Jika anda ingin melihat tuan Adit, anda bisa mengunjunginya di Rumah Sakit Royal Family, jika anda mau saya akan mengantarkan anda sekarang" Hans.
"Apa maksud anda pak Hans, kenapa Adit berada di Rumah Sakit?" Dania
"Saya akan menjelaskan pada anda apa yang terjadi jika anda mau ikut bersama saya kesana sekarang" Hans.
Dania tak mengerti apa maksud Hans, dan ia berpikir pak Hans tak mungkin berbuat sejauh ini jika itu hanya kebohongan, namun kemarin ia melihat Adit baik-baik saja, jadi apa yang sebenarnya terjadi" gumam Dania dalam hati.
"Saya akan ikut dengan anda, tapi bukan berarti saya akan kembali pada Adit" Dania
"Baik nona, silakan" Ujar pak Hans sambil memberi arahan.
.......
Tak lama mereka mengemudi, mereka tiba di sebuah Rumah Sakit, langkah Dania terhenti, ada perasaan bingung juga takut yang ia rasakan.
"Silakan nona...." Ujar pak Hans sambil menunjukan jalan dan Dania mengikuti.
"Tuan ada di ruangan ini nona" Ujar pak Hans sambil menunjuk satu ruangan. Dania berjalan perlahan mendekati ruangan itu, saat berada di depan pintu ruangan itu, Dania terkejut melihat Adit sedang kesakitan dengan tindak perawatan yang sedang ia jalankan. Dania sangat terkejut dengan apa yang sedang ia lihat.
"bagaimana bisa....apa yang sebenarnya terjadi pak Hans, kemarin dia, dia baik-baik saja, apa yang terjadi padanya?" Tanya Dania dengan nada kuatir, tangannya mulai gemetar dan suaranya terdengar lirih.
"Tuan Adit sudah menjalani ini selama dua Tahun setelah kepergian anda.." Ujar pak Hans. Dania terduduk di kursi depan ruangan.
"Ta....tapi.." Dania.
"Maafkan saya nona, saya tak seharusnya memberitahu anda tentang ini, karena tuan Adit pun tidak menginginkan itu, tapi saya tak sanggup melihat tuan Adit seperti ini terus."Ucap pak Hans sambil duduk di sebelah Dania.
"Apa Adit kesini juga karena dia tau aku berada di kota ini" Dania
"Benar nona, tuan sudah mengetahui itu sejak dua tahun lalu..."Hans. Dania menoleh ke arah Hans.
"Jika dia sudah mengetahui aku dimana, kenapa dia tidak pernah datang sebelumnya..." Dania
"Itu karena tuan melihat anda bersama tuan Kevin...tuan mengira anda dan tuan Kevin sudah bersama, dan sejak itu tubun tuan Adit drop" Hans
"Maksudmu? dia mengira aku dan kak Kevin?" Dania
"Benar, nona. Saat itu tuan sangat terpukul, ia melampiaskan semuanya pada pekerjaan hingga akhirnya jatuh sakit, dan tubuh tuan tidak bisa merima semua asupan makanan, hingga akhirnya tuan hanya mengkonsumsi, obat nutrisi untuk menggantikan asupan makanan, namun efeknya tuan harus melakukan pencucian darah secara rutin, karena pil nutrisi itu di konsumsi secara berlebih hingga menjadi racun dalam darah, itu kenapa setiap bulannya tuan Adit menjalani perawatan seperti ini" Ujar pak Hans menjelaskan. Dania menggenggam erat jemarinya, ia berusaha keras agar air matanya tidak jatuh.
"Jadi apa yang ingin kau katakan padaku?" Tanya Dania
"Kesehatan tuan Adit di pengaruhi oleh emosinya, saya hanya ingin memohon pada anda, bahkan jika anda tak bisa kembali bersama tuan, bisakah anda tetap bersikap baik padanya, agar emosinya tetap stabil, karena jika terus menerus seperti ini, tubuh tuan tidak akan bertahan. " Ujar pak Hans. Dania terdiam mendengarnya, pikirannya sekarang sedang campur aduk, dadanya serasa sesak..."
"Aku akan kembali ke kantor sekarang" Ujar Dania lirih sambil beranjak dari tempatnya duduk.
"Nona..." Ujar pak Hans memohon, namun Dania langsung berlari pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1