
"Kak Kevin..." Sapa Dania di pagi hari saat Kevin kembali ada di depan rumahnya.
"Ayo kita berangkat gadis kecil" Kevin
"apa kakak, akan terus mengantarku? itu tak perlu, nanti kakak bisa terlambat" Dania
"Tak apa, laginya jam masuk kita kan berbeda, aku bisa mengantarmu dulu lalu ke kantorku" Kevin
"Tapi kan itu merepotkan kakak, dan aku juga bisa naik bis kan, halte juga gak jauh dari sini" Dania
"Jadi kau ingin menolak niat baikku?" Kevin
"Bukan gitu, tapi kan...." Dania
"Ya udah gak usah ada tapi-tapian, lagi juga kan aku yang mau, ya udah ayo berangkat nanti kita berdua bisa telat" Ucap Kevin sambil membukakan pintu.
"Apa kau sudah sarapan?" Tanya Kevin saat mereka sudah ada di dalam mobil.
"Aku akan sarapan di kantor, disana ada toko roti yang lumayan enak" Ucap Dania kemudian
"Ini, ambillah, tadi saat kesini aku mampir ke toko roti, dan aku membeli cukup banyak, kau makanlah?" Ucap Kevin sambil menyodorkan kotak berisi roti.
"Lalu kakak makan apa?" Dania
"Aku tadi sudah memakannya, kan aku tadi bilang belinya banya, dan ini sisanya untukmu?"Kevin
"Hmmm, jadi aku di kasih sisa nih?" Ucap Dania sambil tertawa, namun ia tetap memakan roti pemberian Kevin. Kevin pun ikut tertawa bersamanya.
"Gimana kerjaanmu? lancar?" Kevin
"Kerjaan lancar-lancar aja, orang-orang disana juga sangat baik, dan tak ada senioritas disana, kakak tau kan kebanyakan perusahaan selalu menzolimi karyawan baru, tapi di kantorku tak seperti itu, mereka justru mendukung dan mau mengajariku hal-hal baru" Jawab Dania sembari memakan rotinya.
"Baguslah kalau begitu.....lalu bagaimana dengan Adit? maksudku, kaliankan ada di satu perusahaan yang sama...apa itu tidak mengganggumu?" Tanya Kevin ragu-ragu.
__ADS_1
"Adit,...awalnya sulit karena dia selalu mendekatiku, tapi sepertinya itu tidak akan terjadi lagi." Jawab Dania seadanya. Mendengar Dania berkata Adit berusaha mendekatinya, disaat itu juga, Kevin merasa marah namun ia berusaha menyembunyikan kekesalannya itu dihadapan Dania.
"Tapi bagaimana kau yakin dia tidak akan mengganggumu lagi?" Tanya Kevin lagi penasaran.
"Hmmm....ya karena sepertinya begitu, mungkin dia sudah memahami situasi kami yang memang tak bisa bersama" Jawab Dania sambil meletakkan rotinya, sepertinya dia sudah enggan untuk memakannya, karena ia teringat akan sikap Adit yang dingin padanya saat meeting kemarin, bukan hanya dingin ia juga berkata ketus pada Dania, sesaat suasana hatinya merasa kesal mengingat kejadian itu.
"Ya, itu bagus jika dia tak mengganggumu lagi, jika kau tak nyaman disana, kau bisa keluar dari perusahaan itu, masih banyak perusahaan lain yang mau menerimamu". Kevin
"Tapi meskipun begitu, aku tak ingin urusan pribadi dan pekerjaanku di campur aduk, kakak tak perlu kuatir dan lagi dia tak akan melakukan hal yang membuatku berada dalam kesulitan". Dania.
"Hmmm....begitu ya" Ucap Kevin seadanya.
"Ah kak Kevin, berhenti disini aja, jangan di lobby?" Ucap Dania saat mereka sudah berada di dekat kantor Dania.
"Kenapa? bukannya di lobby lebih nyaman.." Tanya Kevin sambil menghentikan laju mobilnya.
"Hmmm itu, gpp kak, aku ingin berjalan sedikit sekalian olahraga" Ucap Dania kemudian ia merapikan barang-barangnya dan bergegas keluar.
"Kenapa kak?" Ucap Dania menoleh pada Kevin
"Nanti aku akan menjemputmu, kau jangan pulang sendirian" Ucap Kevin
"Kak Kevin gak usah, aku bisa pulang sendiri, kakak jangan manjain aku dong, nanti aku gk bisa mandiri?" Ujar Dania.
"Tapi kau pulang kantor kan suka malem, bahaya loh anak perempuan jalan sendiri malem-malem, aku jemput nanti oke" Ucap Kevin kemudian.
"Kakak kenapa sih? aneh aja, biasanya juga aku pulang sendiri kok, kakak tenang aja, aku bisa jaga diri oke, aku ke pergi sekarang ya, jangan jemput aku, aku nanti pulang sendiri" Ucap Dania kemudian ia turun dari mobil Kevin. Setelah gadis itu keluar, Kevin melampiaskan amarahnya dengan memukul-mukul alat kemudi.
"Kapan sih kau akan sadar dengan perasaanku Dania? aku sudah menunggu dua tahun agar kau bisa membuka hatimu, dan sekarang pria itu kembali lagi disisimu, apa kali ini aku juga akan kalah darinya?" gumam Kevin dalam hati.
.......
Saat di lobby Dania celingak-celinguk menoleh ke kanan dan ke kiri, setelah cukup yakin ia langsung menuju lift, di sana juga ia tetap gelisah dan menoleh ke kanan dan ke kiri saat menunggu lift terbuka.
__ADS_1
"Akh...." Teriaknya sambil memukul-mukul seseorang dengan tasnya, saat tiba-tiba lengannya di tahan oleh seseorang.
"Dania...stop ini ak, dania..." Teriak Andine yang terkejut dengan sikap Dania yang langsung memukul-mukulnya dengan tas.
"Kak andine maaf...aku kira siapa, kakak gak papa kan, ada yang sakit gak?" Ucap Dania saat sadar sosok yang ia pukuli.
"Awww, ada apa denganmu, tiba-tiba main pukul aja, sakit tau" Ucap Andine sambil menggerutu.
"Maaf kak, aku panik, soalnya kakak tiba-tiba narik tangan aku, jadi aku panik" Ucap Dania menjelaskan sambil memperhatikan Andine yang kesakitan.
"Ya ampun Dania, aku kan niatnya mau bareng sama kamu, jadinya aku tarik tangan kamu" Ucap Andine lagi masih sambil menggerutu sakit.
"Iya kak, maaf ya, soalnya aku kira siapa, maaf ya kak sekali lagi, tadi aku benar-benar panik" Jelas Dania lagi.
"Ya udah gpp, lagi apa sih yang kamu takutin, ini kan di kantor, emang siapa yang berani jahatin kamu" Ucap Andine sambil masuk ke dalam lift bersama Dania saat lift sudah terbuka.
"Justru karena di kantor aku jadinya panikan, karena ada pria itu (maksudnya Adit)" gumam Dania dalam hati sambil mengingat perlakukan adit kemarin pagi padanya.
"Hei..bengok lagi, kamu aneh deh" Ucap Andine lagi.
"Hehe, gak kok kak, lagi inget sesuatu tadi" Dania
"Inget apa? pacar?" Andine. Mendengar ucapan Andine sontak wajah Dania memerah karena mengingat saat kemarin Adit menciumnya.
"aahh stop stop Dania, jangan memikirkannya" gumam Dania sambil menepuk nempuk pelan pipinya.
"Ihhh anak ini aneh banget hari ini" Ucap Andine saat memperhatikan Dania memukul-mukul pipinya, mendengar itu Dania menjadi salah tingkah.
"Ahhh....pak direktur gak masuk kantor, gak ada deh buat cuci mata?" gerutu Andine lagi.
"Emang pak direktur kemana kak?" Tanya Dania sedikit penasaran.
"Lah, kan kemarin aku udah bilang, si bos setiap bulan pasti seminggu tuh gak masuk, gak tau juga kenapa, mungkin balik ke kantor pusat kali ya, aku juga gak tau, tapi emang heran sih, direktur apalagi ownerskan biasanya ada di kantor pusat, ini malah ada di cabang kota kecil, apa dia mau coba move on ya dari kenangan mantan istrinya, aduh kasian banget sih si direktur cakep" Celoteh Andine di sepanjang koridor. Dania hanya mendengarkan, ia cukup penasaran dengan kata-kata Andine barusan, benar yang dikatakan Andine, untuk apa direktur berada di sini, di kota kecil, apa memang Adit sudah tau dia ada di kota ini sejak lama? tapi jika iya, kenapa ia tak pernah menghampirinya.
__ADS_1