
Hari ini Delia bangun kesiangan, mungkin karena tadi pagi bangun dulu kali ya. Jam 10.30 ia menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai ia turun kebawah untuk menemui suaminya. Karena ia bangun tidak mendapati sosok suaminya.
"Selamat pagi Bi..." ucap Delia menyapa BI Jum yg sedang beristirahat di taman belakang. Bi Jum yg mendengar dirinya pun langsung menoleh ke sumber suara tersebut.
"Eh non Delia, sudah bangun non" jawab BI Jum yg langsung berdiri.
"Sudah bi, oh iya mas Arya sudah berangkat kerja ya Bi" Delia menanyakan keberadaan suaminya.
"Ia non, tadi pagi pagi sekali den Arya berangkat, terus ia juga tidak sarapan. Katanya sih masing kenyang" jawab BI Jum dengan jujur. Delia mendengarkan sambil mengangguk.
"Oh begitu, ya sudah bibi sudah sarapan belum" tanya Delia menatap BI Jum.
"Belum non, bibi kalau sarapan kalau sudah jam 11 nanti. Bi Jum sudah terbiasa pagi minum air hangat satu gelas jadi bibi tidak lapar" jawabnya
"Kalau begitu, temani Delia sarapan ya Bi, sekarang lihatlah. Sebentar lagi jam 11" Delia beranjak dari tempat duduknya lalu menggandeng tangan Bi Jum untuk sarapan bersama.
"Tidak non, tidak pantas saya duduk disini. Kalau di lihat sama yg lain tidak baik" BI Jum mencoba menolak karena ia tidak biasa makan di meja, apalagi itu meja khusus keluarga Nugroho.
"Yasudah kalau begitu kita makan di dapur saja bi, lebih enak kan" Delia kembali berjalan ke arah dapur dan duduk di meja tersebut. Bi Jum langsung memberikan menu sarapan yg tadi pagi ia masak.
"Bi, duduklah temani aku sarapan oke. Bibi sudah aku anggap seperti ibuku sendiri. Jadi jangan sungkan ya" Bu Jum mengangguk pasrah, ia duduk di hadapan Delia dan mengambil nasi serta lauknya.
Keduanya makan tanpa ada pembicaraan apapun. Semua nya fokus pada makanannya masing masing.
"Bi, habis ini bantu Delia masakin buat mas Arya ya Bi. Tadi kan mas Arya tidak sempat sarapan" ucap Delia setelah selesai sarapan.
__ADS_1
"Itu gampang non, den Arya mau di masakin apa? biar bibi yg masak" ucap BI Jum dengan senang hati. Ia tak mau Delia ikut dalam masaknya. Apalagi dengan kondisi hamil muda. Ia mendapatkan tugas untuk menjaga Delia dan tidak boleh membuatnya lelah.
"Maksud ku kita masak bareng Bi, bukan bibi yg masak. Sekali kali mas Arya makan masakan istrinya gitu biar tambah cinta hehehe" Delia menjelaskan maksudnya. Dan BI Jum hanya bisa menganggukkan kepalanya. Toh ia juga akan mengawasinya.
Delia kini sudah siap memakai celemek dan mengumpulkan bahan makanan.
"Emm bi, enaknya buat masakan apa ya?" tanya Delia yg tampak bingung
"Den Arya suka semuanya non, beliau tidak mempunyai elergi apapun jadi masakan apapun dia akan makan" jelasnya dengan lembut.
"Baiklah, kita buatkan tongseng ayam dan semur jengkol saja. Lihatlah, tinggal sisa ayam sama jengkol" lanjut Delia menunjuk ayam dan jengkol.
"Menarik... mari kita buat nona" seru BI Jum dengan tersenyum. Keduanya mulai beraksi dan mempersiapkan bumbu bumbunya.
Hampir 1 jam setengah keduanya olahraga keringat. Akhirnya masakan nya kini selesai juga. Delia menyiapkan tempat makan menatanya.
"Mbk sila, antar kan aku ke perusahaan mas Arya ya" seru Delia setelah selesai semuanya.
"Baiklah Delia, kemanapun kau akan aku antar" jawabnya dengan tersenyum.
"Tumben senyum, kesambet apa nih Mbk sila" goda Delia dengan semangat. Ia melihat kedua pipi Mbk sila merah tomat seperti menahan malu.
"Sudahlah Delia paham kok, sekarang jalan ya mbk. Keburu macet nih karena jam makan siang" Mbk sila yg mendengar perintah tersebut pun mengangguk dan melajukan mobilnya.
Di perjalannya Delia memandangi jalanan kota yg hampir penuh dengan kendaraan. Di samping itu ia melihat ke sisi jalanan terlihat seorang bapak bapak yg sedang berjualan kerupuk. Ia meminta agar Mbk sila menepikan mobilnya sebentar.
__ADS_1
Setelahnya ia turun dan menemui bapak tersebut. Hatinya sangat lemah jika melihat seorang kepala rumah tangga sedang mencari nafkah untuk keluarga. Seketika ia mengingat kembali sosok almarhum bapaknya. Ia sengaja mau membeli dagangan bapak tersebut untuk membantu meringankan bebannya. Toh kerupuk yg di jualnya juga bersih dan sudah kemasan.
"Bapak jualan kerupuk ya" tanya Delia dengan ramah. Sang bapak yg melihat kehadiran seseorang itu pun langsung mengangguk sambil tersenyum.
"Berapa satu bungkusnya" Sang bapak tidak menjawab pertanyaan tersebut, melainkan ia mengusap matanya karena dari pagi tak ada satu pun orang yg membeli dagangannya.
"Yasudah saya beli 5 ya pak." Delia mengambil uang yg ia bawa dari rumah. Sang bapak menyodorkan kerupuk tersebut dan memberikannya kepadanya.
"Ini nak, semuanya 25 ribu" jawabnya dengan lembut.
"Makasih ya pak, ini uangnya" ia memberikan 10 lembar uang ratusan kepada sang bapak. Ia tak bisa memberi banyak karena ia tak membawa uang cash. Sang bapak terkejut dengan pemberian uang tersebut.
"Ini kebanyakan nak, bapak gak punya uang kembaliannya." Delia tersenyum menanggapi ucapan bapak tersebut.
"Ini uang untuk bapak. Bapak gunakan untuk membeli makanan dan kebutuhan bapak. Ataupun untuk modal usaha bapak" Delia menjelaskannya dengan lembut.
"Alhamdulillah terima kasih ya nak. Semoga yg kuasa membalas kebaikanmu. Bapak tidak bisa membalas apa apa" ucapnya dengan menangis. Bapak tersebut hendak mencium kaki Delia namun dengan cepat Delia menjauhkannya dari sang bapak.
"Pak tidak boleh jangan begitu ya. Ya sudah saya pergi dulu ya pak. Jaga kesehatan bapak baik baik " Delia beranjak dari tempat tersebut lalu masuk kedalam mobil.
Bapak tersebut melihatnya dan melambaikan tangan dengan senyuman lebar.
********
SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 🎉
__ADS_1
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN 🙏