
Seminggu telah berlalu, kunjungan Tania ke desa nya pun berakhir. Mau tak mau ia harus kembali ke kota. Pagi ini ia tengah bersiap dan tak lupa berpamitan kepada kedua orang tuanya.
"Kamu hati hati ya nak, jaga diri baik baik. Ingat pesan ibu sama bapak ya." ucap ibunya memeluk Tania.
"Iya Bu pak. Jika nanti ada liburan lagi, Tania pasti pulang kok. Kalian juga jaga diri baik baik yah." balas Tania dengan sudut mata yg sudah berair.
"Ya sudah, kamu cepat berangkat. Nanti kesiangan jalanan macet loh" lanjut ibunya memberikan senyuman semangat kepada Tania.
"Ibu bapak, Rendy pamit dulu ya" Rendy menyalami kedua orang tua Tania.
"Iya nak, kalian hati hati ya." ucap keduanya.
Mobil pun melaju pelan pelan menjauhi kediaman Tania. Terasa berat meninggalkan orang tua yg sangat kita sayangi. Namun bagaimana lagi, keadaan yg menuntut seperti ini. Semoga dengan begini, suatu saat akan berkumpul.
Tidak ada orang tua yang tidak merindukan anaknya ketika mereka jauh. Apa pun yang kita berikan kepada orang tua tidaklah cukup untuk menggantikan apa yang orang tua berikan pada kita.
"Sudahlah jangan melamun, kamu juga harus semangat demi mereka. Lakukan semua ini demi kebaikan dan juga demi keluarga pasti hasilnya tidak akan mengecewakan. Percayalah itu." ucap Rendy memecahkan keheningan. Sedari tadi ia selalu memperhatikan raut wajah Tania seperti di liputi mendung.
"Hmm.. begitu kah? apakah cara itu yg kak Rendy lakukan kala itu?" jawab Tania menoleh ke arah Rendy.
"Tentu saja. Jika aku bermalas malasan maka yg aku ingat adalah wajah keduanya, senyum keduanya. Dan aku tidak mau mengecewakan mereka. Aku harus bisa membuat mereka tersenyum setiap saat." sejenak Rendy menghela napas.
"Dan sekarang yg harus kamu lakukan adalah jalani semua ini dengan ikhlas. Jangan lupa berdoa dan bersyukur atas apa yg telah Tuhan berikan kepadamu. Coba kamu lihat orang tua yg sedang berjualan disana, tidakkah itu lebih menyedihkan? dimana masa tua mereka harus mereka jalani dengan berjualan. Nah sekarang kamu harus bisa membuat orang tua kamu masa tuanya duduk di rumah." lanjutnya sambil berhenti tepat di depan kakek kakek yg sedang berjualan.
Rendy pun keluar dari mobil menghampiri kakek yg ia sebut tadi.
"Pagi kek, kalo boleh tau kakek jualan apa ya" ucap Rendy menyapa sang kakek
__ADS_1
"Kakek jualan keripik singkong nak. Anak muda mau beli?" tanya sang kakek dengan senyuman khas lelah nya. Rendy yg melihatnya pun tak kuasa. Ia mengiyakan ucapan kakek untuk membeli dagangannya.
"Tentu saja kek, berapa satu bungkusnya?" Rendy melihat setumpuk keripik singkong yg masih belum terjual.
"Sebungkus 5 ribu nak. Silahkan pilih mau yg rasa apa" tanya sang kakek kembali
"Baiklah kek, aku mau semua rasa ya kek. Lumayan buat teman cemilan di jalan" Rendy tersenyum melihat senyum serta mata yg sudah berkaca dari sang kakek.
"Tunggu sebentar ya anak muda. Ini udah semuanya jadi 20 ribu" sang kakek memberikan keripik tersebut sambil mengelap sudut matanya.
"Ini kek uangnya, dan kembaliannya buat kakek saja ya." Rendy memberikan uang seratus ribu untuk sang kakek.
"Tapi nak, ini terlalu berlebihan. Tunggu sebentar kakek ambilkan kembaliannya ya" balas sang kakek merasa tak enak.
"Tidak usah kek, anggap saja ini rezeki dari Allah. Kakek bisa gunakan untuk di tabung ataupun keperluan lainnya. Dan ini ada sedikit rezeki buat kakek, kakek terima ya" Rendy mengeluarkan lima lembar seratus ribuan untuk sang kakek.
"Tidak apa kek, Rendy ikhlas buat kakek. Semoga uangnya bisa bermanfaat bagi kakek. Dan jualan kakek juga lancar terus" lanjut Rendy memeluk sang kakek.
"Terima kasih nak, semoga Allah membalas kebaikanmu dan semoga kau selalu dalam perlindungan nya" doa sang kakek untuk Rendy.
"Ya sudah kek, aku pamit lanjut duku ya kek Assalamualaikum." Rendy menyalami sang kakek lalu menuju mobilnya kembali.
"Apa yg kak Rendy lakukan?" tanya Tania yg bingung dengan kelakuannya.
"Tidak, hanya membeli keripik singkong jualannya. Lumayan kan buat teman nyemil kita" Jawab Rendy dengan jujur.
"Oh begitu. Tapi bukankah kita sudah membawa bekal dari rumah?" tanya Tania lagi.
__ADS_1
"Iya kan tidak ada salahnya kita membantu orang dengan membeli dagangannya. Walaupun kita tidak membutuhkannya tapi setidaknya kita bisa membuatnya tersenyum" lanjut Rendy menjalankan mobilnya.
Tania mendengarkan semua yg di ucapkan oleh Rendy. Ada bebernya juga ya, walaupun kita tidak bisa membantu banyak setidaknya meringankan bebannya dengan membeli dagangannya gumamnya sambil membuka keripik singkong tersebut.
"Emmmm... enak banget loh kak." ucap Tania mengejutkan konsentrasi Rendy.
"Apaan?" tanya Rendy langsung menatap Tania dengan mulutnya yg penuh keripik.
"hem.. koakk keripeiknya eunak Hem..." Tania berbiacara dengan mulut penuh keripik.
"Kamu bicara apa? habiskan dulu keripiknya baru bicara" Rendy geleng geleng melihat tingkah Tania.
Beruntungnya pagi ini jalanan tidak macet seperti biasanya. Sehingga tidak membuang waktu yg lama. Setelah sampai di kota, Rendy langsung mengantarkan Tania ke kos kosan yg selama ini di tinggali.
"Makasih ya kak, mau mampir dulu gak?" ucap Tania setelah sampai di kos kosannya.
"Ah tidak, tidak baik seorang laki laki dan perempuan satu rumah tanpa ikatan suci. Setelah nikah baru itu wajib" jawab Rendy yg sengaja menggoda Tania. Reaksi Tania seperti biasa, ia menunduk menahan malunya.
"Emmm baiklah jika seperti itu. Kamu hati hati di jalan. Aku masuk dulu" lanjut Tania berucap tanpa melihat ke arah Rendy.
"Hahahaha kamu lucu sekali. ya sudah aku balik dulu ya" Rendy pamit tak lupa mengacak rambut Tania dengan gemas.
"Iya, hati hati di jalan" Tania tersenyum lebar.
Semenjak kepergian Rendy kini Tania tengah membersihkan kos kosan yg ia tinggal selama seminggu ini. Ternyata banyak debu dan harus di bersihkan semuanya. Setelah semuanya bersih, Tania membaringkan badannya yg terasa pegal ini hingga ia terlelap ke alam bawah sadarnya.
Sekedar Like namun itu sangat berharga untukku. Terima kasih ❤️
__ADS_1