Aku dan Dirimu

Aku dan Dirimu
Ulang Tahun Dania IV


__ADS_3

"Apa...kenapa? apa kau tak suka? kenapa kau menangis?" Tanya Adit bingung. Dania menyeka air matanya dengan tangannya.


"Aku tak apa, aku akan kembali ke ruang depan" Ucap Dania kemudian ia berlalu tanpa menunggu respon Adit, namun Adit menarik lengan Dania dan memeluk tubuh gadis itu.


"Apa yang anda lakukan, lepaskan aku sekarang, Adit Hermawan?!" Teriak Dania sambil berontak ingin melepaskan pelukan Adit, namun dengan erat Adit memeluk tubuh gadis itu dan ia berbisik lirih di telinga Dania.


"Apa yang harus ku lakukan agar kau mau memaafkanku?... apa kau ingin aku mengembalikan jantung ayahmu? aku akan lakukan itu, tapi biarkan aku bersamamu untuk sesaat."


Mendengar itu jantung Dania seolah terhenti, ia tak merasa benci pada Adit, ia juga tak menyalakan pria itu atas semua yang sudah terjadi, namun hatinya masih begitu dipenuhi rasa bersalah anak terhadap ayahnya.


"Tolong berhenti sekarang...." Ucap Dania lirih. Adit perlahan melepaskan dekapannya dari gadis itu, ia menatap gadis itu dengan tatap lembut.


"Tolong hentikan semua ini..." ucap Dania lagi lirih menahan air matanya yang nyaris jatuh sambil menatap pria itu. Adit mengusap lembut wajah gadis itu, ia mendekatkan wajahnya pada Dania dan mengecup lembut kening, mata kanan dan kiri, mengecup pipi kanan dan kiri, mengecup hidung dan ia mengecup bibir lembut gadis itu itu, tak ada penolakan dari Dania saat Adit melakukan itu semua. Melihat tak ada respon penolakan pada gadis itu Adit memperdalam ciumannya, ia memiringkan kepalanya agar membuat gadis itu nyaman dan perlahan ia menerobos memasuki bibir Dania, ia memainkan lidahnya di dalam mulut gadis itu, dan secara tak sadar Dania membalas permainan Adit, ciuman mereka semakin dalam dan panas hingga Adit memindahakan ciumannya di telinga gadis itu, ke tengkuk dan meninggalkan kiss mark disana kemudian ia kembali ******* bibir Dania, Dania merasakan sensasi berbeda dari perlakuan Adit itu, ia mencoba melupakan  semua beban pikirannya, tentang Adit maupun ayahnya, ia ingin melupakan semua itu khusus di hari ini, di hari ulang tahunnya. Perlahan Adit menyelipkan jemarinya di sela kaos yang di kenakan Dania sembari ia tetap mencium bibir Dania, secara refleks Dania menahan jari Adit dengan tangannya, namun Adit tak menghiraukan itu, ia menekankan ciumananya dan menggiring Dania ke kasur. 


"Apa kau tak menginginkannya?" Tanyanya dengan suara yang berat. Dania menatap pria itu dengan tatapan lembut, ia kemudian mengalungkan lengannya di leher Adit dan mencium bibir Adit, mereka melepas rindu dan beban di sore itu, hingga Dania tertidur lelap di samping Adit. Adit menatap Dania yang sedang tertidur pulas di sampingnya dengan tatapan lembut. Ia mengecup kening gadis itu dan mendekapnya di pelukannya dan ikut terlelap.


Saat hari sudah malam, Adit terbangun karena suara dering telponnya, ia mencoba mencari-cari Hp nya dengan mata terpejam, namun ia tak menemukannya dan saat ia meraba sisi sebelahnya, ia juga tak menemukan apapun, Adit segera membuka matanya saat ia dapati tak ada apa-apa di sampingnya.


"Dania....kemana dia?" gumam Adit.

__ADS_1


"Dania....dania...kau dimana sayang?" Teriak Adit memanggil nama gadis itu, namun tak ada balasan apapun, ia segera merapikan dirinya dan mencari-cari Dania di setiap sudut apartemen itu, namun ia tak menemukan apapun, sampai ia melihat berkas-berkas yang pagi ini di bawa oleh Dania, ia menemukan secarik surat untuknya.


"Terima kasih karena masih mengingat ulang tahunku, dan terima kasih sudah menyiapkan semuanya untukku, aku tak membencimu, sama sekali tidak, aku hanya merasa bersalah sebagai anak yang tak berbakti pada orang tuanya, aku ingin berdamai dengan hatiku sendiri, tolong beri aku waktu untuk menerima masa lalu dan memaafkan diriku sendiri, aku mohon, jika saat itu aku sudah bisa menerima semuanya, dan jika kau masih mencintai dan menerimaku, aku akan kembali padamu, jadi aku mohon biarkan aku saat ini, dan kembalilah ke rumah, jangan paksakan dirimu disini, aku mencintaimu. Dania". Adit mendekap surat itu, dan ia tersenyum kecil. Ia meraih ponselnya dan mengirimi pesan pada Dania.


"Terima kasih, aku akan menunggumu pulang, jadi cepatlah pulang, karena aku tak tau sampai kapan aku bisa bertahan tanpamu. ADit" Setelah mengirim pesan pada Dania. Adit pun menelpon sekretaris kepercayaannya yaitu pak Hans.


"Iya tuan" jawab seseorang di telpon.


"Hans...aku ingin kembali ke kota XXX, tolong ku siapkan penerbangan untuk besok" Ujar Adit.


"Maksud anda, anda akan kembali pulang tuan?" Tanya pak Hans yang masih tak mengerti


"Iya aku ingin pulang, jadi tolong kau urus penerbangan untukku besok ya" Perintah Adit.


"Iya ini memang ada kaitannya dengannya, tapi ini bukan hal buruk seperti yang kau pikirkan" Adit


"Saya bersyukur jika itu bukan hal buruk tuan, saya akan segera menyelesaikan pekerjaan yang ada disini agar kita pulang tanpa beban tuan" Hans


"Tidak Hans, kau akan tetap disini, kau akan berada disini untuk menjaga dan melindunginya" Adit

__ADS_1


"Tapi tuan....bagaimana dengan anda" Hans


"Aku akan baik-baik saja, jadi kau harus menjaga Dania disana, karena jika dia terluka, aku akan terluka, jadi jagalah dia seperti kau menjagaku." Adit


"Baik tuan, jika itu memang keinginan anda tapi, ijinkan saya mencarikan seseorang yang bisa melindungi anda dimana pun saat saya tidak ada" Hans


"Ya terserah kau saja, terkadang kau jauh lebih cerewet dibandin oma" Adit


"Apa saya harus memberitahu kepulangan anda pada nyonya besar?" Hans


"Tidak usah, biar ini jadi kejutan untuk oma" Adit


"Baik tuan, saya mengerti" Hans


"Baiklah, tolong siapkan semuanya, dan ku percayakan Dania padamu, jangan kecewakan aku Hans" Adit


"Baik tuan, saya mengerti, saya akan menjaga nona Dania melebihi diri saya sendiri" Hans


"Aku percaya padamu" Adit.

__ADS_1


"Terima kasih tuan" Hans.


Adit mematikan telponnya dan ia tersenyum mengenang kejadian hari ini bersama Dania, di saat dia memiliki Dania seutuhnya sebagai seorang pria dan suami.


__ADS_2