
Malam harinya di kediaman keluarga Nugroho, Delia menyantap makan malam nya sendiri. Yah, semenjak ia pulang, Jo langsung pergi entah kemana. Mau tak mau ia harus makan sendiri. Ia sudah menyuruh bi jum untuk menemaninya, namun selalu di tolak.
"Rumah sebesar ini tapi tak ada penghuninya. Coba aja ada bayi atau anak anak deh pasti seru di ajak main yah" gumam Delia sendiri di meja makan.
"Tentu saja. Maka dari itu, mari kita buat mereka sekarang." sahut Arya dari arah belakang.
"Loh mas... kenapa ikut pulang. Gimana dengan mama dan papa. Terus dengan kak Tama dan Ony gimana" tanya Delia beruntun. Karena ia sudah berfikir habis makan malam ini ia akan kembali untuk bergantian.
"Kalau suami pulang itu di sambut, di cium kek, di peluk kek. Lah ini? malah di suruh jawab kek mau ujian aja" jawab Arya pura pura kecewa.
"Eh eh bukan begitu mas. Aduh.... sini sini aku peluk dulu" Delia akhirnya memeluk suaminya sejenak. Setelahnya ia menyiapkan air hangat untuk mandi.
Hampir 20 menit lebih Arya berada di kamar mandi. Kini ia keluar dengan aroma khas aroma terapi. Harum dan menenangkan.
"Sayang, kenapa melamun?" tegur Arya saat melihat Delia melamun di balkon kamarnya.
"Ah tidak mas, hanya saja melihat bintang yg bersinar terang. Lihatlah. walaupun bulan bersinar terang, tetapi cahaya bintang tetap bersinar" jawab Delia sembari tersenyum melihat langit malam ini.
"Kau tau, bahkan bulan dan bintang saja masih ada yg nyaingin" lanjut Arya dengan serius.
"Benar kah? lalu siapa saingan nya hem?" tanya balik Delia dengan penasaran.
__ADS_1
"Yaitu yg sedang berada di depanku. Bahkan sinarnya memancarkan keceriaan dan kebahagiaan " balas Arya menatap Delia dengan intens. Delia yg di tatap pun merasa kikuk, akhirnya ia pun membuang muka karena malu.
"Mas Arya mah kurang romantis kata katanya" Delia membuang muka agar tidak terlihat pipinya yg sudah seperti merah tomat itu.
"Yang benar saja, jika tidak romantis kenapa kau masih malu malu seperti itu?" agar membalikkan badan Delia dan melihat wajah Delia yg bersemu merah. Seketika Delia menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Namun Arya tak mau kalah, ia juga berusaha menyingkirkan tangannya dari wajah nya.
"Buka dong sayang, katanya kurang romantis. Baiklah aku akan mengulangi kata kata yg lain" bujuk Arya dengan cekikikan.
"Tidak. Tidak mau. Sudah lah mas pergilah. Jangan ganggu aku dulu" balas Delia tidak melepaskan telapak tangannya.
"Baiklah jika itu mau mu. Aku punya rencana lain" Arya tersenyum sungging dan siap melancarkan aksinya. Delia mengintip apa yg akan di lakukan suaminya itu melalui celah celah jarinya.
"Haha haha ha ha hahaha ha... ampun mas Arya. Perutku sakit sekali tertawa. Ha ha ha haha." teriak Delia merasa geli akibat gelitikan suaminya itu. Yah, Arya melakukan rencananya yaitu menggelitik tubuh istrinya.
"Siapa suruh melawan hem?" Delia tak menjawab. Ia lebih nyaman memeluk tubuh suaminya. Dan menghirup aroma khas sabun mandinya.
*********
"Apa kalian sudah mendapatkan informasi nya?" ucap seseorang dengan lawan bicaranya.
"Begini tuan, menurut pengamatan saya sepertinya tidak ada kecurigaan sama sekali. Dari awal mobil itu melaju dengan kecepatan sedang. Namun pada saat memasuki wilayah tebing dan jalanan yg menurun, mobil itu melaju dengan sangat cepat. Dan sepertinya berusaha untuk mengerem tapi remnya tidak berfungsi. Kebetulan dari arah berlawanan juga ada sebuah truk besar bermuatan barang dan akhirnya tabrakan itupun tak bisa di hindari." jelas seseorang di sebrang sana.
__ADS_1
"Baiklah terima kasih. Kamu tetap lanjutkan pencarian yg lebih jelas lagi. Dan cari tau siapa supir truk itu dan beserta data dirinya" lanjut asisten Jo lalu menutup ponselnya.
Asisten Jo kini tengah berada di balkon apartemen nya. Ia mulai memutar otaknya untuk memecahkan masalah ini. Kemudian ia teringat sesuatu yg mengganjal di hatinya.
"Oh iya, bukankah waktu itu aku sempet melihat Marsha di rumah sakit. Untuk apa dia ke sana. Ini perlu di selidiki." gumamnya sambil menghisap rokok nya.
Akhirnya Jo pun memerintahkan seseorang untuk melihat cctv pada waktu itu. Untuk memastikan apakah itu benar Marsha atau bukan. Setelah itu, ia menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yg lelah dan lengket itu.
Waktu menunjukkan pukul 20.10 wib dan Jo segera menuju rumah sakit untuk menjaga tuannya. Ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri. Ia akan mengabdikan dirinya untuk keluarga Nugroho. Kebaikan mereka kepadanya sangatlah banyak. Bahkan pengabdiannya selama ini pun belum tentu sepadan dengan apa yg telah mereka berikan kepadanya.
"Selamat malam tuan Tama dan nona Leony" ucap asisten Jo saat memasuki ruangan nyonya Renata.
"Malam Jo, ada apa kau kesini. Apa ada berita penting?" tanya Tama pada Jo. Ia sudah memerintahkan Arya dan dirinya untuk beristirahat di rumah saja. Biar dirinya dan istrinya yg menjaga mama dan papanya.
"Ah tidak tuan. Saya kesini karena ingin menjaga nyonya dan tuan. Dan sebaiknya tuan dan nona pulang saja. Karena saya tau tuan pasti sangat lelah. Biarkan saya yg menjaganya. Tuan tidak usah khawatir, saya telah memperketat penjagaan di ruangan ini." jelas Jo dengan mantap.
"Apa kamu yakin Jo? Aku takut jika kamu kelelahan. Kalau kami pulang, lalu siapa yg akan membantumu Jo?" tanya Tama balik. Ia tau, kemampuan Jo tidak bisa di ragukan lagi. Tapi balik lagi namanya manusia juga ada titik kelemahannya.
"Terima kasih sudah khawatir dengan saya. Tapi saya baik baik saja. Sudah menjadi tanggung jawab saya menjaga keluarga ini" asisten Jo membungkukkan dirinya sebagai tanda hormat.
"Baiklah Jo, kami sangat senang memiliki asisten sepertimu. Pengabdianmu begitu besar kepada kami. Kalau begitu, kami pulang dulu. Jika ada apa apa hubungi aku atau Arya." Tama menepuk pundak Jo dan membereskan barangnya untuk di bawa pulang.
__ADS_1