
Kita pernah menetapkan langkah pada bumi yang sama,
beratap pada langit biru yang sama pula...
Kita sama-sama berteman sepi...
Sama-sama berjalan dalam langkah kecil melewati terowongan yang menghujam sunyi...
Namun, langkah kau dan aku terhenti pada sebuah persimpangan kecil...
Kau memilih ke kiri sedang aku kanan...
Pada satu titik kita tak bisa bergandengan tangan lagi..
Lantas, apakah kita sudah berada pada bumi dan beratap pada langit yang berbeda?
Langkah kakiku terhenti sesaat menatap ke arah kau melangkah pergi...
Namun kau sudah melangkah jauh hingga aku tak mampu lagi untuk menatapmu...
Nafasku terasa sesak, dadaku serasa perih seolah ditikam belati...
Namun....
Aku enggan untuk menangis...
Aku enggan untuk berteriak ataupun marah...
Bukan karena kau tak lagi berarti,
Hanya saja kau dan aku tau kita memang harus berhenti...
Pada titik dimana kau dan aku tak mampu lagi menepati janji..
Janji untuk tetap menetap meski luka terus menggerogoti...
Namun,...
Biarkan waktu menjadi obat untuk kita bisa melewati hari...
"Aku mencintaimu, dengan segala apapun yang aku punya, tapi kau dan aku tau kita tak seharusnya bersama. Aku tak tau seberapa lama kau sudah mengetahuinya, tapi aku tak bisa hidup dengan seseorang yang sudah merenggut nyawa ayahku, jika kau memang dengan tulus mencintaiku, maka aku mohon padamu jangan pernah mencariku lagi, jangan pernah muncul lagi di hadapanku, karena aku takkan sanggup menatapmu lagi. Paman tolong aku, biarkan aku bebas, aku benar-benar tak sanggup menghadapi semua ini, saat aku menatapmu, aku hanya akan merasa bersalah pada ayahku, aku hanya akan merasa sesak. Aku mohon padamu.
Dania.....
__ADS_1
Tangan Adit bergetar ketika ia membaca surat dari Dania sebelum ia pergi dari panti, seolah Dania tau bahwa suaminya akan datang ke tempat itu.
"Tuan...anda tidak apa-apa" Ucap pah Hans dengan nada kuatir.
"Dia sudah memilih pergi..., dia tak memberiku kesempatan untuk memohon maaf padanya". Ucap Adit lirih sambil menatap ke langit biru yang membentang.
"Saya akan mengerahkan semua orang untuk melacak jejak nona Dania, ini masih belum lama setelah nona pergi, sepertinya masih sempat jika kit amencarinya tuan, saya akan menelpon orang-orang" Ucap pak Hans mencoba mencari solusi, melihat majikan yang paling dia hormati itu seolah pikiriannya kosong.
"Kau tak perlu melakukan itu Hans, kita akan kembali ke rumah, oma pasti kuatir"Ucap Adit lagi.
"Tapi tuan..." Hans
"Hans...dia sudah memilih, aku tak bisa berbuat apapun, meski saat ini aku menemukannya pun dia akan tetap memilih pergi" Adit
"Apa anda baik-baik saja tuan..?" Hans
"Aku tak baik-baik saja,...bisakah kita kembali sekarang?" Adit
".... Baik tuan" Hans.
................
"Adit, kau sudah pulang sayang?" Oma
"Kenapa kau lesu sekali, dimana Dania?" Ucap Oma menyadari sosok Dania tidak ada bersama Adit.
"Maafkan aku oma, ini semua salahku, jika aku berbuat baik padanya, mungkin dia....."Ucap Adit terasa berat.
"Hans?" Ucap Oma yang menyadari ada hal yang tidak beres dan melihat Adit yang begitu terpuruk.
"Nona...Nona Dania sudah pergi nyonya" Hans
"Pergi kemana?" Oma
"Kita tidak tau nyonya, nona Dania hanya meninggalkan surat untuk tuan" Hans. Medengar itu oma pun sadar apa yang sudah terjadi pada cucunya itu. Ia pun langsung mendekap lembut Adit.
"Maafkan oma sayang, harusnya oma tidak menutupinya, harusnya oma tidak menjadi pengecut, jika saja oma memberitahu kalian lebih awal, mungkin semua ini tak akan terjadi." Oma. Adit yang mendenger hal itupun tak bisa mengatakan apapun, ia marah pada dirinya sendiri, ia marah keadaan yang seolah mempermainkanya, tanpa di sadari Adit pun menangis dalam pelukan oma.
.................
"Dania....." Kevin
"Iya kak" Dania
__ADS_1
"Apa kau yakin dengan semua yang akan kau lakukan sekarang?" Kevin. Dania hanya diam tak memberi reaksi apapun tentang apa yang Kevin tanyakan, karena saat inipun ia tak mengerti apa yang ia ingin lakukan ke depan.
"Aku mengenalmu dari kecil, bahkan aku lebih mengenalmu dari kau mengenal dirimu sendiri, kau bukan seseorang yang menaruh dendam pada orang lain, meski orang-orang menyakitimu, kau tak pernah membalas mereka, aku tak tau apa yang sedang terjadi padamu, tapi Dania, jangan pernah menyakiti dirimu sendiri, jika kau meninggalkannya mambuatmu bahagia, aku akan mendukungmu, tapi yang ada dalam pandanganku adalah kau terluka, kenapa kau pergi jika itu membuatmu kesakitan?" Kevin.
"Karena hanya jika aku pergi, aku akan menerima hukumanku, aku tak bisa bahagia bersama orang yang merenggut kehidupan orang tuaku, aku tak bisa kak Kevin...Tolong aku, bawa aku keluar dari tempat ini".
"Apa maksudmu Dania?"
"Ia, Adit adalah orang yang membuat ayahku mengalami kecelakaan, dan Adit juga yang mengambil jantung ayahku, jika aku mencintainya seperti ini, bukankah aku akan menjadi anak yang terburuk" Ucap Dania sambil menangis segugukan.
"Tenanglah Dania.....aku akan membawamu pergi, jika itu memang yang kau inginkan, tapi saat ini kau masih menjadi istri sah dari Adit.." Kevin.
"Aku tau....tapi dia tidak akan mencariku." Dania
"Apa maksudmu? meski aku tak menyukainya tapi aku melihat dia tulus mencintaimu,mungkin dia sudah mengerahkan orang-orang untuk mencarimu." Kevin
"Tidak, karena dia mencintaiku, dia tidak akan mencariku, karena rasa bersalahnya untukku" Dania.
"Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusanmu, aku hanya ingin kau bahagia, kau tau itu kan?"
"Iya kak, aku tau itu....Terima kasih" Dania.
"Aku tau sekarang, di usiaku yang baru menginjak 18 tahun, aku tau apa itu cinta, saat aku mencintai aku pun bahagia, aku bahagia menatapmu yang selalu berada di sisiku, tersenyum bersamaku, namun di saat aku mengenal cinta, aku pun mengenal apa itu arti melepaskan, karena melepaskan dan merelakan adalah bagian dari cinta yang memilki tingkat paling tinggi, merelakan bukan berarti kau tak mencintai lagi, tapi membiarkanmu bebas dari luka yang melekat pada aku dan kau."
.....................
Dua tahun kemudian......
"Selamat Dania untuk kelulusanmu dengan nilai terbaik..." Kevin sambil menyodorkan bunga mawar yang ada di tangannya.
"Cantik sekali, terima kasih kak Kevin", Dania.
"Ayo kita pergi, aku sudah menyiapkan makan malam spesial untukmu" Kevin
"Wah, aku sudah tak sabar menunggunyq, aku benar-benar lapar sekarang." Dania
"Haha, Kau ini, bagaimana bisa tubuh kecil ini bisa menampung porsi makanmu yang besar" Kevin
"Hehehe, berhenti meledekku kak.." Dania.
"Apa kau sudah punya rencana untuk apa yang ingin kau lakukan?"Kevin
"Ya..aku sudah menjatuhkan CV ku pada perusahaan fasion terbesar di kota ini, dan tebak apa yang selanjutnya terjadi?" Dania.
"Kau di terima ?" Kevin
__ADS_1
"Wah bagaimana kakak bisa tau?" Dania
"Hmmm..kau memuji ku atau memuji diirmu sendiri" Kevin. Merekapun tertawa bersama.