
Siang itu, Adit beridiri koridor Rumah Sakit, ia mengantuk antukan kepalanya ke dinding, perasaannya kini kembali campur aduk, mengingat reaksi Dania tadi saat ia terbangun.
"Astaga tuan apa yang anda perbuat, anda bisa melukai diri anda sendiri jika seperti itu" ungkap pak Hans begitu melihat sosok yang ia cari-cari sedari tadi.
"Pak Hans..." Ucap Adit lemah.
"Mengapa anda seperti ini tuan" tanya pak Hans dengan raut wajah kuatir.
"Aku tak apa, ada apa kau mencariku Hans?" Tanya Adit kemudian.
"Dokter ingin berbicara dengan anda tuan" Jawab pak Hans masih dengan raut wajah kuatir.
"Baiklah, aku akan kesana, dan bagaimana oma?"
"Nyonya sudah tiba di rumah Tuan, dan menanyakan anda dan nona Dania"
"Baiklah, aku mengerti, kau boleh pergi" Ucap Adit lagi.
........
"Selamat siang bapak Adit, silakan duduk." Sapa Dokter yang merawat Dania.
"Siang dok, terima kasih" ucap Adit sembari duduk di hadapan dokter tersebut.
"Perihal keadaan ibu Dania saat ini, kemungkinan terbesar adalah ingatanya yang dahulu sudah kembali, namun sepertinya akibat luka di kepala ibu Dania, kemungkinan ingatan setelah kecelakaan pertama terjadi ibu Dania justru melupakaannya, untuk kasus seperti ini ada beberapa kasus yang cukup rumit, karena sifatnya bukan psikologi kejiwaan si pasien tersebut, namun untuk kasus ibu Dania ada sedikit perbedaan, dan ini baru pertama kali saya tangani setelah bertahun tahun saya menjadi dokter, jika di kasus lain kita bisa menemukan cairan di otak yang mengganggu sistem kerja otak, untuk kasus ibu Dania sedikit berbeda."
"Maksud dokter""
"Dengan kata lain, yang saat ini di butuhkan ibu Dania bukan lagi tindakan medis, tapi mungkin lebih kepada psikolog, karena sepertinya yang terganggu bukanlah sistem kerja otak tapi kejiwaan daripada ibu Dania sendiri".
"Saya tak mengerti maksud dokter, sebelum terjatuh istri saya baik-baik saja, dia tertawa, tak ada yang salah dengan kejiwaannya, tapi sekarang dokter mengatakan bahwa istri saya gila begitu!" Ucap Adit dengan nada emosi.
"Saya mohon maaf bapak Adit, tolong anda jangan berpikir seperti itu, saya tidak mengatakan ibu Dania gila, saya hanya mengatakan bahwa kejiwaan ibu Dania sedikit terganggu, bisa jadi karena adanya ingatan yang tidak bisa di terima oleh ibu Dania sendiri". Ucap Dokter tersebut mencoba meredakan emosi Adit. Adit menarik nafas dalam-dalam pikirannya sedang berkecamuk seolah isi kepalanya ingin mencuat keluar.
__ADS_1
"Lalu apa yang harus saya lakukan dokter"Tanya Adit dengan nada sendu.
"Saran saya, bapak bisa bawa ibu Dania ke psikiater, mungkin itu adalah pilihan yang lebih tepat." Jelas dokter tersebut.
"Saya akan coba pikirkan dokter, saya permisi sebentar" ucap Adit lagi dengan nada yang berat.
Saat berada didepan pintu air matanya tak terasa menetes, ada perasaan bersalah yang besar berkecamuk di dalam dadanya.
"Maafkan aku Dania" Ucapnya lirih.
......
Ruang Rawat Dania.
Dania berdiri menatap ke arah jendela, matanya menatap fokus keluar, melihat burung-burung yang berterbangan kesana kemari.
"Sepertiya menjadi burung jauh lebih membahagiakan, tak perlu memikirkan apapun, tak perlu menjaga apapun, hanya terbang kesana kemari kemanapun kau mau, tidak seperti ini rasanya ingin mati" gumamnya dalam hati sambil mengerutkan tangan di dadanya.
"Apa kau sudah baikan" Terdengar suara di belakangnya yang membuatnya sedikit terkejut karena tak menyadari ada seseorang yang masuk.
"Ya...Kau benar, aku mengatakan itu dulu padamu, tapi sekarang aku hanya ingin disini, jadi apa kau baik-baik saja, apa ada yang terasa sakit" Ucap Adit lagi dengan nada kuatir.
"Itu bukan urusan anda, jika anda memang mencoba peduli, maka anda lebih baik pergi!" Ucap Dania dengan nada emosi.
Adit menarik nafas dalam-dalam.
"Aku tau kau akan berkata seperti itu, tapi aku datang bukan untuk di usir, mungkin kau lupa, tapi aku masih suamimu, dan kau istriku."
"Bukannya anda tak mau mengakui itu!"
"Iya kau benar, aku mengatakan itu dulu padamu, tapi perjanjian kita masih berlaku, apa kau juga lupa tentang itu" Ucap Adit dengan nada berat mencoba menahan emosinya yang meluap.
"Ah... ada benar, maafkan saya tuan, saya melupakan peran saya" Ucap Dania dengan nada tinggi. Mendengar itu Adit hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam lagi.
__ADS_1
"Apa kau lapar?" Ucapnya kemudian.
"Itu bukan bukan urusan anda Tuan, saya bisa mengurus diri saya sendiri, atau sekarang anda mempunyai hobi baru mengurusi perut pelayan anda?" Ucap Dania lagi ketus.
"Ya, itu juga boleh jika kau menginginkannya" Ucap Adit pada Dania. Dania yang mendengar hal tersebut pun sedikit terentak kaget melihat sikap dan respon Adit yang berbeda.
"Sepertinya anda sedikit berubah tuan" Ucap Dania kembali dengan nada mengejek.
"Kau pun sepertinya cukup berubah, seingatku dulu kau tak pernah berkata kasar seperti ini" Ucap Adit lagi.
"Jika anda ingin seseorang tetap baik setelah di perlakukan sesuka hati oleh anda, sepertinya anda perlu memeriksa otak anda, karena hidup tidak selalu berpusat pada anda." Balas Dania lagi pada Adit.
".......Tapi sepertinya hidupku telah berpusat padamu" Ucap Adit kemudian sambil menatap ke arah Dania dengan tatapan yang sendu. Dania yang melihat itu pun mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Sepertinya otak anda benar-benar sakit, tapi mohon maaf saya tak bisa lagi meladeni anda, saya ingin beristirhat sekarang"
"Baiklah, kau beristirahatlah, aku akan pergi dulu sekarang, dan kembali lagi nanti" Balas Adit.
"Anda tak perlu datang!"
"Tapi aku ingin datang" Ucap Adit lagi
"Saya bilang anda tak perlu datang tuan, apa anda tak bisa paham apa yang saya ucap...." belum sempat Dania menyelesaikan ucapannya, Adit mengecup bibir Dania dengan paksa, yang sontak membuat gadis itu sangat terkejut dengan apa yang baru saja di lakukan oleh pria dihadapannya itu.
"Apa yang sedang anda lakukan! Teriak Dania kemudian saat Adit sudah melepaskan ciumannya.
"Aku akan melakukannya lagi jika kau tetap berusaha melarangku untuk datang" Ucap Adit tegas sambil menghapus bekas air liurnya dari bibir Dania yang kemudia tangannya di tepis kasar oleh gadis itu.
"Apa anda sudah gila!" Teriaknya lagi.
"Ya...sepertinya aku sudah mulai gila" Ucap Adit lagi. Melihat Dania yang berdiri dengan penuh emosi di hadapannya, membuat Adit merasa sedikit bersalah.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang, kau beristirahatlah sekarang, dan jangan memasang ekspresi seperti ini untukku" ucap Adit sambil menyentuh kening Dania dengan jari telunjuknya, yang membuat Dania semakin terkejut dengan tingkah pria di hadapannya itu.
__ADS_1
"Aku pergi sekarang" Ucap Adit sambil berlalu pergi dari ruangan Dania.