
Pagi itu aku terbangun, aku sedikit terkaget saat kudapati diriku ada di pelukannya.
"Apa ini hanya mimpi" gumamku. Aku mengucek-ngucek mataku, tak ada yang salah dengen penglihatanku, aku menepuk-nepuk pipiku.
"Ah...sakit" rintihku. Ahh ternyata aku tak sedang bermimpi. Aku benar-benar ada dalam pelukannya, ya di pelukan pria yang adalah suamiku.
Meski aku tak mengingat hal-hal sebelum ini, namun aku tak peduli, karena aku menyadari aku mencintai pria yang ada di hadapanku ini, meskipun hatiku sempat gelisah saat ia berkata dulu ia membenciku, dan membuatku menjauh darinya, tapi ketika dia tersenyum padaku, aku mengetahuinya, meskipun aku mengingat semua hal-hal menyakitkan itu lagi, aku takkan pernah bisa membencinya, karena aku ingin selalu melihat senyumnya untukku, tatapannya untukku. Aku kagum pada ketampanannya, hidungnya yang mancung, bulu matanya yang lentik dan bibirnya yang merah seperti delima, dia benar-benar tampan. Aku menyentuh bulu matanya yang lentik saat ia masih tertidur, dan ia mengeliat sambil mengucek matanya, namun ia masih belum terbangun.
"Dia sangat mengemaskan" gumamku. Ku sentuh hidungnya yang mancung " Wah, benar-benar tampan" kembali aku bergumam. Ku sentuh bibirnya yang merah seperti delima itu. "Bibirnya sangat lembut" gumamku sambil menatapnya.
"Aku ingin menciumnya" gumamku dalam hati, tak apa kan, "dia takkan bangun" gumamku lagi. Ku dekatkan wajahku dengan wajahnya dan ku kecup lembut bibir merah miliknya, namun saat aku membuka mataku, aku tersentak kaget saat aku melihatnya menatapku, sambil tersenyum seolah aku sedang ke dapatan basah sedang mencuri. Aku memalingkan wajahku darinya karena malu namun dengan cepat ia menghempas tubuhku di kasur, hingga aku tepat berada dibawahnya. Aku menjadi gugup, tubuhku seolah kehilangan tenaga. Namun ia tersenyum lembut dan mendekatkan wajahnya kembali padaku, ia mengecupku lembut, membelai rambutku seolah merusaha membuatku tenang, ia menciumku dalam hingga cukup lama, namun ia tak melakukan lebih dari itu.
Setelah beberapa saat iapun merebahkan dirinya di sampingku.
"Jika aku ingin melakukannya sekarang, apa kau akan membenciku?"
"A..apa?!!! Tanya gadis itu kaget dan mengernyitkan dahinya.
"hahaaha, ada apa dengan ekspresimu itu" Ucap Adit sambil menyentuh kening Dania dengan jarinya.
"Pamankan sudah berjanji" celotehnya.
"Bukannya kau yang sedang tertangkap basah sedang mencuri ciumanku". Ucap Adit lagi menggoda.
"I...itukan, berbeda paman, kita kan sudah pernah berciuman" ucap gadis itu sambil menutup mulutnya dengan jarinya seolah ia mengatakan hal yang seharunya tak ia katakan. Adit yang melihat itupun hanya tertawa terbahak karena tingkah Dania yang seperti ini sangat menggemaskan untuknya.
"Jadi, sampai kapan aku harus menunggu?"tanya Adit lagi, kini dengan nada yang serius.
"I..itu, bisa kah paman menungguku sampai aku lulus kuliah?" ucap gadis itu yang diikuti tatapan kaget dari Adit.
__ADS_1
"Setelah lulus?? itu artinya aku harus menunggu 3 sampai 4 tahun lagi?! Apa kau serius?" Celoteh Adit seolah tak percaya.
"Iya bisakah paman menungguku sampai saat itu, aku tau ini terdengar sangat egois, tapi seperti yang paman katakan sebelumnya, kita bahkan harus tiba-tiba menikah tanpa melewati fase pacaran lebih dulu, aku juga ingin melewati fase itu seperti remaja-remaja lainnya, bisakah kita mulai sebuah hubungan yang seperti itu dulu paman?"
"Kau harus lulus sesuai jadwal, tidak ada tambahan waktu, aku tak bisa menunggu lebih dari ini". Ucap Adit
"Terima kasih paman" Ucap Dania senang.
"Itu artinya kau akan kembali masuk kuliah, beberapa waktu ini kau sudah melewati banyak kelas, apa kau ingin mengulang lagi tahun depan?"Adit
"Tidak paman, aku akan melanjutkan kuliah yang sedang berjalan, karena paman memberitahu pihak kampus kalau aku sakit, aku kira tak ada masalah, dan aku akan berusaha untuk mengejar ketertinggalanku. Dania
"Baiklah, jika kau butuh sesuatu kau bisa katakan padaku."Adit.
"Hmm, dan satu lagi paman, paman bilang pernikahan kita tak di publis, bisakah saat di kampus aku memperkenalkan paman sebagai pacarku bukan suamiku." Dania. Adit menoleh pada gadis yang ada di sebelahnya itu, hatinya seoalah tak terima dengan ucapan gadis itu, namun ia paham kenapa Dania mengatakan itu semua, dan ia pun merasa tak berhak untuk marah.
"Terserah kau, lakukanlah apa yang menurutmu baik, aku percaya padamu" ucap Adit lagi.
"Oh iya aku hampir lupa mengatakan padamu, besok omma akan kembali dari Inggris" Adit.
"Omma?"
"Iya, Omma sangat menyayangimu, aku tak tau apa yang omma akan lakukan padaku jika tau kau mengalami amnesia, sejujurnya aku merasa omma lebih menyayangimu dari pada aku" ucap Adit dengan nada berpura-pura kesal.
"Hahaha, yang benar omma menyayangiku karena beliau menyayangi paman".
"Benarkah? aku rasa juga seperti itu. Merekapun tertawa bersama melewati pagi yang cerah.
"Aku akan bersiap ke kantor dulu" ucap Adit kemudia ia bergegas ke kamar mandi.
__ADS_1
Selesai mandi ia hanya mengenakan handuk yang melekat di pinggangnya.
"Kau sudah selesai paman, aku sudah menyiapkan pakaian paman dan sepatu dan lain....Astaga!! kenapa paman hanya mengekan handuk itu" Teriak Dania kemudian ia buru-buru keluar dari kamar itu. Adit hanya tersenyum melihat istrinya yang panik itu."
......
Dimeja makan.
"Kau sudah siap paman?" Ucap Dania saat melihat Adit turun dari tangga.
"Aku sudah membuat sarapan, paman sarapan dulu" ucapnya lagi.
"Sepertinya aku tak sempat sarapan, ada meeting yang harus aku datangi pagi ini" ucap Adit merasa bersalah.
"Yah, aku sudah memasak khusus untuk paman." Ucap Dania kecewa. Adit melihat jam di tangannya, dan ia menyadari memang tidak ada waktu jika ia harus sarapan dulu.
"Bisakah kau siapkan untukku, agar aku membawanya ke kantor" ujar Adit lagi,
"Tentu saja paman" Ujar gadis itu senang tak lama ia menyiapkan bekal untuk Adit dan memberikannya pada pria itu.
"Paman jangan sampai telat makan" ujarnya lagi dengan lembut. Adit mendekatkan dirinya pada gadis itu dan mengecup lembut kening Dania.
"Terima kasih sayang" ucapnya lembut dan membuat wajah Dania merona, karena ini pertama kalinya Adit memanggil Dania dengan sebutan "Sayang".
Dimobil, Adit tersenyum bahagia saat ia mengingat wajah Dania yang bersemu merah saat ia menyebutnya "Sayang". Pak Hans yang sedari tadi menyadari perubahan sikap majikannya itupun, turun senang karena pak Hans sadar hal apa yang membuat Adit saat ini bahagia.
"Apa itu bekal dari nona" Ucap Pak Hans membuyarkan lamunan Adit.
"Ah, iya, bukankah dia sangat menggemaskan, dia bilang dia khusus menyiapkan ini untukku"Adit.
__ADS_1
"Anda pasti sangat senang, saya turut senang jika anda bahagia tuan".
"Terima kasih Hans".