
"Cepat jalan...." teriak Jo menggeret Ferry. Tanpa rasa ampun ia menyeretnya dengan kasar. Sebab Ferry sudah tidak mampu untuk berdiri.
"Cepat katakan apa yg membuatmu menculik nona Delia." Jo menatapnya dengan tajam. Ferry menatap Jo dengan sinis ia merasa tindakannya sudah benar karena ia ingin balas dendam terhadap Arya di masa lalu.
"Kau ingin tau kenapa? gara gara ulah kalian rumah ku di sita bank keluarga kecilku hancur. Istriku meninggalkanku dan membawa anak kami. Tak hanya itu, kalian mengasingkan ku ke luar negri. Jadi aku juga ingin memisahkan Arya dan istrinya." Ferry menjawab dengan santainya.
"Itu semua juga karena ulah mu. Jika kau tak mengambil uang perusahaan pastinya kau tidak mengalami itu semua kan. Sebelum menyimpulkan sesuatu itu harus di pikir dulu. Jangan sampai itu merugikan orang lain." jelas Jo dengan tegas.
Jo menatapnya dengan tajam sehingga Ferry menyadari kesalahannya. Dirinya sudah di buta kan oleh kebencian dan dendam. Biar bagaimanapun penjelasan Jo memang benar.
"Maafkan aku, aku tak tau harus bagaimana lagi. Aku hidup sendirian istri aku entah kemana. Tidak punya pekerjaan bahkan aku makan sisa dari gaji yg ada di ATM ku" jelasnya dengan sedih. Ia mengakui atas perbuatannya.
"Sekarang aku harus bagaimana, setiap aku ngelamar pekerjaan semua menolak karena ulah ku yg dulu. Bahkan sekarang aku melakukan ini juga dari bujukan seseorang. Ia membayar ku dengan uang yg besar makanya aku mau melakukannya" Ferry menjelaskan secara detail kepada Jo.
"Siapa yg menyuruhmu dan berapa uang yg orang itu berikan ?"
"Orang yg menyuruhku adalah musuh keluarga ini, dan sekarang orang tersebut telah menghilang entah kemana. Uang yg diberikan baru 10 JT sebagai uang mukanya. Jika aku berhasil memisahkan Arya dan istrinya maka sisanya 100 JT" jelasnya dengan jujur. Jo menghela nafas nya mendengar penjelasan Ferry.
"Siapa orang itu, dan apa yg dia mau kepada keluarga ini."
__ADS_1
"Dia hanya ingin kehancuran keluarga ini. Dia sangat dendam sejak dulu. Sampai perusahaan nya ikut bangkrut akibat menyaingi persaingan perusahaan Nugroho." jelasnya lagi.
"Apa yg dimaksud dia adalah wanita tua itu. Bukankah hanya dia yg selama ini dendam dengan keluarga ini" gumam Jo dalam hati.
"Baiklah untuk saat ini kau aku tahan disini, jangan sampai kau kabur aatauoun kau berbohong denganku. Ingat! ini satu kesempatan untukmu. Aku akan membicarakan masalah ini pada tuan Arya" Jo mengancam Ferry agar tidak kabur. Setelah ini ia keluar dari ruangan tersebut lalu pindah ke ruangan wanita tua itu.
Tatapan buasnya kini tertuju pada wanita tua yg telah memejamkan matanya. Kondisinya sangat memprihatikan wajah yg dulu ia rawat kini telah penuh dengan goresan. Tubuh yg mulus nan bersih kini telah tercoreng akibat sayatan pisau.
"BANGUN......!!!!" Teriak Jo yg menggema ke seluruh ruangan ini. Ia tak habis fikir, setelah rencananya kini ada orang suruhannya yg ingin menghancurkan keluarga ini.
"Hey aku masih punya telinga. Jangan seenaknya berteriak" jawabnya dengan spontan. Jo yg mendengarnya hanya tersenyum sinis ke arahnya.
"Apalagi rencana yg kau buat hah..? cepat katakan kepadaku. Aku sudah menangkap suruhanmu, dan apa lagi yg kau rencanakan?" bentak Jo dengan mata melotot. Wanita yg berada di depannya bukanlah sembarangan. Ia mempunyai banyak anak buah yg setiap saat bisa ia suruh.
"Hey hentikan jangan lukai aku...!!!" bentak nya dengan kuat. Tak ada respon sedikitpun dari Jo. Ia sudah muak dengan semua ini. Tanpa menunggu lama ia menyayat kembali bekas sayatan yg telah mengering. Sakit? tentu saja. Namun ini semua tidak sebanding dengan apa yg ia lakukan. Jika di tanya, kenapa tidak bunuh saja dirinya. Tapi tidak semudah itu, wanita yg ada di depannya ini mempunyai banyak anak buah dengan tugasnya masing masing. Dengan cara ini, Jo dapat mengetahui rencana apa yg dia buat selama ini.
"Arrggghhhhh.... pedih sekali... Hentikan cukup" teriaknya dengan menahan rasa perih di wajahnya. Darah pun mengalir di seluruh wajahnya dan bercampur dengan air matanya.
"Bagaimana sudah cukup atau mau aku tambah lagi?" tawar Jo dengan wajah santainya. Jo melihat kondisinya di depannya tidak merasa kasian. Karena ia tidak mempunyai rasa kasihan terhadap lawannya. Tidak ada ampun sebelum lawannya menyerah begitulah anggapan Jo.
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban wanita tua ini, Jo langsung berlalu dan meninggalkannya sendiri duduk di kursi dengan tangan yg di rantai. Langkahnya keluar dan mengunci ruangan ini danberpesan kepada pengawalnya agar menjaga ketat tempat ini. Sebab sudaha dua orang yg berada di tempat ini.
Setelah selesai, ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya dan berganti baju. Karena bajunya terkena darah wanita tua itu.
*******
Setelah selesai mandi ia memakai kaos santai serta celana pendek nya. Apapun yg di pakainya selalu cocok dengan tubuhnya. Hingga Delia yg menatapnya pun tak berkedip.
"Sayang, kau sudah bangun." ucap Arya yg melihta Delia dari arah kaca. Ia sedang menyisir rambutnya dan melihat Delia yg menatapnya tanpa berkedip. Bukannya menjawab Delia malah berbalik arah membelakanginya.
Arya pun menghampiri dan memeluknya dari belakang. Aroma tubuhnya begitu menggoda Delia. Namun Delia masih menahannya karena ia masih kesal dengan suaminya.
"Jangan peluk peluk aku. Aku kesel denganmu. Aku tak menyangka jika kau berbuat begitu di belakangku. Aku tau, aku bukankah wanita yg sempurna. Tapi bukankah kau yg mengikatku di hadapan Allah, tapi kau juga yg bermain api di belakangku." jawab Delia dengan suara seraknya. Tak tahan dengan yg di ucapnya Delia menangis sesenggukan mengingat kembali adegan yg ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
Arya yg tak mengerti maksudnya pun akhirnya berpikir keras apa yg telah ia lakukan hari ini. Hingga ia mengingat kejadian tadi siang di mana saat sekertaris itu mengantarkan dokumen untuk ia tanda tangani. Namun Dinda malah mendekatinya dan mencoba menggodanya. Sampai akhirnya Arya hendak menegur tetapi malah tak sengaja menciumnya akibat posisi Dinda yg begitu dekat dengan wajahnya.
"Sayang... bukan begitu ceritanya. Sini dengerin aku dulu" bujuknya dengan lembut. Ia tau, ini juga salahnya. Apalagi Delia melihatnya sendiri. Nmaun yg dilihat bukanlah yg sebenarnya terjadi.
"Jadi apa? jadi kamu mengira mata aku yg bermasalah? jadi kamu mengira aku salah lihat" jawabnya dengan sesenggukan. Arya tak tahan melihat Delia yg menangis sesenggukan seperti ini. Ia memeluk dari belakang untuk menenangkan Delia. Setelah ia tenang, maka ia akan menjelaskannya secara detail.
__ADS_1
********
Btw kalau kalian punya pasangan terus Deket sama perempuan lain gimana perasaan kalian? Perempuan itu sangat dekat dengan pasangan kalian tetapi tidak dengan kalian. Seperti membenci kalian gitu. Begitulah yg author rasakan saat ini huhuhu 😥