Antara Cinta Dan Cita Cita

Antara Cinta Dan Cita Cita
Eps 58 Bidadari desa


__ADS_3

Malam kian menghilang.


Hening semakin nampak kesunyian.


Hanya suara hati yang bising di telinga ini.


Tanpa ada taʋtan.


Apalagi jawaban.


Kini cahaya rembulan di tengah awan,


Menemani sang malam yang kan larut.


Kesunyian yang menggumpal semakin jelas.


Tak dapat aku mengartikan.


Bayang-bayang mu yang jelas di pelupuk mata.


Inikah rindu???


Ataukah sekedar perasaan yang hadir sa’at malam-malamku.


Mengapa..


Mengapa bayang-bayang ini slalu yang harus aku temui setiap malam.


Tak ada yang lain kah ?


Malam..


Kau memang hadir membawa sejuta keindahan.


Kau bawa bintang-bintang.


Kau bawa sang rembulan.


Kau pun bawa kesunyian.


Dan kesunyian itu yang kini harus aku lalui bersamamu.

__ADS_1


Malam…


-Lisa Sie Unyin-


Tania memandang langit penuh bintang, serta sinar bulan yg terang. Ah indahnya malam ini. Semoga keindahan ini terus terpancar setiap malamnya.


"Nak, ayo masuk bukankah kamu bilang ada seseorang yang akan datang" teriak ibunya dari dalam rumah.


"Iya Bu, Tania lagi nenangin diri biar gak gugup hehehe" jawab Tania dengan cengengesan


"Kamu itu ya. Sama calon sendiri kok gugup. Lihat nih ibu dulu, waktu bapak datang ke rumah ibu langsung pasang ancang ancang. Bukannya ibu yg gugup eh bapak yg gemeteran" balas ibunya mengingatkan dirinya dahulu yg tak takut dengan calonnya.


"Ibu mah juaranya beda dengan Tania yg mental kacang" balas Tania dengan jujur.


"Eh kalau Tania mau, ibu bisa kok ajarin kamu jadi gadis yg pemberani dan percaya diri" balas ibunya dengan senyum sumringah.


"Wah benarkah? gimana caranya Bu?" tanya Tania dengan wajah yg berbinar.


"Masuk lah. Ibu akan melakukannya di dalam" ibunya pun langsung masuk ke dalam kamarnya dan menunggu Tania menghampiri nya.


"Apa yg harus Tania lakukan Bu?" Tania bertanya sambil duduk di sampingnya.


"Duduklah nak. Ibu akan menjadikanmu wanita yg cantik malam ini." ibunya mulai mengikat rambut putrinya, dan mengambil peralatan makeup miliknya.


"Nah, sekarang lihatlah ke arah kaca. Kau begitu cantik sekali." ucap ibunya dengan tersenyum.



"Benarkah ini Tania Bu? sepertinya bukan diriku?" tanya Tania yg kaget dengan hasil karya ibunya.


"Itu kamu nak, dan sekarang buka lah pintu. Sepertinya pacarmu sudah datang" ucap ibunya menyuruh Tania membuka pintu untuk tamunya.


"Baiklah Bu, hufffttt.... bismillah" Tania menarik nafas dan mengeluarkan dengan pelan.


"Tenang saja nak, tak usah gugup." ibu keluar sambil tersenyum menatap putrinya.


Tania berjalan ke arah pintu dan membuka dengan hati hati. Sebelum membukanya, ia mengintip di jendela untuk memastikan siapa orang yg ada di balik pintu tersebut. Dan dugaannya benar sekali. Rendy sudah datang dan menunggunya untuk membuka pintu. Dengan helaan nafas ia membuka pintunya dengan pelan.


Ceklek..... !!!! bunyi suara pintu mengejutkan Rendy, dan dengan segera ia berdiri menatap gadis yg membukakan pintu untuknya.


Rendy menatap nya dengan tanpa berkedip. Entah apa yg ada pikirannya, merasa kagum atau bagaimana. Dari raut wajahnya bisa di pastikan jika ia sedang kebingungan sendiri.

__ADS_1


"Emm... maaf kamu siapa ya.? dan dimana Tania?" tanya Rendy ragu. Tania yg mendengar ucapan Rendy pun merasa kesal. Karena ia tidak mengenali dirinya. Apa sebegitu buruk kah wajahnya, hingga ia tak bisa mengenali.


"Apakah kamu tidak mengenali sosok yg berada di depanmu?" jawab Tania dengan wajah yg sedikit cemberut.


"Emm... bentar bentar. Sepertinya aku mengenal suara ini. Suaranya mirip seperti punya Tania. Lalu kenapa ada di kamu?" lanjut Rendy merasa bingung.


"Haduh kak Rendy jahat banget sih. Masa tidak mengenali aku. Huhuhu kamu jahat banget. Kemarin bilangnya ingin pendekatan, sekarang sudah lupa" jawab Tania yg sudah tak tahan dengan ucapan Rendy.


"Hey.. kenapa kau malah cemberut. Apa benar ini Tania. Sungguh dirimu seperti di bidadari desa ini" rayu Rendy agar Tania tidak kecewa. Tapi sebenarnya memang penampilan Tania malam ini sangat berbeda. Dan itu lebih anggun dan dewasa.


"Gombal terus..... sudah ayo masuk dulu. Ibu sudah memasak banyak untukmu" ucap Tania mempersilahkan Rendy masuk.


"Baiklah tuan putri" Rendy tersenyum menggoda Tania. Dan Tania pun hanya bisa tersenyum tersipu malu.


"Selamat malam om, Tante" sapa Rendy saat melihat kedua orang tua Tania.


"Malam nak, ini kah cowoknya Tania? wah ternyata tampan dan gagah ya?" puji ibunya Tania dengan senyum mengembang.


"Hehehe Tante bisa aja. Gantengan juga om yg masih terlihat perkasa" jawab Rendy memuji calon mertuanya yg terlihat masih awet muda.


"Itu pasti anak muda. Karena setiap hari Om selalu minum jamu tradisional biar badan tetap bugar" jawabnya dengan santai.


"Ah bapak memang selalu begitu. Jangan terlalu memujinya kak," timpal Tania yg sudah hafal dengan sifat bapaknya yg selalu kepedean.


"Sudah sudah kalian ini. Lebih baik kita makan dulu yah. Sayang loh, ibu sudah masak banyak tapi tidak di cicipi kan" sahut ibu Tania mengajak makan bersama.


Setelah menikmati jamuan malamnya, kini Rendy mengutarakan keinginannya. Gugup gelisah? tentu saja. Karena ini pertama kalinya ia meminta izin kepada orang tuanya secara langsung.


"Ehem... Rendy menetralisir keadaan agar tidak terlalu canggung.


"Emm... begini om Tante. Kedatangan saya kemari ingin meminta izin kepada om dan Tante..." Rendy menjeda sejenak ucapannya. Ia bingung harus melanjutkan kata katanya gimana. Apa meminta izin buat pacaran? ah tidak mungkin. Lalu bertunangan? kan lagi masa pendekatan. Ia pun menggaruk tengkuknya sendiri yg tidak gatal.


"Iya.. om paham kok maksudnya nak Rendy. Om juga minta tolong, jaga Tania di sana ya. Tolong terima kekurangannya. Karena setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Bisa jadi kekurangannya adalah kelebihan mu. Karena sejatinya sepasang lelaki dan wanita adalah saling melengkapi" balas bapaknya Tania dengan lembut.


Rendy pun mendengarkan semua ucapan bloknya Tania dan selalu mengingatnya. Ia belajar dewasa dan mengambil tindakan yg sudah ia pikirkan matang matang.


"Tentu saja om. Saya akan berusaha menjaganya baik fisik dan hatinya. Terima kasih om sudah mempercayaiku" Rendy mengakhiri ucapannya.


Perbincangan mereka pun beralih ke arah kehidupan di kota. Bagaimana kerasnya hidup di kota orang. Apa apa serba sendiri, harus mandiri dan harus siap mental. Namun semua itu sudah Rendy lalui dengan kuat. Sampai akhirnya ia berada di titik senyaman ini.


*******

__ADS_1


Maaf banget ya akhir akhir ini author malas banget untuk up. Apalagi kerjaan author ibu rumah tangga dan mengurus baby, jadi waktunya harus di bagi sama rata. Dan untuk merangkai kata dan memikirnya alurnya itu tidak mudah. Jadi tolong berikan saran yg membangun yah. Jangan lupa beri dukungan dan semangat agar author lebih giat lagi up setiap hari.


Terima kasih love u ❤️❤️❤️


__ADS_2