Antara Cinta Dan Cita Cita

Antara Cinta Dan Cita Cita
Eps 70 Tertangkap


__ADS_3

"Mas gimana kabar mama dan papa ya? Delia kangen mereka" ucap nya menatap Arya.


"Semalam aku dapat kabar dari kak Tama, beliau mengatakan bahwa, ia sudah mendatangkan dokter yg sangat handal, dan hari ini mulai merawat papa. Semoga papa bisa sembuh." jawab Arya menatap lurus ke depan.


"Lalu mama bagaimana mas? jangan sampai mama kecapean apalagi kondisi mama yg baru pulih"


"Kamu tenang saja, kemarin aku sudah mengirimkan banyak pembantu pilihan yg akan menjaga dan merawat mama" jawab Arya mengelus rambut Delia.


"Begitulah, akhirnya aku bisa tenang mas. Aku jauh dari mereka jadi aku tidak bisa merawat mereka. Semoga yg kuasa selalu melindungi mereka"


"Iya jangan terlalu di pikirkan, yg penting berusaha dan berdoa semoga apa yg kita ingin kan bisa terkabulkan. Dan kita kapan mau pulang ke desa?" tanya Arya


"Pengen banget mas, tapi kan jadwal kuliah padet gimana dong?" tanya Delia bingung.


"Lusa akan aku kosongkan jadwalku dan jadwalku. Kita akan berlibur sejenak di desa. Dan menenangkan pikiran, karena di desa itu suasana sangat tenang dan nyaman." Arya kembali mengingat pertemuan pertama kalinya dengan Delia. Yah waktu itu, ia harus turun tangan untuk melihat hasil panen warga disana. Dan ternyata ia tak sengaja menabrak Delia yg ternyata anak dari petani juga.


Ia tersenyum kecut, jalan Tuhan untuk mempertemukan jodohnya itu sangat beragam. Dari yg tidak kenal menjadi kenal hingga menjadi pasangan hidup. Adapun yg sudah berencana namun gagal karena memang bukan jodohnya. Begitu indah skenario tuhan bukan.


"Terima kasih mas, kau memang selalu mengetahui kemauanku. Sebenarnya sudah sejak lama aku ingin ke sana, sekalian memberitahukan kepada ibu bahwa sebentar lagi ia akan menjadi seorang nenek hehehe" ucap Delia membayangkan reaksi ibunya nanti.


"Iya sayang, apa sih yg nggak buat kamu" Arya mencubit hidung Delia karena gemas.


*****

__ADS_1


Jo sekarang berada di sebuah gudang yg jauh dari perkotaan. Aura kepemimpinannya begitu terpancar tatkala ia memasuki ruangan bawah tanah. Semua pengawalnya memberikan hormat kepadanya dan mengawalnya hingga sampai di tempat tersebut.


"Dimana dia sekarang?" ucap Jo dengan tegas. Bahkan yg mendengar suaranya pun di buat merinding olehnya.


"Ada di sana tuan, mari saya antar kan". jawab salah satu mereka.


Sesampainya Jo menyuruh mereka kembali ke tempat masing masing. Ia masuk sendiri dan menemui orang yg selama ini ia cari.


"Dasar bedebah..!!! mau apa kau hah !!! lepaskan aku" teriak orang tersebut.


"Hahahaha... tak semudah itu nyonya. Sebelum aku melepaskan mu, aku ingin sekali mencoba seberapa tajam pisau ini mengenai kulit mulus mu" Jo menempelkan pisau tersebut di pipi orang tersebut lalu berpindah ke tangan dan ke perut.


"Mau apa kamu... Aku tidak mempunyai urusan denganmu" berontak nya berusaha melepaskan ikatan pada kaki dan tangannya.


"Sabarlah nyonya. Sebelumnya jawab pertanyaan ku dengan jujur. Jika kau berani saja membohongiku maka dengan terpaksa pisau ini akan menyentuh kulitmu hahaha.." Jo tertawa puas dengan tatapan tajamnya.


"Baiklah sekarang jawab, apa benar kau yg sudah merencanakan kecelakaan tuan dan nyonya waktu itu" Jo bertanya sambil memutarnya dan memperlihatkan pisau tajamnya.


"Ti-ti dak... a aku saja tidak tau tentang itu." jawabnya dengan tergagap.


"Apa kau yakin dengan jawabanmu, ingat aku sudah mempunyai semua buktinya. Jika mau, maka aku akan menjenloskan mu selamanya di jeruji besi, tapi aku tak sejahat itu" ucap Jo tersenyum sinis


Jo menunjukkan semua bukti yg ia terima dari Marsha. Yah setelah kejadian kemarin, ia bertemu kembali dengan Marsha. Keduanya bekerja sama untuk mencari siapa sebenarnya. Dan usaha mereka berhasil mendapatkan semua bukti dan menangkap sosok tersebut yg tak lain adalah ibunya Marsha sendiri.

__ADS_1


"Dasar anak tidak berguna..!!! sekarang apa mau mu hah. Bukankah tuan mu sekarang sedang sekarat!" ucapnya dengan lantang. Tak ada lagi yg ia tutupi. Matanya memancarkan kebencian yg sangat dalam.


"Dan akan ku pastikan, kau yg lebih dulu ke neraka." Jo mulai menyayat pipi mulusnya.


"Arrrgghhhh.... hentikan !!" ucap nya dengan menahan rasa perihnya.


Jo tak menghiraukan ucapan wanita tua ini. Menurutnya apa yg telah di lakukan ya harus mendapatkan pembalasan yg setimpal.


Tak hanya di situ, ia juga menyayat pahanya yg mulus itu dengan satu goresan namun sangat pedih.


"Arrrgghhhh... hentikan Jo sungguh kau sudah gila. Beraninya kau sama wanita dan orang tua. Apa kau tidak takut dosa." teriaknya membela diri dan menahan perihnya di wajah dan pahanya.


"Itu belum seberapa. Dan jika kau tanya tentang dosa, apa kau tidak memikirkan dosa sebelum merencanakan semua ini" Jo menyindirnya dan membuatnya terdiam.


Pisau tersebut telah berlumuran darah akibat menyayat kedua pipi wanita tersebut. Setelah puas, ia mencuci pisau tersebut dan menyimpannya kembali.


"Bagaimana rasanya. Bukankah nikmat sekali. Dan ini semua akan saya lakukan setiap harinya. Agar kau merasakan bagaimana rasanya menderita." Jo berlalu meninggalkan wanita tersebut dengan keadaan yg lemah.


"Pengawal tolong jaga dia, jangan lupa beri makan dan minum dengan semestinya. Jangan sampai dia kabur. Kalian mengerti!" pesan Jo dan di angguki oleh pengawal.


"Bagus, kerjakan kerjaan kalian kembali." Jo keluar dari gedung tersebut dan menaiki mobilnya menuju ke kota.


Tangan ini telah ternodai karena wanita tua itu. Sebaiknya ku pulang dulu ke apartemen dan membersihkan semua bekas wanita tua itu gumamnya sambil mengendarai mobilnya.

__ADS_1


*******


Terima kasih sudah mampir ❤️


__ADS_2