
....
Disisi lain Adit sedang berkutat dalam pekerjaannya, dengan tumpukan berkas yang menggunung diatas meja kerjanya. Membolak balik kertas namun tatapannya kosong, pikirannya tak lagi berada disana. Wajah tersenyum Dania terbayang dan tersirat jelas di kepalanya. "Benar benar menyebalkan, aku bahkan tak bisa fokus pada apapun".
"Tuan, sudah larut, bagaimana jika anda istirahat di kamar" ucap pak Hans sembari merapikan berkas berkas yang berserakan di atas meja.
"Kau kembalilah, dan beristirahat, aku akan disini sebentar.
"Apa ada yang mengganggu pikiran anda tuan muda?
Senyum tipis tersirat di wajah Adit saat mendengar ucapan pria yang ada dihadapannya.
"Kau selalu bisa memahami ku, kadang aku berpikir apa mungkin kau bisa membaca isi hatiku" datar.
__ADS_1
"Saya sudah bersama dengan anda saat ada masih sangat muda, bagaimana saya tidak mengerti anda tuan" .
"Kau benar, ada yang benar benar mengusikku, dan aku tak suka perasaan itu".
"Apa ini tentang nona Dania?"
"Hahaha, sudahlah kau kembalilah" ucap Adit seolah menyangkal dugaan Pak Hans.
"Saya permisi tuan" mundur dan melangkah pergi saat sudah di depan pintu.
......
Malam itu, Dania mencoba mencari pekerjaan paruh waktu yang bisa ia lakukan saat pulang kuliah. Beberapa pilihan telah ia tentukan, menjadi penjaga toko di sebuah supermarket kecil dengan gaji harian lima puluh ribu rupiah dari jam 2 sore sampai jam 6 malam, dan menjadi pelayan dapur mencuci piring dari dari jam 7 malam hingga jam 10 malam dengan gaji harian 70rb. Dania menarik nafas dalam dan tersenyum lebar saat ia selesai meng'apply lamarannya dan tak lama setelahnya ia menerima balasan untuk datang langsung ke lokasi kerja sesuai jam yang telah ditentukan.
__ADS_1
....
Malam telah larut...
tapi pria yang telah ia tunggu tunggu tak juga datang ke kamar.
"Apa ia begitu sibuk? ini udah jam 2 subuh?" sambil melirik jam dinding yang bergantung tepat pada pandangannya.
Ia merebahkan selimutnya, melangkahkan kaki keluar ruangan itu, menelusuri ruang yang sudah terasa sepi, kakinya terhenti tepat dimana pria yang ia tunggu tunggu berada, memberanikan diri dan mengetok pintu. Namun tak ada balasan dari dalam ruangan.
"Apa tak ada didalam?" gumamnya dalam hati.
Di beranikan dirinya membuka pintu itu, didapatinya suaminya sudah tertidur berbantal meja kerja. Melangkah mendekat.
__ADS_1
Dania menarik nafas dalam saat tubuhnya mulai mendekat pada pria dihadapannya itu. Ia menatapnya sendu, ada rasa perih yang menggelitik dihatinya, "Aku tau kau membenciku, aku pun tau bagimu, aku hanya wanita yang bisa dibeli dengan uang, aku paham, benar benar paham, tapi apa aku salah jika aku terlahir sebagai seorang yatim piatu yang tak punya apa apa? apa aku juga salah jika aku melakukan segalanya untuk satu satunya keluarga yang aku miliki? apa aku benar benar salah? jika kau membenciku seperti ini, aku tak tau harus melakukan apa? aku tak ingin menyakitimu, aku juga tak ingin menyakiti omma, karena adikku bisa selamat karena omma, apa yang harus aku lakukan untukmu tuan Adit? aku hanya bisa memberi hatiku....tapi jika kau tak bisa menerimanya, aku tak tau lagi harus apa" gumam Dania lirih saat meletakan kepalanya sisi meja menyamai posisi Adit, air matanya menetes tanpa ia sadari. Kemudian ia beranjak dari posisinya, mengambilkan selimut dan menyematkannya ditubuh suaminya.