
"Mas.. bangun dong aku laper nih" ucap Delia membangunkan Arya yg terlelap dengan tidurnya.
"Hemmm.. kamu mau apa sayang" Arya mengucek matanya dan melihat jam di dinding menunjukkan pukul 01.00 dini hari.
"Aku pengen makan mie instan di kasih ceplok telor" jawab Delia dengan memelas. Sesekali ia mengelap ilernya.
"Baiklah, mas ke kamar mandi dulu ya." Arya mencuci wajahnya untuk menghilangkan rasa kantuknya.
Delia masih di ranjangnya sembari membayangkan rasa mie soto dengan kuah pedas dan tambahan telur di atasnya. Sangat menggugah selera.
Arya langsung menuju dapur dan siap berperang dengan peralatannya.
Mulai dari memasak air hingga mendidih lalu ia masukkan mie tersebut. Sambil menunggu mie nya matang ia memotong sayuran tak lupa menambahkan sosis dan bakso. Setelah selesai ia menyajikan dua mangkok mie soto dengan telor ceplok di atasnya.
Ia menuju ke atas untuk memanggil Delia dan mengajaknya makan bersama. Mungkin ini efek lelah dari pertempurannya dari sore hingga lupa untuk makan malam.
"Sayang, ayo kita turun ke bawah. Mie nya sudah matang" Arya membangunkan Delia yg hendak tidur.
"Udah matang kah, tapi kok aku ngantuk ya mas" jawab Delia sambil menguap.
"Jangan gitu dong sayang, di jamin rasanya enak. Tadi mas tambahin sosis sama bakso loh. Yakin gak mau?" goda Arya agar mie buatannya tidak di buang sia sia
"Benarkah? yasudah lah kita makan sekarang" Delia beranjak dari ranjangnya dan mencuci muka sebentar lalu turun bersama.
__ADS_1
Delia menambahkan sambal sedikit agar rasanya pas di lidahnya. Tak lupa ia mengambil kerupuk sebagai pelengkapnya.
"Bismillahirrahmanirrahim..." Delia memasukkan mie tersebut dan mengunyahnya dengan pelan. Arya pun ikut memakan mie buatannya.
"Gimana sayang, rasanya tak kalah jauh kan sama buatan bi Jum" tanya Arya meminta penilaian atas masakannya.
"Hemmm... Rasanya lumayan enak. Eh salah, enak banget..." jawab Delia dengan senyum mengembang. Ia melanjutkan kembali makannya karena terlalu lapar hingga mie dalam mangkoknya pun habis tak bersisa.
"Wah lapar banget ya sayang" tanya Arya sambil cekikikan. Ia melihat mie dalam mangkok Delia habis tak bersisa, bahkan kuahnya pun ikut habis.
"Iya lah, mas seharusnya tanggung jawab, semua ini salah kamu kan? kamu yg membuatku kelelahan hingga melewatkan jam makan malam." Jawab Delia mengingat perlakuan Arya yg memintanya hingga lupa waktu.
"Iya sayang, maafkan aku. Maklum lah kan aku udah puasa lama sekali. Jadi wajar lah minta gantinya juga banyak" Arya beralasan.
******
"Bagaimana kondisi papa saya dok, apa ada perubahan" tanya Tama dengan dokter yg merawat papanya.
"Alhamdulillah, untuk saat ini ada perubahan walaupun sedikit. Kita harus berdoa untuk kesembuhan tuan. Dan tuan Tama tidak usah khawatir, kami akan merawatnya dengan baik" jawab dokter tersebut dengan ramah.
"Lalu, mengapa mertua saya belum sadar juga dok?" timpal Leony yg juga bingung.
"Itu karena membutuhkan waktu, tidak bisa secepat ini. Yg penting tuan harus sering di ajak mengobrol apapun itu. Itu bisa membuat kesadarannya pulih." lanjut dokter tersebut.
__ADS_1
"Baiklah dokter, terima kasih telah membantu kami. Kami mau masuk dulu" pamit Tama yg di angguki oleh dokter tersebut.
Tama Leony dan angel masuk ke dalam kamar perawatan papanya. Sedangkan mama Renata duduk di dekat ranjang suaminya. Ia tak henti hentinya berdoa dan berbicara sendiri. Ia berharap suaminya mendengarkan ucapannya itu.
"Mama, sekarang mama makan lah, setelah itu istirahat. Biar aku dan Leony yg jaga papa" ucap Tama mengelus pundak mamanya.
"Iya sayang, makasih ya." mama Renata menurut apa kata anaknya. Ia juga harus memperhatikan kondisi tubuhnya. Ia juga tidak mau merepotkan anak anaknya.
"Nenek ayo makan sini sama angel" teriak angel memanggil neneknya. Dengan semangat mam Renata menghampiri angel dan duduk di sampingnya.
"Nenek jangan sedih terus, kalau nenek sedih angel juga ikutan sedih. Kalau angel sedih mama sama papa pasti sedih juga. Ia kan ma pa" ucap Angel dengan polosnya. Tak lupa ia mengedipkan sebelah matanya agar mana dan papanya setuju dengan ucapannya.
"Iya sayang, betul kok"
"Iya nenek gak sedih lagi, sekarang angel makannya di siapin nenek aja ya. Kan sudah lama nenek gak siapin kamu" mama Renata mulai mengambil alih kotak makanan tersebut dan mulai menyuapi cucunya.
"Terima kasih nenek, sekarang gantian angel yg siapin nenek ya" angel mulai mengambil sendok dan menyuapkan makanan ke mulut neneknya.
"Pinter banget sih, makasih ya sayang. Nanti kalau kakek sudah sembuh kita main seperti dulu lagi ya." ucap mama Renata dengan mata yg berkaca kaca. Ia mengingat bahwa suaminya sangat merindukan cucunya yg jauh di negara lain. Sedangkan kini cucunya kembali namun beliau tidak sadarkan diri.
"Iya, yg penting nenek jangan sedih dulu. Nenek harus yakin kalau kakek bakal sembuh kok. Kan kita sering berdoa, tidak mungkin kalau Tuhan tidak mengabulkan doa kita" lanjutnya lagi dengan polosnya. Mama Renata tersenyum mendengar ucapan cucunya, walaupun di bilang masih kecil namun pemikirannya sudah jauh lebih tua dari usianya.
Tama dan Leony yg mendengar pembicaraan antara nenek dan cucu pun hanya bisa tersenyum. Keduanya sudah sepakat akan menetap di Singapura saja. Jika mereka merindukan mama dan papa maka mereka akan langsung terbang. Untuk masalah perusahaannya, ia sudah mengandalkan orang untuk mengelolanya.
__ADS_1