
Kini Delia sudah berada di kampusnya bersama Mbk sila. Yah ia tetap harus di bawah pengawasannya. Tak apa yg penting tidak menggangu dirinya itu cukup.
Ia menghampiri Tania yg baru saja sampai di parkiran kampus. Eh tunggu dulu tapi Tania dengan siapa pikiran Delia pun kemana mana. Akhirnya ia berlari ke arah Tania untuk memastikan lelaki tersebut.
"Woyyy... gebetan baru ya" ucap Delia dari arah belakang.
"Eh elo Del, masa loe gak kenal sih?" jawabnya sambil tersenyum.
"Tunggu dulu. Kayaknya aku aku kenal deh" sambil mendekat ke arah lelaki itu.
"Ya Allah kak Rendy....!!" teriak Delia terkejut dengan sosok di depannya.
"Bener kan apa kata gue. Kalian ini cocok" lanjutnya
"Hehehe baru mendekatkan diri kok belum jadian" Tania mengajaknya duduk di kursi bawah pohon.
"Ah itu memang awalannya. Kak Rendy Aini dong gabung kita sebentar. Mumpung belum masuk nih" Delia berteriak memanggil Rendy yg setia di parkiran. Dan di jawab acungan jempol.
"Gimana ceritanya Tan, apakah dari pulang kafe dulu kalian langsung pedekate?" tanya Delia tak sabar.
"Emmm.... bisa di bilang gitu sih.. Ah tau ah." Tania notabenya pemalu dalam hal cinta, seperti inilah jawabannya ketika di interogasi oleh Delia.
"Udah jangan malu malu. Loe tuh gak pantes pake muka malu kek gitu" ucap Delia ngeledek.
"Loe mah gitu Del. Oh iya gimana malam pertama kalian hem??? menyenangkan bukan." semburat merah merona di wajah Delia tak bisa di tutupi. Jika mengingat kejadian malam pertamanya dengan Arya.
"Eh siapa yg malam pertama? Delia?" tanya Rendy yg baru saja tiba di antara mereka.
"Eh kak Rendy?" ucap Tania gugup.
"Jawab dong, siapa yg malam pertama" ucapnya dengan mata selidik.
"Maaf ya Kak, kemarin Delia nikah gak undang kak Rendy" merasa bersalah.
"Delia sudah nikah? dengan siapa?" tanya Rendy menyembunyikan keterkejutan nya. Biar bagaimanapun ia masih menyimpan rasa untuknya. Namun kini ia harus mengikhlaskan cintanya bahagia dengan orang pilihannya.
Cinta itu tidak harus memiliki, jika yg kita cintai bahagia bersamanya maka kita harus mengikhlaskan nya. Begitu pikir Rendy.
"Emmz.. mungkin kak Rendy juga gak kenal kok. Kapan kapan kalau ada waktu luang kita ketemuan aja. Sekalian double date gimana?" saran Delia.
"Boleh" ucap keduanya serempak.
__ADS_1
Percakapan ketiganya berhenti saat jam masuk. Masing masing menuju ke ruangannya. Delia berlari ke arah kelasnya karena hari ini dosennya orang yg disiplin waktu jika terlambat sedikit maka ia harus di hukum.
Ia berlari tanpa sengaja kakinya tersandung batu yg tepat berada di depannya.
"Auwww... aduh, kenapa pake acara jatuh segala sih" gerutunya sambil memijat pergelangan kakinya. Tanpa ia sadari dari arah samping terulurlah tangan seseorang. Sejenak ia memandang siapa pemilik tangan kekar ini.
"Terima kasih. maaf merepotkan ku" ucap Delia menerima uluran tangan itu.
"Sama sama, lain kali hati hati." tersenyum menampakkan lesung pipinya.
Tak menghiraukan ucapannya, Delia langsung berjalan sambil menyeret kakinya menuju kelas. Untung setelah ia duduk dosennya baru datang.
Jam pulang menunjukkan pukul 14.00 wib sungguh melelahkan hari ini. Lebih baik langsung pulang dan merebahkan punggung ku ini ke kasur pikir Delia yg terlihat lesu.
"Silahkan non," ucap Mbk sila sang bodyguard membuka kan pintu untuknya.
"Terima kasih Mbk, kita langsung pulang saja ya, sepertinya aku kecapean deh" jawabnya bersender di kursi penumpang.
Tak beberapa lama mata Delia pun terpejam karena rasa kantuknya yg tak bisa ia tahan. Setelah sampai ia langsung terbangun dan tak mau merepotkan Mbk sila.
Sungguh hari yg melelahkan..!!! pikirnya menuju ke kamar Arya atau boleh di sebut kamar nya juga.
Selang 1 jam kemudian, ia terbangun akibat merasakan perutnya yg berat akibat sesuatu. Ia memicingkan matanya dan ternyata pemilik tangan itu adalah suaminya.
Apakah ini mimpi? kenapa jam segini sudah pulang? batinnya bergumam.
"Mas... Ini mas Arya bukan? ucapnya dengan suara lemah.
"Hemmm.. kenapa sayang. kau terlihat lemah sekali apa kau sakit?" jawab Arya memegang dahinya.
"Ah tidak hanya saja aku kecapean. Emmmss di tambah lagi aku laper hehehehe" Delia bangun dan duduk di ranjang.
"Kau lapar? mau makan apa?" Arya selaku suami harus siap siaga jika istrinya menginginkan sesuatu.
"Aku pengen yg asem asem mas kayaknya enak " ucap Delia sambil mengelap ilernya.
"Asem asem? mau rujak?" tanya Arya menebak saja.
"Wah boleh tuh, apalagi pake mangga muda. Hahh segernya" Delia kembali memperagakan ia mengelap ilernya.
Arya yg melihat itu pun langsung beranjak keluar kamar untuk menemui asisten Jo di ruang kerjanya. Bukannya apa ia juga merasa lelah hari ini, jadi ia menyuruh Jo agar membelikan rujak untuk Delia.
__ADS_1
"Loh mas mau kemana?" tanya Delia
"Katanya mau rujak, jadi suruh saja asisten Jo. Biar kita bisa berduaan" jawabnya sambil menaikkan satu alisnya.
"Hem, terserahlah yg penting pake buah mangga muda ya ingat itu.!"
"Iya bawel" Arya keluar dari kamarnya menuju dimana Jo berada. Setelah perdebatan kecil dengan Jo, mau tak mau Jo harus melakukan tugas yg bukan bagian dari tugasnya.
Ahhh nasib asisten gerutunya sambil berjalan keluar mansion.
Arya kembali beristirahat dan memeluk guling empuknya siapa lagi kalo bukan istrinya.
Baru saja Arya mendaratkan rubuhkan di kasur, handphone miliknya berbunyi. Ah siapa sih yg ganggu. orang lagi istirahat juga gerutunya menuju nakas. Sial, ada apa Jo kau menghubungiku apa kau sudah membelinya. gerutunya sambil mengangkat panggilan itu.
"Maaf bos, rujaknya pedes tidak" tanya Jo dengan serius.
"yg sedang saja, kalo pedes kau mau membuat istriku sakit hah" bentak Arya yg terlihat kesal dengan Jo
"Baiklah" Jo langsung menutup telponnya. Dari sebrang sana Jo tersenyum puas akibat berhasil mengganggu tuan muda yg seenaknya itu.
Arya kembali merebahkan tubuhnya, dan memejamkan matanya. Tak ketinggalan tangannya sudah berjalan kemana mana. Tentu saja ke bukit kembar milik istrinya.
kring kring kring....
bunyi telpon Arya untuk kedua kalinya.
"Mas... sudah ah, angkat dulu telponnya siapa tau penting."
"Sial, siapa lagi sih, halo Jo ada apa lagi hah?" bentaknya lagi dengan keusilan asisten gila itu.
"Mau beli berapa bungkus tuan, dua atau tiga" ucap Jo dengan tenang. Tapi siapa sangka di balik ketenangannya itu ia menahan tawanya.
"Beli dua bungkus, jika kau mau beli tiga bungkus paham!" lanjut Arya dengan geram.
"Baik tuan,"
"Hey ingat.. awas kalau kau berani meneleponku sekali lagi... Apa kau mau..??
Mau apa ya...???
Mau Likenya dong hehehe 😁😁
__ADS_1