
Tak lama setelah mengurus administrasi di Rumah Sakit, akhirnya Adit dan Dania tiba di kediaman Hermawan. Mobil berhenti tepat di sisi pintu masuk rumah, para pelayan sudah berdiri di sisi pintu untuk menyambut sang empunya rumah.
"Kita sudah sampai gadis kecil" sapa Adit saat melihat Dania yang masih kebingungan menatap sekitar rumah itu dengan perasaan takjub.
"Di..disini paman?" Ucap Dania tak percaya.
"Iya, disini adalah rumahmu, ayo turun" ucap Adit sembari membukakan pintu dan mengarahkan tangannya pada Dania, gadis itu masih terbengong tak pecaya, namun iya tetap menerima uluran tangan Adit.
"Aku benar-benar tinggal disini paman?"
"Iya, kenapa?? apa kau tak suka?"
"Bukan, ini...ini terlalu mewah, rumah ini benar-benar mewah"ucap Dania lugu,
"Hahaha, kau ini ada-ada saja, jika kau suka ayo kita masuk tuan putri" ucap Adit lagi membuat wajah gadis muda itu merona merah.
"Selamat datang kembali nona Dania" Sapa para pelayan saat Adit dan Dania memasuki rumah itu, Dania hanya tersenyum sungkan karena di perlakukan seperti itu, tangannya menggenggam erat lengan Adit, Adit yang menatapnyapun tak keberatan dengan tingkah gadis itu, namun ia juga kuatir karena raut wajah gadis itu seolah tak nyaman.
"Kenapa?"tanyanya kuatir.
"Apa mereka memang selalu melakukan ini?"
"Ahh, tidak, mereka hanya senang karena kau sudah kembali ke rumah"
"begitu ya".
"Tak usah sungkan, lakukan apapun yang kau mau disini, kau bisa memarahi mereka jika kau tak suka dengan apa yang mereka lakukan".
Dania hanya mengangguk mengiyakan ucapan Adit.
"Apa kau lapar?"
"Tidak paman, aku hanya sedikit ngantuk"ucap gadis itu sambil melihat ke kiri dan ke kanan, mencoba menemukan sisi tempat yang mungkin ia kenali,
"Baiklah, kalau kau memang ingin tidur, aku akan mengantarmu, ke kamar kita". Tap! Langkah kaki gadis itu tiba-tiba terhenti saat Adit mengatakan akan mengantarnya.
"Kenapa?" ucap Adit bingung.
__ADS_1
"Mak...maksdud paman, kamar kita..?" Ucapnya terbata.
"Tentu saja kamar kita? apa kau lupa kita aku adalah suamimu dan kau istriku?" Ucap Adit lagi, namun melihat gadis itu seolah tak nyaman, malah membuat Adit ingin sekali menjahilinya.
"Ehehmm, jangan bilang kau ingin mengusir suamimu dari kamar??" ucapnya sambil membungkukkan tubuhnya ke arah wajah gadis itu, namun reaksi Dania berbeda dari yang Adit pikirkan, gadis itu seolah tak nyaman dengan kata-kata dan ucapannya, Ia memainkan jari-jarinya tak menanggapi ucapan Adit.
"Tenang saja, aku takkan macam-macam padamu sampai ingatanmu kembali" ucapnya lagi berusaha untuk menenangkan gadis yang sekarang sedang mematung di hadapannya, melihat itu Adit akhirnya ke habisan akal untuk membuat gadis itu bereaksi seperti biasanya dan akhirnya ia pun mengangkat tubuh gadis kecil itu yang membuatnya terkejut.
"A...apa yang kau lakukan paman" ucapnya hiteris karena kaget.
"Apalagi, aku membawamu ke kamar, kau bilang kau ingin beristirahat kan?"
"A..aku tak ingin tidur lagi, turunkan aku paman, turunkan aku!" ucapnya meninggi, Adit yang melihat reaksi berlebihan Dania tak mendengarkannya, dan terus mengangkatnya ke kamar.
"Turunkan aku paman..turunkan aku" Rontaknya sambil memukul-mukul tubuh Adit.
Saat tiba di kamar, Adit membaringkan Dania di kasur, namun gadis itu langsung bangkit dan mencoba berdiri namun tangan Adit menahan tubuh gadis itu.
"Tenanglah....aku takkan melakukan apapun padamu, kau baru pulang, istirahatlah, aku akan keluar" ucapnya lembut menenangkan gadis itu.
"Aku akan keluar, kau tidurlah, kalau kau perlu apapun kau bisa memanggilku, aku ada di ruang kerjaku, tepat di sebelah kamar ini" ucap Adit menjelaskan, kemudian ia beranjak dari duduknya, saat ia ingin melangkah tangan Dania meraihnya, ia menatap lembut gadis itu.
Saat berada di luar Adit menatap sedih pintu kamar tempat Dania berada. Ia menarik nafas dalam dan beranjak dari sana.
Ruang Kerja Adit......
Tok..tok..tok...
"Tuan..." Ucap seseorang dari balik pintu.
"Masuklah Hans.." Balas Adit mengetahui si pemilik suara, pak Hans pun masuk ke ruang itu.
"Selamat siang tuan.."
"Ada apa Hans"
"Ini Tuan..."Ucap Hans sembari menyerahkan sebuah dokumen dengan logo Rumah Sakit.
__ADS_1
"Apa ini Hans" ucap Adit penasaran sambil membuka dokumen tersebut.
"Itu adalah hasil laporan kecelakaan Ayah nona Dania tuan dan yang satunya adalah surat pernyataan pendonor organ tubuh?" Ucap Pak Hans menjelaskan. Adit tersentak kaget, namun ia langsung bergegas membaca dan memahami data tersebut. Tertera nama pendonor Budi Hartanto dan penerima donor Aditya Hermawan. Adit terduduk kaget saat membaca laporan tersebut.
"Apa ini benar Hans?" Ucap Adit tak percaya.
"Benar tuan, seperti yan tertera di laporan itu, ayah nona Dania adalah orang yang menyerahkan jantungnya pada tuan Adit dulu." Mendengar itu Adit menggenggam erat jari-jarinya.
"Ha..Ha.."Tawa Adit miris.
"Apa yang sudah ku lakukan selama ini, aku menyakiti putri dari orang yang sudah menyelamatkan nyawaku". Ucap Adit miris. Pak Hans yang melihat reaksi majikannya hanya tertunduk karena ia memahami apa yang di rasakan tuannya tersebut.
"Apa itu artinya omma tau semua ini?"
"Berdasarkan informasi yang saya terima, nyonya Hermawanlah yang meminta dan memohon kepada ayah nona Dania untuk mendonorkan jantungnya pada tuan, dengan imbalan nyonya akan merawat nona Dania" ucap pak Hans menjelaskan.
"Kenapa omma tak mengatakan apapun padaku, jika saja omma mengatakannya mungkin aku akan mengubah sikapku padanya dari awal, mungkin aku takkan menyakitinya" ucap Adit menyesal.
"Hans..."
"Iya tuan.."
"Jangan beritahukan hal ini pada Dania, jangan sampai ia mengetahui ini dulu, biarkan aku memberitahunya nanti saat ingatannya sudah benar-benar kembali"
"Baik tuan". ucap pak Hans mengerti.
"Hans, apa kau tau dimana ayahnya di kebumikan, aku ingin mengucapkan terima kasih meski ini memang terlalu terlambat, dan aku ingin membawa Dania kesana".
"Ini tuan, lokasi tempat ayah nona Dania di semayamkan, lokasinya tak jauh dari lokasi ayah tuan Adit."
"Terima kasih Hans" Ucap Adit lirih.
"Iya tuan" sambil menunduk dan berlalu pergi dari tempat itu,
Di ruangan itu, Adit kembali mengenang hal-hal buruk yang ia lakukan pada Dania, dari awal gadis itu datang, dan saat gadis itu mencoba mencari perhatiannya.
"Apa yang akan kau lakukan jika kau mengetahui hal ini? kau pun tak akan memaafkanku kan" ucap ADit lirih, matanya berkaca-kaca menyesali apa yang ia lakukan pada gadis itu.
__ADS_1
Adit mengambil berkas yang tadi pak Hans serahkan, dan menyimpannya di laci ruangan itu.