
"Sekarang jelaskan, kenapa kamu berubah seperti ini?" tanya Jo tanpa basa basi
"Aku begini karena....." Marsha terhenti saat ingin menjelaskan semuanya.
"Ayo cepat katakan Marsha ! jangan buang buang waktuku." bentak Jo dengan keras. Ia sudah tidak tahan lagi.
"Maafkan perlakuanku dulu, aku menyesal sungguh" jawab Marsha dengan sesenggukan. Sesekali ia mengelap ingusnya yg keluar akibat ia menangis.
"Ini lap pakai tisu jangan pakai baju dasar jorok." ketus Jo saat melihat ingus Marsha.
"Terus apa yg membuatku meminta maaf ? apa ini juga termasuk dalam sandiwara mu juga?" lanjut Jo dengan senyum sinis nya.
Bukannya tak percaya hanya saja ia tak mau di perdaya olehnya. Sebab, sifat Marsha bertolak belakang dengan sifatnya yg dulu. Ia menyangka jika ini termasuk dalam sandiwaranya agar ia dapat mengelabuhi dirinya.
"Tidak, aku serius dengan masalah ini Jo" Marsha masih kekeh dengan ucapannya.
"Lalu, apa kau tau tentang kecelakaan yg menimpa tuan dan nyonya?" tanya Jo dengan serius.
"Emmm... I-iya tau" jawab gugup Marsha
"Apa kau di balik semua ini, ayo cepat jelaskan. Karena aku menemukan barang bukti yg mengarah kepadamu. Dan sekarang jangan mengelak lagi"
"Aku tau, pasti kau menemukan jam tangan milikku bukan?" tanya Marsha dengan mantap.
"Tentu, itu pasti jam punyamu bukan? karena aku yg membelikannya, jadi aku hapal sekali."
__ADS_1
"Betul Jo, memang itu milikku. Tapi bukan berarti aku tersangkanya. Jujur saja, saat aku mendengar kecelakaan itu, aku berusaha menjenguk tuan dan nyonya tapi aku urungkan niatku karena aku tahu aku datang di saat yg tidak tepat. Setelah itu, aku pulang dan beberapa hari kemudian aku sengaja datang ke tempat kejadian untuk mencari penyebabnya apa, namun saat aku pulang jam tangan yg aku pakai hilang. Aku sudah menduga jika itu jatuh di tempat tersebut." jelas Marsha dengan panjang lebar.
"Jadi, saat itu aku melihat Marsha di rumah sakit ia ingin menjenguk tuan dan nyonya. Tapi bukankah ia anak dari musuh nya tuan ?" gumam Jo dalam hatinya.
"Tunggu dulu, bukankah kau sangat membenci tuan dan nyonya bukan? Dan kenapa sekarang kau jadi seolah olah sangat memperhatikannya." tanya Jo dengan selidik.
"Benar tapi itu dulu Jo sebelum aku mengetahui semua kebenarannya." ia berhenti sejenak dan mengambil nafas yg dalam.
"Dulu, mamaku sering berkata jika dulu tuan adalah biang masalah dari kebangkrutan perusahaan papa. Sampai akhirnya mama dan papa cerai akibat sering bertengkar akibat ekonomi kami tidak mencukupi. Dan dari sini aku adalah korbannya.
Aku kehilangan kasih sayang yg utuh dari papa dan mama. Setiap hari mama selalu memberi tahukan ku tentang kejahatan keluarga Nugroho yg ternyata itu adalah bualan mama. Mama sangat dendam terhadap keluarga ini sehingga memperalat aku untuk ikut membencinya.
Hingga beberapa Minggu yg lalu, aku bertemu dengan papa yg sudah hampir bertahun tahun tak bertemu. Kami melepas rindu, dan saling bertukar cerita. Dan dari sinilah aku mengetahui kejadian yg sebenarnya " lanjut Marsha dengan suara lirihnya.
Ia tak kuasa menahan rasa sakit akibat ulah mamanya. Di satu sisi ia kehilangan kasih sayang dan satu sisinya lagi ia kehilangan harga dirinya. Ia juga pernah di jual ke om om untuk memuaskan nafsunya. Sebagai imbalannya adalah uang yg ia minta. Sakit? tentu saja. Namun semua itu sudah terjadi. Dan sekarang adalah menatap ke depan dan menjadi diri yg lebih baik lagi.
"Jika begitu, lalu siapa dalang semua ini. Bahkan sebelum mobil tuan digunakan, itu sudah di cek semuanya. Namun apa yg di laporkan polisi? ia mengatakan bahwa remnya blong. Siapa pelakunya?" tanya Jo dengan penasarannya. Ia berharap Marsha tahu siapa yg sudah mengacaukan semua ini.
"Aku juga gak tau Jo, apa mungkin mama? karena yg aku denger dari papa waktu itu, mama pernah menyukai tuan Hendra. Tapi tuan Hendra tak menyadarinya hingga ia menikah dengan nyonya Renata. Dari situlah mama berusaha memisahkan keduanya. Hingga bersaing perusahaan sampai akhirnya perusahaan papa yg bangkrut." lanjut Marsha
"Oke lah kalau begitu, sekarang kamu mau kemana. Aku antar kan kamu pulang karena kerjaan kantorku masih banyak" Jo mengakhiri interogasi nya. Karena pesanannya juga sudah jadi.
"Tidak usah Jo, karena aku masih ada urusan. Sampai ketemu kembali" jawab Marsha berdiri dari tempat duduknya.
Jo pun kembali ke dalam mobil dan melajukan mobilnya ke kantor. Setelah sampai ia langsung menuju ruangannya dan menyantap batagor dua porsinya.
__ADS_1
"Yang penting perut kenyang, masalah gemuk mah gampang. Tinggal olahraga langsung jadi roti sobek lagi" gumam Jo menyantap makanannya.
Tok tok tok...
Masuk....
"Maaf pak mengganggu waktu anda, saya kesini mau memberi tahukan bahwa sekertaris yg anda minta kini sudah ada. Dan silahkan anda nilai sendiri jika tidak cocok maka saya akan menggantikannya lagi." ucap bawahannya.
"Emm baiklah, suruh dia masuk dan perkenalkan diri dan ceritakan pengalamannya kerja sebelumnya." jawab Jo sambil mengunyah makanannya.
"Baik pak, saya akan memanggilnya permisi." Jo pun mengangguk dan segera menghabiskan makanannya.
"Permisi pak, boleh saya masuk?" ucap seorang wanita cantik dengan tinggi semampai. Tak lupa senyumnya yg khas membuat nilai plus tersendiri.
"Iya silahkan. Perkenalkan dirimu" jawab Jo menatap sekilas wanita di depannya.
"Perkenalkan nama saya Dinda dan saya pernah bekerja di perusahaan Adijaya.crop sekitar 3 tahun yg lalu sebelum perusahaan tersebut gulung tikar. " ucap sekretaris tersebut dengan mantap.
"Adijaya crop? bukankah itu perusahaan yg kalang saing waktu itu? apa itu perusahaan milik orang tuanya Marsha?" gumam Jo dalam hati.
"Baiklah, kamu aku terima. Tapi sebelumnya aku akan melihat kinerja mu bagaimana. Apa bisa di andalkan atau tidak. Jadi gunakan kesempatanmu selama tiga hari mendatang." jelas Jo menatap tajam ke arah wanita tersebut.
"Ba-baik pak, saya akan berusaha sebaik mungkin. " jawabnya dengan sedikit gugup.
"Bagus. Sekarang kau bisa ke ruangan mu yg berada di sebelah ruangan saya" jelas Jo
__ADS_1
"Baik pak, terima kasih. Saya permisi" ucap Dinda keluar dari ruangan tersebut.
*******