Antara Cinta Dan Cita Cita

Antara Cinta Dan Cita Cita
Eps 41 Kehidupan masa lalu


__ADS_3

Tepat pukul 11.00 siang, aku terbangun akibat cacing cacingku demo meminta jatah makannya. Ku lebarkan mataku menatap sekeliling dan mencari sosok yg sudah meniduriku.


"Dimana kamu mas, apa kamu sedang di luar" gumamku sambil bersender di ranjang.


Kulihat di atas meja ada 3 kotak makanan dan tentunya itu makanan buatku. Secepat kilat ku pakai handuk yg ku injak tadi pagi lalu memakainya. Ku berusaha turun dan ku langkahkan kaki ini untuk mengambilnya jatah makananku.


"Achhh.... Kenapa sakit sekali. Apa aku harus berjalan seperti bebek? Dasar bos mesum....!!!" ku paksa hingga akhirnya bokongku duduk tepat di sofa empuk ini.


"Waow... Ayam penyet sambal matah..." ucapku sambil mengelap ilerku melihat menu makanan ini. Yah walaupun sederhana namun aku sangat menyukainya. Panas nya hari ini di tambah lauk sambal akan membuat keringat bercucuran.


"Sayang, ternyata sudah bangun" ucap Arya dari balik pintu mengagetkanku


"Ah iya mas, aku bangun akibat cacing cacing demo minta di kasih jatah. Bukan pisang mu saja yg minta jatah" ucapku dengan meliriknya


"Hehehe iya iya sayang, maafin mas ya. Sialnya mas gk tahan dengan godaan tubuhmu. Apalagi memakai handuk seperti itu" jawabnya dengan menatapku ingin menelannya kembali.


"Cukup... aku capek mas istirahat kah dulu, baru juga mau makan masak iya mau di ganggu lagi" ucapku dengan cemberut.


"Iya sayang, cepat habiskan makanannya, setelah itu giliran aku yg akan makan kamu" balasnya senyum menyeringai.


Aku pun tak menghiraukan ucapannya, lebih baik ku habiskan makanannya dan bergegas mandi.


******


Author POV


Keemasan cahaya di cakrawala


Di ufuk barat saat hari mulai senja

__ADS_1


Terbelalak mata saat memandangnya


Keindahan dari sang maha pencipta


Sang surya bersiap untuk tenggelam


Menjemput mesra ketenangan malam


Meneguk cahaya >>...


Achmad Rizky Sasta Ramadhani, 13 Februari 2021


Begitulah gambaran suasana hati Delia saat ini. Ia duduk di balkon kamar sembari menatap senja yg mulai tenggelam. Senyum mengembang terulas di bibir manis ini.


Pikirannya berkelana dengan kejadian 3 tahun yg lalu. Dimana saat ia harus menjadi tegar dan kuat menjalani hidup ini. Mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sekolah dan membantu ibunya.


Pernah suatu hari, ibunya tidak mempunyai uang untuk biaya sekolahnya karena hasil panen di desa nya menurun drastis dan itu membuat petani bangkrut. Begitu pula terjadi pada ibu Delia. Mau tak mau ibu Sari meminjam kepada juragan Basuki. Yah dialah satu satunya orang yg bisa membantunya.


Dengan bermodal keberanian ibu Sari mendatangi kediaman juragan Basuki untuk meminjam uang. Dan itu tak masalah untuknya, Asal ibu Sari membayar hutangnya tepat waktu beserta bunganya. Mustahil jika juragan Basuki tidak meminta bunga, karena dari bunga itulah ia bisa menjadi kaya seperti ini.


Dua bulan tiga bulan angsuran ibu Sari lancar untuk juragan Basuki, namun di bulan empat lima dan seterusnya ia harus menyicil membayar sedikit demi sedikit karena uangnya ia gunakan untuk berobat pada waktu itu.


Mau tak mau juragan Basuki mendatangi rumahnya memaksa membayar sekarang kalo tidak ibu Sari harus di penjara waktu itu juga. Delia yg mendengar ibunya harus di penjara mau tak mau ia keluar dari kamarnya dan meminta waktu untuk melunasi hutang ibunya.


Berbeda dengan juragan Basuki, ia menatap Delia seperti seorang kucing melihat ikan asin yg siap di mangsa. Dengan kegugupannya Delia berani meminta waktu dan berjanji akan melunasinya.


Permintaan itu di setujui dengan syarat dalam waktu 2 Minggu harus lunas, kalau tidak.... senyum misteriusnya muncul yg menginginkan Delia menjadi istri kelimanya.


Delia yg mengerti dengan tatapan itu pun langsung meyakinkan dirinya bisa membayar semua hutang ibunya.

__ADS_1


Kepulangan juragan Basuki beserta antek anteknya membuatku pusing harus mencari uang kemana. Ditambah aku yg baru lulus SMP. Tidak mungkin jika aku harus bekerja sedangkan ijazahku tamatan SMP.


Ku langkahkan kakiku menuju belakang rumah, tempat yg sepi sunyi namun disinilah jika ada permasalahan aku menenangkan diri. Ku rogoh kocek celanaku dan mengambil benda ini untuk menghubungi sahabatku.


Tania, yah karena hanya dialah yg mengerti aku, dia juga teman sedari kecil yg selalu ada untukku. Ku tekan tombol hijau yg langsung berhubungan dengannya. Dengan hati hati ku ucapkan apa yg aku rasakan dan meminta saran darinya, siapa tau dia mempunyai kenalan yg bisa membantunya.


Kurang lebih lima menit sudah ku berdiskusi dengannya, akhirnya aku akan mencoba mendatangi ruko di ujung desa ini.


Keesokan harinya, aku bergegas pamit dengan ibu dan mengutarakan pendapatku untuk bekerja di toko tersebut. Awalnya ibu menolak, karena desakan dariku mau tidak mau ibu menuruti keinginanku. Aku menyalami tangan ibu lalu bergegas menuju tempat kerja.


Tepat berada di sana aku mengutarakan maksudku untuk bekerja di sana, sang pemilik toko ragu dengan diriku yg masing bocah lulusan SMP. Akhirnya aku pun menjelaskan semuanya dari hutang juragan Basuki hingga aku tiba di sini.


Beruntung pemilik toko ini baik hati denganku, aku di terima bekerja disini setelah pulang dari sekolah. Yah aku berniat melanjutkan sekolahku dengan biaya yg aku punya. Dengan giat aku belajar serta kerja paruh waktu akhirnya dua Minggu itu aku bisa melunasi semua hutang ibu.


Setelah itu aku pun lega karena hidup dikejar kejar oleh hutang itu tidak lah tenang. Serasa hidup di hantui oleh bayang bayangan uang terus menerus.


(flashback off)


"Kenapa melamun disini hem,? apa kau menyesali dengan kejadian tadi pagi?" tanya Arya menyelidik.


"Tidak, hanya saja aku membayangkan hidupku sekarang dengan yg dulu. Aku harus di tuntut dewasa tegar dan mandiri sebelum usiaku" balasku dengan senyum kecut.


"Berbeda dengan sekarang, semua seperti roda yg berputar kadang berada di bawah kadang juga berada di atas. Kita sebagai manusia hanya perlu menjalani kehidupan ini dengan bersyukur. Syukuri semuanya karena Tuhan mempunyai rencananya sendiri" lanjutku sambil menatap senja yg kian tenggelam.


"Sudahlah, lupakan semua masa lalumu. Jadikan itu pengalaman serta menjadikan dirimu lebih baik lagi. Ingat, kita ini hanyalah sebuah wayang yg di permainkan oleh sang kuasa. Bukankah dalang di balik wayang in adalah sang kuasa? Maka nikmatilah setiap skenario yg telah ia ciptakan untuk kita" balas Arya memelukku.


"Kamu benar mas, terima kasih sudah berada di hidupku. Menerima ku gadis kampung yg Tek mempunyai apa apa". ucapku dengan sendu.


"Lebih baik kita masuk, karena hari sudah mulai gelap dan ini akan membuatmu dingin oleh udara malamnya." Kami berdua pun berjalan beriringan menuju kamar untuk beristirahat sejenak.

__ADS_1


__ADS_2