
Jam Beker berbunyi menandakan hari sudah pagi. Terlihat sinar matahari yg menyembul dari balik tirai yg menutupinya. Namun seorang gadis masih berada di alam mimpinya. Delia putri, dengan nyenyak nya ia memeluk guling dengan erat membelakangi kaca jendelanya.
Untuk kedua kalinya jamnya berbunyi dengan keras sehingga mau tidak mau Delia membuka matanya yg berat ini. Iyah semalam ia tidur hanya 3 jam saja. Saat Arya meminta nya untuk menemani, dari situlah Delia berada sampai pukul 2 pagi.
Arya sengaja mengajaknya ke taman belakang rumah yg terdapat pondok kecil sebagai tempat jenuh ataupun untuk merilekskan diri.
Delia mendengarkan cerita Arya dari kecil sampai ia sekarang ini. Dan yg membuat ganjal adalah saat Arya bercerita tentang masa kecilnya yg berkunjung ke rumah nenek dan kakeknya. Kebetulan desanya berada di sebelah desanya bisa dibilang tetangga desanya.
(flashback off)
Pada masa kecilnya, Arya bercerita bahwa ia dulu berpenampilan culun dengan kaca mata dan setelan baju panjang yg di masukkan celana. Begitupun dengan tatanan rambut nya seperti Dora yg mempunya poni di depannya.
"Oh iya pada waktu itu, papa sama Mama mendadak kembali ke kota karena tugas yg mendadak dan mau tidak mau aku harus tinggal beberapa hari di rumah nenek.
Setiap hari kerjaan ku selalu membantu nenek menanm sayuran yg berada di samping rumahnya. kemudian memanennya laku menjualnya.
Hingga suatu saat aku mulai bosan jika harus berkutat dengan berkebun, akhirnya aku izin berkeliling desa menggunakan sepeda milikku.
Ditengah perjalanan aku dihadang 4 bocah dengan badan yg besar. Takut? itu pasti karena dulu aku adalah anak mami yg selalu dilindungi dan di bela apapun itu.
"Hey kau anak kota, sedang apa kau disini?" tanya salah satu bocah itu dengan tangan yg dilipat diatas perutnya
"A-aku ha-nya bo-san di ru-mah.,jadi aku keliling desa ini" jawab ku gugup dengan membenarkan kaca mata
__ADS_1
"Hahaha kau ini anak kota tapi kenapa penampilanmu jadul sekali? lihat nih kita, walaupun anak desa tapi kita ini keren.! iya nggak bro" lanjut yg satunya lagi
"Iya a-ku tau kok, yasudah aku ba-lik dulu ya.. " lanjutku membalikkan badan .
Namun belum sempat aku berjalan, mereka sudah menarik kerah bajuku dan mendorong ku Hinggan seluruh tubuhku bercampur dengan lumpur. Seketika mereka tertawa terbahak bahak melihat menampilkan ku yg memburuk.
Tidak berlangsung lama , datanglah seorang gadis kecil membawa bakul nasi serta rantang yg sengaja membelaku. Gadis itu mengancam akan melaporkan ke pak lurah agar mereka di marahi oleh orang tuanya karena sudah menggangguku, dan usahanya berhasil.
Aku bangkit dan berterima kasih padanya yg hanya dijawab dengan seutas senyum simpul. Setelah kejadian itu aku tidak pernah ke desa nenek lagi dan bertekad akan merubah penampilan ku dan belajar ilmu beladiri agar tidak ada orang yg berani menghinaku lagi" Ucap Arya menatap Delia.
Delia terbengong mendengar cerita Arya, karena ia dulu juga pernah menolong orang seperti yg diceritakannya. Apakah yg di tolong nya dulu adalah Arya?" gumamnya dalam hati.
"Yasudah ini sudah malam, lebih baik kita istirahat dulu, nanti setelah menikah aku kanjutka ceritanya" lanjut Arya sembari mengedipkan matanya
"Dasar bos genit" ucap Delia berlari dari hadapan Arya.
"Ah nanti sajalah aku menanyakannya. lebih baik aku bangun dulu. Oh astaga... ini sudah jam 7 tapi aku masih kek gembel" ucap Delia berlari ke kamar mandi menyambar handuknya.
Dilantai bawah sudah berkumpul keluarga besar Nugroho beserta cucunya dan keluarga Delia. Kini mereka tinggal menunggu dua sejoli yg belum juga datang.
"Wah mereka ini memang cocok banget yah, turun tangga pun bisa beriringan" ucap Leony kagum dengan kekompakan adiknya
"Iya nih, baju aunty sama om Arya sama lagi warnanya. Bikin Angel iri aja, karena angel tidak mempunyai pasangan." ucap Angel dengan polosnya.
__ADS_1
"Hey lihatlah itu Tama, cucuku masih berumur 5 tahun tapi sudah ingin berpasangan. Ini semua pasti ajaran kamu bukan?" sahut papa Hendra menatap anak sulungnya
Karena Tama berbeda dengan Arya. Sejak masa sekolahnya Tama sering bergonta-ganti pasangan dan pernah juga sampai di skors dari sekolah karena berkelahi masalah wanita.
"Bu-bukan pah. Tama juga tidak tau sifat siapa yg di turuninya itu" jawabnya dengan bingung
"Ya mesti sikap kamu lah mas, masa iya sikapku." balas Leony membela diri
"Sudah lah, kalian ini kalau berkumpul selalu saja berantem. Sekarang kita saraon bersama ya." ucap nyonya Renata menengahi
"Wah rotinya lembut empuk lagi, makan satu lembar aja udah kenyang" ucap Sinta yg sedang mengunyah
"iya dong, kita sarapan roti dengan sarapan nasi itu sama. Sama sama mengandung karbohidrat"ucap nyonya Renata menjelaskan.
"Iya nyonya, apalagi ditambah minumnya jus. Dijamin deh bakal kenyang" jawabnya tersenyum
"Nak, sudah mama bilang, jangan manggil nyonya ya, panggil saja mama oke" ucap mama Renata mengacungkan jempolnya
"he he he he .. iya nyonya " jawabnya tersenyum menunjukkan gigi rapinya.
Setelah menyelesaikan sarapannya,, kini semuanya pergi dengan tujuan yg berbeda. Ibu Sari dan Sinta di ajak nyonya Renata ke sebuah mall terbesar dan berada di kotanya.
Sedangkan Arya dan Delia pergi untuk membeli cincin pertunangan dan akan bertemu dengan mamanya di butik langganannya.
__ADS_1
Untuk tuan Hendra lebih memilih membaca majalah atau koran, setelah nya ia habiskan untuk berolahraga dengan menggunakan alat di rumahnya.
Sementara Tama Leony dan Angel kini memilih untuk pergi ke taman bermain. Sudah lama mereka tidak mengunjungi taman ini, karena rumahnya yg berada di luar negri.