
Sore itu kami bersiap ke Panti Asuhan setelah paman tiba dari kantor. Aku sedikit gugup juga senang, aku tak tau nantinya bagaimana harus bersikap, dan bagaimana aku menjelaskan tentang pernikahanku dengan paman dihadapan kepala panti.
Tak beberapa lama mobil yang kami kendaraipun berhenti di sebuah tempat, ku buka kaca jendela mobil, ku amati sekitarku. Ya, aku merasa sedikit familiar dengan tempat itu meski aku tak bisa mengingatnya.
"Apa kau gugup?" Sapa suara yang sudah tak asing lagi bagiku.
"Sedikit..." Ucapku ragu. Dia membelai rambutku dengan lembut.
"Tak apa, semua akan baik-baik saja" ucapnya lagi menenangkan. Kami turun dari mobil, baru sesaat aku berdiri seseorang sudah berteriak sangat kencang dan menghampiriku.
"Kak Dania!!!" Teriaknya dan menghempas tubuhnya memelukku erat. Melihat hal itu Aditpun sedikit terkejut begitupun aku.
"Kak, kenapa kakak tak ada kabar? maafkan aku karena bertindak bodoh saat itu" Ucapnya sambil menangis dan memelukku lebih erat.
"A..aku tak bisa bernafas " Ucapku dan ia pun perlahan melapaskan pelukannya.
"Perkenalkan saya Adit" ucap paman sambil menyodorkan tangannya memperkenalkan diri.
"Saya Arya adiknya kak Dania" Ucap pria yang tadi memelukku, dan saat itu aku tau bahwa lelaki itu adalah adikku.
"Jadi kamu Arya, Adikku?" Tanyaku padanya, ia terlihat sangat terkejut dengan ucapanku dan memandang Adit dengan penuh rasa tanya.
"Saya akan jelaskan semuanya nanti, bisakah kita masuk kedalam dulu" ucap Adit memahami arti tatapan Arya. Arya yang sedari memegang tanganku pun melepaskan tangannya, dan menatapku dengan tatapan sedih. Ia mengarahkan kami untuk masuk.
"Masuklah kak, ini rumah kita" Ucapnya dengan sendu.
........
"Dania!!!" Teriak para suster dan anak-anak saat melihat sosokku memasuki ruangan. Mereka langsung berlarian menghampiriku.
"Kemana saja kau bocah nakal" Ucap salah satu suster sambil menangis. Melihat itu, Aditpun angkat bicara.
"Mohon maaf semua, saya Adit, saya adalah suami Dania dan saat ini Dania sedang kehilangan ingatannya sehingga Dania tak bisa mengenali anda sekalian disini". Mendengar itu semua kegaduhan karena kedatanganku tadi menjadi hening.
Kepala panti yang sedari tadi memelukkupun melepaskan pelukannya dan mengarahkan pandangannya pada Adit, Ia sedikit terkejut saat menatap Adit, seolah ia mengenali sosok yang ada dihadapannya itu. Namun ia kembali bersikap tenang.
"Masuklah kedalam, kita bicarakan semuanya di dalam" Ucap kepala panti. Kami pun masuk ke ruangan itu, dan akhirnya aku benar-benar menyakini merekalah keluargaku saat ku dapati fotoku berada ditengah-tengah mereka. Ku dekati foto itu, kulihat diriku saat itu sedang tertawa bersama Arya dan anak-anak lainnya. Kepala panti pun mendekatiku.
__ADS_1
"Aku senang melihatmu baik-baik saja" Ucapnya lagi sambil membelai wajahku dengan lembut.
"Tadi anda mengatakan anda adalah suami Dania? Saya dan mungkin kami semua terkejut mendengarnya. bisa anda menjelaskan semua ini" Tanya kepala panti yang diarahkan pada Adit.
"Saya mohon maaf atas semuanya karena saya tau ini terlalu tiba-tiba, tapi benar saya adalah suami Dania. Dan kami sudah menikah sejak saat Dania pergi dari panti ini, sejujurnya ini adalah pernikahan yang diatur oleh oma saya." Ucap Adit menjelaskan.
"Apa oma nak Adit adalah nyonya Hermawan?" Tanya kepala panti yang membuat Adit sedikit terkejut karena ternyata kepala panti sudah mengenal omanya.
"Iya benar suster" Jawab Adit lagi,
"Dia benar-benar menepati janjinya"gumam kepala panti pelan.
"Apa maksud anda tanya Adit sedikit bingung dan penasaran".
"Suster Rita, bisa tolong ajak Dania berkeliling panti dan bertemu anak-anak, mereka pasti senang" ucapnya seolah memberi kode untuk membawa Dania keluar.
"Baik ibu kepala, Dania sayang ayo kita bertemu adik-adikmu" sapanya dan keluar bersama Dania.
"Jadi, apa maksud anda barusan".
"Apa ini berkaitan dengan ayah Dania?"
"Sepertinya anda sudah mengetahuinya, apa Dania juga sudah mengetahuinya?"
"Saya baru saja mengetahuinya dan Dania masih belum tau apapun, bisa anda tolong jelaskan maksud perkataan anda tentang janji itu, karena oma belum memberi tahu saya apapun."
"Jika nyonya Hermawan belum memberi tahu anda, itu artinya saya juga tidak berhak untuk memberitahu anda tentang hal itu".
"Suster, saya mohon tolong beritahu saya tentang semua ini, karena ketidak tahuan saya itu, saya justru menyakitnya berulang ulang kali, karena ketidak tahuan saya, saya mengecapnya menjadi wanita yang..." Ucap Adit terhenti. Melihat itu kepala panti menyadari adanya kesalahpahaman yang sempat dilakukan Adit yang mungkin menghimbas pada Dania.
"Apa anda tau kalau nak Adit dan Dania pernah bertemu di masa lalu?" Ucap kepala panti sambil menatap ke arah Adit, mendengar perkataan itu, Adit hanya menggeleng tak mengerti.
"Saat kecelakaan itu terjadi, nak Adit dan Dania sama-sama kehilangan Ayah kalian. Dania sempat mengalami syok akibat kecelakaan itu, tak ada yang bisa mendekati Dania termasuk nyonya Hermawan, beliau melakukan semua cara untuk membuat Dania bisa merasa hidup kembali namun semuaya sia-sia, sampai saat Dania bertemu dengan nak Adit. Entah karena merasakan kesedihan yang sama akhirnya nak Adit dan Dania menjadi dekat, nak Adit menjadi kakak pelindung bagi Dania, saat itu kalian sangat dekat, bahkan Dania kecil dulu sempat berkata ingin menikahi anda jika sudah besar nanti, dan akhirnya sekarang ucapnya sudah menjadi kenyataan."
"Kami dulu dekat? tapi kenapa saya tak bisa mengingatnya, Dania mungkin tak bisa mengingatnya karena Dania masih sangat kecil, tapi saya sudah 15 Tahun saat kecelakaan itu dan saya tidak mengingat apapun tentang Dania."
"Itu adalah cerita yang berbeda, karena saat itu nak Adit tak mengetahui alasan kematian ayah Dania". Adit sedikit terkejut mendengarnya, namun ia pun tetap memilih mendengarkan.
__ADS_1
"Anda bisa mengatakannya, karena saya sudah tau bahwa ayah sayalah yang menyebabkan kecelakaan itu."
"Sejauh mana nak Adit mengetahuinya?"
"Saya mengetahui bahwa jantung yang ada di tubuh saya adalah milik ayah Dania." Ucap Adit Ragu.
"Iya, karena alasan itulah nak Adit tak bisa mengingat Dania, karena saat itu nak Adit terlalu muda untuk menerima kenyataan bahwa figur yang dikagumi oleh Dania adalah sosok penyebab kematian ayahnya."
Mendengar itu Adit terdiam, dan tubuhnya menjadi kaku, ia tau, bahwa kenyataan itu tak bisa ia hindari sekarang, saat ia menjadi takut dengan kenyataan, tentang bagaimana Dania mengetahuinya nanti, apakah Dania masih mau menerimanya.
"Tapi, saya harap nak Adit tidak lagi menyalahi diri sendiri, karena itu adalah sebuah kecelakaan, tak ada yang mengingikan hal itu terjadi, itu bukan kesalahan siapapun, itu hanya garis hidup yang sudah di tentukan oleh Tuhan."
"Tapi apa dia akan menerima saya jika dia mengetahui ini semua" ucap Adit dengan nada sedih juga bersalah.
"Bukankah ini takdir? dan sebuah kesempatan dari Tuhan ? Takdir bertemu kembali dan kesempatan untuk meminta maaf dan memberi maaf".
"Apa saya pantas untuk menerima maaf darinya"
"Jika Dania membuat kesalahan di masa lalunya, yang membuat nak Adit terpukul dan sedih apakah nak Adit akan memaafkannya?"
Adit terdiam sesaat namun dengan yakin ia mengatakan " Saya akan tetap memaafkannya".
"Kenapa?"
"Karena saya menyayanginya, dan saya menerima semua kekurangannya"
"Lalu apa bedanya nak Adit dengan Dania?"Ucap kepala panti yang membuat Adit terkejut dan memahami maksud dari pertanyaan ibu panti itu dan ia pun tersenyum.
"Terima kasih ibu kepala" Ucapnya.
"Saya senang, Dania akhirnya bertemu dengan orang yang menyayanginya dan yang akan melindunginya, saya harap nak Adit bisa terus menyanyangi Dania seperti ini.
"Saya jauh lebih senang bisa bertemu dengan Dania, karena berkat Dania saya bisa mengenal apa itu cinta dan ketulusan.
__ADS_1