
Sesampainya asisten Jo di sebuah bangunan tinggi nan besar, namun terlihat sepi seperti rumah tua yg sudah bertahun tahun tidak ditempati.
Ia menggeret kedua orang penghianat itu masuk kedalamnya dan menuju ruang rahasia yg dijadikannya sebagai ruang penjara bawah tanah.
"Kalian tau kan apa resiko jika sudah menghianat tuan muda?" tanya asisten Jo dengan mata yg mendelik
"Kenapa kalian diam hah? brughhh... brugh.... ah.... suara tinjuan melayang di kedua pipi mereka.
"Itu belum seberapa, kalian sabarlah disini, dan kalian ingat, keluarga kalian adalah ancamannya jika tidak membuka siapa yg ada di balik dalang ini" ucap asisten Jo bergegas keluar dari ruangan sengap ini
"Aduh sial.... kenapa kita bisa terjebak dengan situasi seperti ini.? kita harus bagaimana? tanya Ferry dengan frustasi karena ia kuatir dengan keadaan anak dan istrinya.
"Kau tenang saja, kita akan memikirkan jalannya nanti" jawab Aldo yg sudah mengantuk
****
Sesampainya Jo di perusahaan, Arya bergegas untuk pulang karena kelelahan hari ini lelah hati lelah pikiran jua. Mobil yg dikendarainya memasuki gerbang dan langsung dibuka oleh satpam yg memberi hormat kepadanya.
Ia pun berjalan menuju tangga yg mengantarkan menuju kamarnya. Tanpa menunggu lama, ia langsung mandi berendam di air yg hangat dan menambahkan tetesan sabun penenang pikiran.
Tak butuh waktu lama, kini ia sudah memakai celana boxer dan sedang mengeringkan rambutnya.
Ditempat lain kini Delia sudah puas berkutat dengan kebun bunganya, ia merasa haus dan lapar. Ia bergegas menuju dapur membuat jus alpukat tanpa gula dan membuat kentang goreng cocok untuk cemilan siang ini.
Setelah selesai, ia membawa makanan itu menuju kamarnya.
Saat melewati kamar tuan Arya , Delia berhenti sejenak dan celingak celinguk menatap kiri kanannya.
"Pintu kamarnya kok kebuka? bukannya ini masih siang ya.. atau jangan jangan ada pencuri masuk lagi" gumam Delia
"Ah lebih baik aku masuk saja, dan langsung tangkap mencuri itu" jawabnya bergegas meletakkan makanannya di luar ruangan
__ADS_1
Delia berjalan mengendap ngendap diruangan yg gelap ini. Berjalan terus dan melihat sosok yg membelakangi yg hanya memakai celana boxer, Kini ia semakin penasaran dengan sosok ini akhirnya ia menghidupkan lampu dan memukul orang itu dengan bantal guling.
"Kena kau...!! Dasar pencuri berani beraninya kau masuk ke kamar ini huh huh huh" ucap Delia ngos ngosan
"Kau ini apa apaan! beraninya kau memukulku" ucap Arya membalikkan badannya menatap Delia
"Tu.. tuan.. apakah ini tuan Arya" ucap Delia menatap kagum pada tuannya. Dari atas sampai bawah tidak ada yg kurang. Dari hidung mancung mata yg jernih, badan yg kekar otot yg menonjol ,dada bidang serta perut six pack nya membuat Delia menelan salivanya.
"Kenapa menatapku seperti itu? apa kau mengagumimu? " tanya Arya menatap Delia tersenyum
"Ah anu.. tidak tuan hanya saja".... blushhhh wajah Delia merah merona menatap tuan Arya
"Hey kenapa dengan wajahmu? setiap melihatku selalu berubah menjadi kepiting rebus" goda Arya mendekati Delia
"Tidak tuan, mungkin tuan yg salah melihatnya , saya permisi dulu tuan" ucapnya berlari menjauh dari ruangan panas itu
"Huh huh huh huh.... selamat! " ucap Delia mengelus dadanya.
"Halo Bu assalamualaikum" ucap Delia
"Waalaikum salam nak, ada apa nak"
"Ibu, ibu sudah sampai mana? kenapa belum nyampe juga" tanya Delia dengan kuatir
"Loh ibu sudah sampai 30 menit yg lalu nak, sedang ibu lagi diruang tamu, ini dengan calon besan ibu hehehe" jawab ibu Sari cekikikan
"Beneran bu? kok Delia tidak melihat ibu sih? " tanya Delia
"Gimana kamu mau tau? lah dari tadi kamu kan di kamarnya nak Arya jadi ibu gak mau ganggu dulu" lanjut ibu Sari
"Ibu kok tau kalo aku habis dari kamar Arya?"
__ADS_1
"Iyah, tadi itu ceritanya ibu mau nyusul kamu ke kamar , tapi ibu lihat kamu masuk ke kamar nak Arya , jadi ibu balik arah aja takutnya ganggu kalian" jawab ibu Sari enteng
"Oh gitu ya Bu, ya sudah Delia turun aja yah Bu, bosen nih dikamar sendirian" lanjut Delia
"iya nak yasudah ibu matikan ya assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Dengan gerakan cepat Delia menghabiskan jus nya dan segera turun untuk menemui ibunda tercinta. Sudah sekian lama ia berpisah dengan sang ibu dan adiknya. Rindu makan bersama Senda gurau bersama dan susah senang bersama, hal itulah yg selalu membuat Delia merindukan kehadiran mereka.
"Ibu...." sapa Delia dan menyalami tangan ibunya
"iya nak, kali kamu mau istirahat juga gak papa kok, ibu disini mau bahas masalah kalian berdua , iya kan ibu Renata" ucap ibu Sari mengedipkan satu matanya ke salah besannya
"Iya sayang, ini mama dan ibu lagi bahas masalah kalian, dan mau menentukan hari pertunangan kalian" jawab mama Renata dengan tersenyum
"Kalau gitu Delia gabung aja ya, inikan menyangkut hidup Delia hehehe" jawab Delia cepat.
"Yasudah terserah kamu saja, emmmm kamu udah pacaran sama nak Arya berapa bulan nak" tanya ibu Sari
"itu Bu,,, aku baru menerimanya sekitar satu Minggu yg lalu hehehe" jawab Delia sambil menggaruk kepalanya yg tidak gatal
"Baru satu Minggu? apa ini tidak terlalu cepat ibu Renata? biarkanlah mereka mengenal satu sama lain , dan bukankah kau ingin melanjutkan kuliahmu nak? tanya ibu Sari pada Delia dan ibu Renata
"Ibu Sari tenang saja Bu, kali masalah kenal , mereka udah kenal sejak Delia pindah ke kota ini. Dan untuk masalah kuliah, bukankah masih bisa dilanjutkan walaupun kalian harus menikah?" jawab ibu Renata tersenyum
"Emm.. iya juga sih Bu, kalo menurut ibu sih sah sah saja yg penting Delia setuju dan bahagia, ibu juga ikut bahagia nak" ucap ibu Sari memeluk Delia
Obrolan mereka pun berakhir dijam makan siang, mereka beranjak dari tempat duduk menuju meja makan yg sudah di persiapkan oleh pelayan rumah ini. Tak lupa Arya pun mengikuti makan siang bersama ini.
"Nak Lia, kamu ambilkan tuh buat calon kamu, kamu harus bisa menjadi istri yg baik dan berbakti pada suamimu ya" ucap ibu Sari menasehati Delia
__ADS_1
"Iya Bu Delia tau," kemudian ia menatap Arya yg hanya menatapnya sambil mengedipkan sebelah matanya.