
"Tuan, ini berkas selama dua hari yg belum anda cek" ucap Jo yg sudah menunggu di ruang kerja.
"Letakkan di meja Jo,Bagaimana perkembangan hotel dan taman wisata Jo?"
"Menurut data yg saya terima, ada sedikit kejanggalan mengenai dana yg di keluarkan. Karena jika saya hitung menggunakan bahan yg berkualitas, jumlahnya tidak sampai segitu. "
"Hemmm... sudah ku pastikan. Jika paman yg mengelola pasti begini jadinya."
"Apa yg harus kita lakukan tuan, apa sebaiknya kita turun tangan sendiri"
"Tidak perlu Jo, kita lihat sampai mana kerja keras nya. Aku tak yakin jika ia sanggup membangun hotel dan tempat wisata secara bersamaan. Dan ingat, jangan keluarkan dana lagi jika ia meminta kepadamu"
"Baiklah tuan, dan ada satu lagi masalah di perusahaan cabang Singapura"
"Kenapa,? bukankah disana baik baik saja. "
"Para pemegang saham mencabut sahamnya dan berpindah ke perusahaan lain yg lebih menguntungkan. Dan itu membuat perusahaan cabang turun drastis. Jika tidak di tangani segera maka akan berakibat kebangkrutan."
"Apa aku harus turun tangan sendiri Jo? Apa mereka gak bisa menyelesaikannya sendiri"
"Sepertinya mereka juga butuh kita tuan. Kita selesaikan bersama sama."
"Hemm, baiklah. Kapan kita akan kesana. Pastikan jadwalnya tidak bertabrakan dengan yg lainnya."
"Mungkin dua hari lagi tuan. Karena besok ada meeting dengan petinggi perusahan dan ketemu klien "
"hahhh... baiklah Jo. Sepertinya jadwalku padat. Kau beristirahat lah dulu."
Sepeninggalan Jo dari ruang kerja kini Arya di Landa kegundahan. Ia harus meninggalkan Delia di rumah saat ia harus ke Singapura. Dan jadwal honeymoon pun harus di undur.
Huft... ternyata mengurus perusahaan tidak gampang. Apalagi jika ada saingan, maka apapun dilakukan demi kemajuan perusahaan. Kejam bukan? Tentu saja begitulah dalam berbisnis.
__ADS_1
Arya berjalan ke sofa dan merebahkan badannya. Mencoba memejamkan matanya dan mengistirahatkan pikirannya sejenak.
Sementara itu, Delia sibuk belajar online dan mengejar pelajaran yg tertinggal selama ini.
"Duhh banyak banget sih tugasnya, lebih baik buat es coklat biar moodku kembali." beranjak keluar kamar dan ke arah dapur.
Sepi banget sih, kemana nih penghuni rumah ini gumamnya saat melewati ruang keluarga.
"Bu Jum,ada bubuk coklat tak? lagi mau yg manis manis nih" mendudukkan bokongnya di kursi.
"Oh, ada non. Mau bibi buatkan?"
"Boleh, tapi jangan di kasih gula ya. cukup bubuk coklat sama es batu"
Sambil menunggu BI Jum, Delia beranjak ke ruang keluarga untuk mencari yg lainnya. Namun usaha sia sia, tak ada satu pun yg ia jumpai di rumah ini.
"Hahhh.. kemana sih semua orang. Masa siang siang kayak gini pada hilang" gumamnya sendiri.
"Non cari siapa? dari tadi bibi perhatiin kok cari sesuatu?"
"Dari nyonya pergi sama ibu dan Sinta non, katanya mau jalan jalan ke mall sebelum ibu non pulang ke kampung" jelas BI Jum.
"Terus mas Arya kemana bi, dari pulang tadi kok gak kelihatan. Apa mungkin ke kantor ya?"
"Kayaknya di ruang kerjanya non, tadi asisten Jo baru keluar dari ruang kerjanya".
Begitu ya Bi, yasudah aku ke ruang kerjanya mas Arya ya Bi,"
Delia bergegas menuju ruang kerja Arya.
tok tok tok... mas....
__ADS_1
Namun tak ada jawaban dari dalam ruangan. Hingga Delia mengulanginya namun jawaban tetap sama. Mau tak mau ia membuka perlahan pintu yg tidak di kunci itu.
"Astaghfirullah.. ternyata tidur." berjalan menuju sofa tempat Arya membaringkan badannya.
Apa kau lelah mas, sampai sampai kau tertidur di ruang kerjamu. Seandainya aku mengerti masalah perusahaan mungkin aku akan meringankan beban pikiranmu. gumamnya dalam hati.
Delia ikut duduk di pinggir sofa dan mulai memijat kaki Arya. Walaupun ia tak bisa membantu dalam pekerjaan setidaknya ia mengurangi rasa lelahnya.
Hampir 30 menit ia memijat kaki tangan suaminya namun tidak ada reaksi apapun. Apakah kau terlalu lelah mas, sehingga kau tidak bergerak sedikitpun? benak Delia bergumam.
Lama ia memandangi wajah suaminya terlihat guratan kelelahan kecemasan. Mas, terima kasih sudah mau menerima Delia dengan segala kekuranganku. Sungguh beruntung aku mempunyai suami seperti mu mas.
Aku mencintaimu, tanpa awal, tanpa akhir. Aku mencintaimu karena kamu telah menjadi organ yang sangat dibutuhkan dalam tubuhku. Tanpa rasa takut. Tanpa harapan. Tidak menginginkan imbalan, kecuali bahwa kamu mengizinkan aku untuk menjaga kamu di sini di hatiku, agar aku selalu tahu kekuatan kamu, mata kamu, dan roh kamu yang memberikanku kebebasan dan membiarkanku terbang.
Aku tidak mempunyai kesempurnaan layaknya orang lain, tapi aku memiliki satu hati yang akan selalu setia kepadamu mas. gumam Delia sendu.
"Kamu adalah orang pertama yang kupikirkan ketika aku membuka mata.Terima kasih karena telah menguatkanku di saat semua orang ingin menghentikan langkahku istriku tersayang." jawab Arya membuka matanya.
Yah, sedari Delia masuk ke ruangannya, ia sudah terbangun dari tidurnya. Hanya saja ia pura pura tidur dan merasakan pijatan Delia yg nyaman dan membuatnya untuk berpura pura hingga ia mendengar ucapan Delia yg begitu menyentuh hatinya.
"Mas... sudah bangun" Delia kaget dengan jawaban dari Arya.
"Bahkan aku sudah bangun sedari kau masuk ke dalam sayang"
"Jadi kau mendengar semua ucapan ku mas?"
"Tentu saja, bahkan pijatan mu sangatlah enak. Membuatku ketagihan. Sampai sampai adik kecilku pun ikut terbangun karena sentuhan lembut mu" mengarahkan pandangannya kebawah.
"Haishhh mas nih, sudahlah aku mau keluar dulu" menutupi pipinya yg sudah memerah.
"Hahaha senang sekali menggodamu. Hey, es coklatnya ketinggalan" teriak Arya memanggil Delia.
__ADS_1
"Sudahlah itu buat mas aja" lanjut berjalan tak mau bertatapan dengan suami mesumnya itu.
"Baiklah, setidaknya meminum bekas mu juga berciuman tanpa menyentuh" gumam Arya meminum es coklat itu.