
Didapur Bu mia sedang memasak nasi goreng dan ayam kecap karena makanan itu yang paling cepat dibuat. Sebenarnya bu mia ingin memasak nasi kuning untuk riska karna itu makanan kesukaan riska tapi membuat nasi kuning membutuhkan waktu yang lama. Bu mia mengetahui makanan kesukaan riska dari bu santi. Sebelumnya Mereka berdua sepakat akan menjodohkan riko dan riska tapi tidak dengan paksaan. Sehingga bu mia bertanya kepada bu santi mengenai apa yang tidak disukai sampai yang disukai riska.
"Bu aku dari tadi duduk disini terus, aku mau bantuin boleh nggk?" Tanya riska yang dari tadi duduk dimeja makan yang tak jauh dari dapur.
"Ini udah mau selesai ris, kamu sebaiknya panggil riko suruh turun kebawah untuk makan bersama". Suruh bu mia yang sedang menyiapkan nasi goreng.
"Tapi dimana kak riko sekarang? Apa gue cari kekamarnya aja. Gue bahkan tidak tau kamarnya dimana". Ucap riska dalam hati.
"Riko berada dikamarnya, kamarnya berada diatas". Ucap bu mia seolah-oleh dia mengetahui apa yang ada difikiran riska.
"Ah iya bu riska panggil kak riko sekarang". Ucap riska gugup karna bu mia mengetahui apa yang ada dipikiran riska.
Riska pun menaiki tangga dan menuju kamar riko. Diatas terdapat 3 kamar riska bingung yang mana kamar riko. Akhirnya riska membuka satu persatu kamar tersebut.
"Ini kamar apa tempat bermain. Rame banget semuanya serba pink, sepertinya ini kamar adiknya kak riko". Gumam riska kemudian menutup pintunya dan beralih ke kamar satunya.
"Yang ini sangat sederhana. Dindingnya juga warna biru, warna kesukaan ku". Ucap riska sambil tertawa kecil dan menutup pintunya.
Saat dia hendak berbalik tiba-tiba...
__ADS_1
"Eh ayam". Ucap riska kaget.
"Ini orang bukan ayam". Ucap orang tersebut.
"Lagian lo kenapa tiba-tiba ada disini". Ucap riska gugup karna jarak mereka begitu dekat.
"Ini kan rumah orang tua ku jadi aku bebas lah mau kemana aja. kamu ngapain ada disini?". Tanya riko mendekati riska.
"Gue gue gue kesini disuruh ibu buat manggil lo untuk makan bersama". Ucap riska gugup. Kemudian mendorong tubuh riko agar menjauh darinya.
"Benarkah, tapi kenapa bukan mama ku aja yang manggil aku langsung, apa jangan-jangan kamu yang kepengen ketemu aku". Tanya riko sambil tersenyum jail.
"Kamu emangnya gk capek marah-marah terus kayak gitu". Ucap riko sambil memegang pergelangan tangan riska.
"Enggk. Ngapain capek. Lagian lo kenapa jadi orang ngeselin banget si. Terlalu ngurusin hidup orang itu gk baik". Ucap riska sambil mencoba melepaskan tangannya tetapi nihil. Riko terlalu kuat memegang tangannya.
"Tapi kalau jadi aku si capek banget kalau marah-marah terus kayak gitu". Ucap riko.
"Gue gk pe-du-li". Ucap riska.
__ADS_1
"Kamu emangnya gak ada niatan gitu buat berdamai sama aku". Ucap riko sambil mendekati riska.
"Berdamai?". Tanya riska.
" iya berdamai. Kalau lagi ngomong sama aku itu yang lembut meskipun cuma sedikit si, terus jangan panggil gue lo, aku gak terlalu suka panggilan itu". Ucap riko.
"Gue kan udah bilang gue gak peduli. Mau kamu bilang suka atau gak suka gue gak peduli". Ucap riska sambil menekankan kata gak peduli.
"Coba kamu ulangi sekali lagi ucapan kamu." Ucap riko mendekatkan telinganya ke mulut riska.
"Ucapan yang mana". Tanya riska sambil memundurkan wajahnya.
"Tadi kamu panggil aku "kamu" bukan lo, coba ulangi lagi aku mau denger sekali lagi". Suruh riko.
"Mana ada, tadi gue panggil lo bukan kamu. Kuping lo aja yang budek". Ucap riska memalingkan wajah. Kemudian menggigit tangan riko agar riko melepaskan tangannya.
"Ah sakit". Ucap riko mengibas-ngibaskan tangannya yang digigit riska.
Riska pun segera berlari menuruni tangga untuk menghindari riko.
__ADS_1
"Aku akan berusaha agar bisa mendapatkanmu". Batin riko sambil tersenyum.