
"Cinta bukan sekedar sajak yang indah yang menancap dihati seseorang, kemudian bersemayam disana, tapi cinta adalah suatu ikatan dimana kau rela jatuh ke dasar dunia yang paling hina hanya untuk bisa tetap bersama."
"Beberapa hari aku sudah menantimu terbangun dari ranjang putih ini, setiap pagi ku awali hari ku dengan manatap wajahmu yang sendu, ku genggam jemarimu agar kau tak merasa sendiri di ruang ini, terkadang aku teringat kala kita pertama kali bertemu. Dirumahku. Aku mengucapkan kata-kata yang tak pantas untuk kau dengar, aku bahkan tak pernah memberimu waktu untuk menjelaskan alasanmu menerima perjodohan ini. Ku bandrol kau dengan sebuah cap "Wanita yang dibeli dengan uang". Tapi kau hanya diam. Tak bersuara. Aku memilih menutup mata dan telingaku untukmu, setiap hari aku melihat ketulusanmu untukku, namun aku kembali pura-pura tak melihat, setiap hari ku dengar cerita tentang kelembutanmu, tapi lagi-lagi aku menutup telingaku. Aku bukan manusia tanpa hati atau pria tanpa perasaan, aku menyadari setiap waktu yang berlalu bersamamu perlahan menyentuh hatiku, perlahan kau merasuk di hatiku, tapi sekali lagi aku menolak hatiku sendiri. Aku terlalu takut untuk terluka. Aku terlalu takut di permainkan oleh perasaan. Aku takut. Tapi kali ini rasa takutku jauh lebih besar. Aku takut jika kau takkan bisa memaafkanku. Dan aku takut, jika aku tak punya kesempatan untuk mengatakan isi hatiku." Adit.
Seminggu telah berlalu saat Dania mendapatkan perawatan, namun sampai saat ini Dania belum kunjung sadar dari tidur lelap. Setiap hari tak hentinya Adit menjaga dan menemani Dania.
"Selamat pagi Dania, ini sudah hari ke-8 kau tertidur, ayo bangun gadis pemalas" Ucap Adit sambil membuka tirai kamar Rumah Sakit tempat Dania di rawat.
"Selamat pagi Pak Adit" Sapa seorang suster saat memasuki ruang itu.
"Pagi sus..." Adit.
"Saya akan membersihkan ibu Dania dulu ya pak Adit" Ucap Suster itu lagi.
__ADS_1
"Biar saya saja sus, saya yang akan membersihkannya" Ucap Adit sembari menerima handuk kecil dan sebaskom air hangat.
"baik pak Adit, ibu Dania pasti akan cepat bangun jika suaminya perhatian seperti pak Adit, panggil saya jika butuh bantuan apapun ya pak, saya permisi".
"Terima kasih suster". Adit
"Hmmm, gadis kecil, saatnya bersih-bersih" ucap Adit sambil membasuh wajah Dania.
"Kau berhutang banyak padaku, jika kau bangun nanti aku akan menagihnya padamu, jadi cepatlah bangun" ucap Adit lagi sembari menatap wajah Dania.
"Gadis kecil, apa kau mendengarku, kau baru saja menggerakkan jarimu" ucapnya girang sambil menekan tombol agar perawat dan dokter datang.
"Hei, ayo lakukan lagi, bangunlah" ucap Adit lagi.
__ADS_1
Kali inipun Dania menggerakan jarinya, Adit tersenyum senang, tanpa ia sadari air matanya sudah membasahi wajahnya.
"Dokter baru saja dia menggerakkan jari-jarinya buka hanya sekali" ucap Adit saat dokter masuk ke ruangan itu.
"Baik pak Adit, kami akan melakukan pemeriksaan, pak Adit tolong tunggu di luar sebentar.
"Tidak bisakah saja disini dok.." Adit
"Baiklah, tapi tolong bapak tunggu disana, agar para medis bisa melakukan tindakan".
"Terima kasih dokter" ucap Adit sambil berjalan menjauh.
"Ibu Dania, ibu bisa mendengar saya, jika ibu mendengar saya coba gerakan tangan ibu" ucap Dokter.
__ADS_1
"Ibu Dania, sekarang dengarkan saya, jika ibu bisa mendengar saya, coba buka mata ibu perlahan-lahan".
Selagi dokter memeriksa Dania, Adit tak henti berdoa untuk kesembuhan gadis itu. Ia berharap Dania akan bangun.