
"Terima kasih pak Hans" ucap Dania.
Pak Hans hanya menundukan kepala dan berdiri di pintu ruangan itu. Dania membuka pintu dan betapa kagetnya dia saat melihat Suaminya sedang bersama dengan wanita lain. Wanita itu cantik, bahkan seperti orang terpelajar, ia duduk manis di sebelah Adit, sambil menyeka bekas makanan yang menempel di wajah Adit dengan sapu tangan.
Mata wanita itu tertuju pada Dania, mengamati Dania dari atas hingga ke bawah. Kemudian dia angkat bicara.
"Ada apa ya? sepertinya kami tidak memanggil pelayan?" ucapnya sambil menoleh pada Adit.
Adit menatap lekat Dania dan gadis itu hanya tertunduk di dinding pintu.
"Ma...maaf, saya...."
"Oh iya Riska, dia bukan pelayan aku yang menyuruhnya kembali".
"Oh ya, maaf aku kira kau pelayan, ah maafkan aku sekali lagi, mengapa kau disana, kemarilah kita bergabung" ucap Riska pada Dania.
Dania melangkahkan kakinya yang berat mendekat ke arah Adit. Dia menatap Adit lembut, seperti mencoba meminta penjelasan dengan situasi saat ini, Namun Adit tak menggubrisnya.
"Duduklah, kau seperti orang bodoh saja, berdiri disana" ucap Adit yang melihat Dania masih berdiri di sisi kursinya.
Dania duduk di hadapan Adit.
"Dit, kok ucapan kamu kasar banget sama dia, kan kasihan, liat aja dia sampe gugup gitu" Ucap Riska pada Adit.
__ADS_1
"Btw kamu namanya siapa?" tanyanya pada Dania.
"Na...nama saya Da..nia? ucapnya terbata.
"Dania? Wow nama yang bagus, sepertinya kau masih muda ya?? masih sekolah atau kuliah? tanya lagi.
"Saya sedang kuliah baru masuk tahun ini, an...anda sendiri?".
"Ah iya maaf aku lupa memperkenalkan diri, aku riskan, teman lamanya Adit dan pacarnya Adit" ujarnya sembari merangkulkan tangannya pada tangan Adit".
Dania kaget dan langsung berdiri. Ia menatap Adit namun pria itu hanya menikmati makanan yang ada di meja.
"Kenapa Dania? ucap Riska penuh tanya.
"Siapa yang menyuruhmu pergi bodoh!" ucap Adit Saat Dania sudah beranjak beberapa langkah dari bangkunya.
Dania membalikan badannya ke arah Adit, Air matanya yang sedari tadi ia tahan jatuh tanpa ia sadar dan buru buru ia seka dengan jarinya.
Adit menatap Dania dalam. " Aku menyuruhmu duduk! Ucapnya meninggi.
Dania terdiam, hanya mematung ditempat ia berdiri sekarang.
"Dit, kau membuatnya takut sayang" Ucap Riska pada Adit.
__ADS_1
"Dia hanya salah seorang pelayan ku, bagaimana bisa dia bertindak sesukanya seperti itu" Ucap Adit sambil menatap Dania.
Dania hanya menatap pria di hadapannya itu. Menarik nafas panjang, dan kembali ke bangkunya.
"Oh jadi dia pelayan kamu dit, wah kamu hebat ya, kuliah sambil kerja, berarti Adit bos yang baik ya, kan untuk kuliah kamu dapat kelonggaran waktu" Ucap Riska lagi.
Dania tak menjawab, hanya diam menatap Adit.
"Tapi sayang kenapa kamu panggil dania kesini, kan ini kencan pertama kita".
"Entahlah, kemarin aku berjanji padanya untuk mengenalkan wanitaku, jadi aku menyuruhnya kesini agar dia mengerti dan paham situasinya."
"Situasi apa dit?"
"Kau tak perlu tau sayang" Ucap Adit sambil menatap Dania dan mengecup bibir Riska didepan Dania".
Melihat itu, hatinya hancur, ia tak sanggup melihat ini lebih jauh.
Ia berlari ke pintu dan keluar dari dalam ruang itu.
Saat hendak keluar Dania berpapasan dengan pak Hans di depan pintu. Pak Hans yang melihat Dania menangis mengerti dengan keadaan saat ini.
"Terima kasih untuk akting mu" ucap Adit pada Riska dan ia beranjak pergi."
__ADS_1