Antara Cinta Dan Cita Cita

Antara Cinta Dan Cita Cita
Eps 63 Periksa kandungan


__ADS_3

Pagi mengajarkan kita bahwa segala sesuatu selalu diawali dengan rasa syukur dan embun adalah tanda keikhlasannya. Jadilah seperti embun yang selalu bening membasahi bumi. Meski jatuh di tanah yang berlumpur, ia tetap bening dan utuh. Tiada hancur, apalagi melebur.


Pagi ini tuan Hendra di pindahkan ke rumah sakit yg berada di Singapura. Tama dan sekeluarga pun bersiap karena jam terbang termasuk waktu pagi.


"Sayang, semuanya sudah selesai kan" tegur mama Renata kepada anak sulungnya Tama.


"Sedikit lagi ma, Leony lagi membereskan pakaian angel." jawab Tama menghampiri mamanya.


"Yasudah lah, emmm dimana angel kok gak kelihatan" tanyanya kembali


"Ada ma lagi di kamar aunty nya. Katanya pagi ini Delia sakit muntah muntah terus. Mungkin masuk angin karena kan sering pulang malem dari rumah sakit" jelas Tama kepada mamanya


"Benarkah? kalau begitu biarkan dia istirahat di rumah. Jangan paksakan ikut jika kondisinya begitu" jawab mama Renata.


Sebelum berangkat, semuanya menyantap sarapan paginya. Dengan meja berbentuk oval semuanya duduk di tempat masing masing. Semuanya merasa ada yg kurang di saat makan seperti ini. Biasanya ada papa Hendra yg selalu memimpin doa makan dan setelah itu ia memberi nasehat nasehat kepada keluarganya.


Namun kini, kursi yg ia duduki terlihat kosong tanpa si empunya. Merasa kehilangan? tentu saja. Sosok kepala keluarga yg bertanggung jawab dan tegas. Seorang pemimpin yg adil dan bijaksana. Tak lupa sikap ramah yg ada dalam dirinya membuatnya banyak di kagumi di beberapa kalangan.


"Loh nak kenapa sarapannya gak di makan?" tegur mama Renata yg melihat piring Delia masih penuh dengan makanan tanpa ia sentuh sedikitpun.


.


"Em.. anu ma.. Hooekkk... hoekk... " Delia berlari ke arah kamar mandi untuk memuntahkan isi dalam perutnya.


"Kita ke dokter saja ya sayang. Sepertinya kamu sedang tidak baik baik saja" Arya mengikutinya dan memijat tengkuknya dengan pelan.


"Gak usah mas, aku hanya butuh istirahat saja. Dan aku tidak ingin sarapan. Untuk melihatnya saja rasanya eneg banget apalagi memakannya mas." Delia mengatakan yg sebenarnya pada suaminya.


"Jangan begitu sayang, jika kamu tidak makan maka kamu akan terasa lesu dan aku takut ini makin parah." bujuk Arya dengan pelan. Ia berharap Delia mau sarapan dan nantinya bisa meminum obat.


"Tapi mas....." Delia melihat manik mata coklat itu dengan berkaca kaca. Ia tak mau memakan sarapan yg menurutnya eneg itu.

__ADS_1


"Loh loh loh kok nangis sayang. Kamu kenapa? Yasudah jika kamu tidak mau itu, kamu mau makan apa? biar aku pesankan sekarang" bujuk Arya kembali.


"Tidak ada mas, aku hanya ingin beristirahat saja. Jika aku merasa lapar maka aku akan pesan sendiri" jawabnya dengan lemah.


"Yasudah, sekarang ayo kita istirahat sekarang" Arya membantu jalannya Delia dengan menuntunnya pelan pelan.


"Kalian lanjutkan lah sarapannya, aku akan mengantarkan Delia istirahat sebentar" Arya mengatakan kepada mama dan kakaknya yg terlihat cemas dengan keadaan Delia.


"Apa mungkin Delia hamil ya ma?" Leony mengatakan itu dengan spontan. Yah, karena ia juga pernah mengalami seperti itu dan ternyata itu adalah tanda tanda kehamilan.


"Iya juga ya. Kenapa mama tidak berfikiran seperti itu" mama Renata mengiyakan perkataan menantunya itu.


"Iya ma, lebih baik suruh ke dokter saja. Dari pada kita menduga duga kan" jawaban dari Leony ada benarnya juga. Dan di angguki oleh mama Renata.


Tepat pukul 07.30 wib, semua keluarga Nugroho menjemput papa Hendra mug masih berada di rumah sakit bersama Jo dan para pengawalnya.


"Sudah siap semuanya Jo" tanya Tama kepada asisten Jo.


Setelah semuanya selesai, akhirnya mobil itupun melaju ke bandara karena sebentar lagi jam terbangnya. Arya terpaksa mengantarkan sampai rumah sakit, ia juga harus memeriksakan keadaan istrinya itu.


"Ayo sayang, kini gilirannya untuk di periksa" ucap Arya menuntun istrinya ke dokter pribadinya.


"Halo tuan Arya, ada yg bisa aku bantu" ucap dokter Edi pada Arya.


"Tentu, aku kesini untuk memeriksakan kondisi istriku ini. Sepertinya ia masuk angin. Apa kau punya obatnya" jawab Arya memasuki ruangannya.


"Ada, silahkan duduk dulu. Sebelum aku memberikan obatnya, aku periksa dulu ya." dokter Edi menyarankan untuk berbaring di ranjang pasien. Ia pun memeriksa satu persatu. Dan menyimpulkan hasilnya.


"Em nona boleh tau kapan terakhir menstruasi?" tanya sang dokter setelah mendapati hasilnya.


"Ah oh iya aku lupa. Sepertinya terakhir menstruasi sebelum menikah. Dan selama ini belum menstruasi lagi. Memangnya kenapa dok?" jawab Delia dengan gelisah. Ia berpikiran antara hamil atau mempunyai penyakit lain.

__ADS_1


"Pantas saja, sebaiknya periksa ke dokter kandungan saja. Karena itu bukan ahli saya" jawab dokter Edi dengan tersenyum.


"Baiklah dokter, saya permisi dulu. Oh iya, senyumnya jangan manis manis. Ingat dia itu sudah bersuami" jawab Arya yg posesif sekali. Apalagi sang dokter belum menikah. Bisa di katakan jika dokter tersebut seperti Jaka tua. Karena usianya hampir menginjak 35 tahun namun belum mempunyai pasangan ataupun pacar.


"Tenang saja tuan, saya tidak seperti itu. Tolong jaga baik baik nona muda kalau tidak maka aku yg akan maju untuk menjaganya." jawab dokter Edi dengan enteng. Ia tau pasti tuannya itu akan marah bahkan mengancamnya. Tak apa, sekali kali mengerjai bocah ingusan ini lebih seru. Pikirnya dengan tersenyum jahil.


"Apa kau bilang..??? Kau sudah berani ya...!!"


"Mas sudah mas, dokter hanya bercanda kenapa kau mudah sekali marah. " Delia mencubit perut suaminya. Di situasi seperti ini masih saja menanggapinya.


"Awas kau ya...!!" ancam Arya sembari keluar dari ruangan dokter Edi. Yah, keduanya sudah akrab semenjak ia masih kecil. Namun yah begitulah, selalu berebutan dan saling mengganggu.


Sesampainya di ruangan dokter kandungan, keduanya langsung masuk ke dalam ruangannya.


"Eh Arya, tumben kesini ada apa?" ucap dokter kandungan tersebut.


"Iya nad, ini mau periksa istriku. Tadi sempet ke dokter sialan itu, dan ia menyuruhnya ke sini" jawab Arya yg masih meredamkan amarahnya.


"Emmm.. dokter sialan?" ucap dokter tersebut dengan bingung.


"Siapa lagi kalau bukan dokter Edi. Bujang tua" lanjutnya dengan wajah masam.


"Hahaha dari dulu gak pernah berubah. Sekarang kalian duduklah." dokter Nadia mempersilahkan keduanya untuk duduk.


"Emm.. kamu ngerasain apa saja akhir akhir ini" tanya dokter Nadia saat mempersilahkannya baring di ranjang pasien.


"Sering pusing, terus mual mual. Apalagi mencium bau masakan. Rasanya eneg banget" jawab Delia dengan jujur.


"Baiklah, sekarang kita lakukan USG saja ya biar jelas" Ketiganya pun menatap layar yg berada di depannya dan mendengarkan penjelasan dari dokter Nadia.


******

__ADS_1


Apa artinya tulisan ini tanpa like dari kalian ?


__ADS_2