
"Sering pusing, terus mual mual. Apalagi mencium bau masakan. Rasanya eneg banget" jawab Delia dengan jujur.
"Baiklah, sekarang kita lakukan USG saja ya biar jelas" Ketiganya pun menatap layar yg berada di depannya dan mendengarkan penjelasan dari dokter Nadia.
Nadia menjelaskan secara detail dan menjelaskan setiap foto yg ia ambil. Setelah selesai Arya dan Delia boleh bertanya apa yg belum ia pahami.
"Alhamdulillah akhirnya aku akan menjadi ayah..." seru Arya dengan gembira. Terlihat raut wajahnya yg penuh kebahagiaan.
"Selamat ya atas kehamilannya. Usianya menginjak 4 Minggu jadi kemungkinan akan merasakan pusing mual dan muntah di trimester pertama. Jadi nona jangan khawatir." jelas dokter Nadia dengan sopan.
"Panggil Delia saja dokter, gak enak harus di panggil nona" jawab Delia yg risih di panggil nona terus.
"Ah baiklah Delia. Itu mungkin lebih akrab ya hehe"
"Oh iya nad, aku masih boleh kan jengukin junior hem?" tanya Arya dengan alis yg dibuat angkat keatas.
"Emm.. tentu saja boleh. Tapi... ini ada tapinya loh. Di trimester pertama itu sangat rentan, jadi kalau bisa di hindari ya hihihi" jawab dokter Nadia dengan cekikikan.
Ia paham sekali dengan ekspresi Arya. Ia sangat frustasi bahkan tubuhnya lemes tanpa tenaga.
"Tapi kau tenang saja Arya, setelah trimester pertama kau boleh melakukannya. Apalagi menjelang lahiran. Itu sangat bagus loh" lanjutnya lagi untuk memberikan harapan kepada Arya.
"Wah benar kah itu. Akhirnya aku tidak puasa selama itu" jawab spontan Arya dengan senang.
"Mas kau ini malu malu in. Masalah gitu aja di tanyain." gerutu Delia menahan malunya.
__ADS_1
"Tenang saja Delia, kau tak usah malu. Anggap saja aku ini kakakmu dan kau boleh curhat tentang apapun. Jangan sungkan ya" lanjut dokter Nadia seakan tau apa yg di rasakan oleh Delia.
"Baiklah kak Nadia. Dan aku panggilnya kak aja ya? karena kan kak Nadia lebih tua dari aku"
"Tak apa itu lebih baik. Ini obatnya jangan lupa di minum ya. Istirahat yg cukup dan banyakin olahraga ringan seperti jalan kaki." nasehat dokter Nadia sembari memberikan obat nya.
"Yasudah terima kasih ya nad, ayo sayang kita pulang sekarang. Kamu harus banyakin istirahat dan jangan sampai capek. Ingat itu." ucap Arya mengajak pulang Delia.
Nadia adalah teman sekolahnya waktu SD hingga SMA. Bisa di katakan mereka sangat dekat pada waktunya. Hingga Nadia menaruh hati padanya. Siapa yg tak suka dengan lelaki seperti Arya yg hampir sempurna. Namun berbeda dengan Arya, ia tak mengetahui jika Nadia menyukainya. Yang ia tahu, Nadia adalah teman sekaligus sahabatnya.
Perasaan itupun semakin memudar saat mengetahui Arya memilih kuliah di luar negri. Tak mau berharap lebih, akhirnya nadia pun melupakannya dan fokus untuk masa depannya.
*******
"Jam itu seperti milik Marsha. Yah benar, bukankah tuan Arya pernah menyuruhku untuk membelikannya sebuah jam tangan. Dan itu mirip sekali dengan yg kutemukan kemarin? Lalu kenapa ada di tempat kejadian?" Jo memikirkan itu pun kembali memijat keningnya. Ia tak berani memberitahu tentang ini ke tuannya. Jika belum jelas berarti itu belum tentu. Jadi ia harus menuntaskannya dulu.
Akhirnya, ia menyuruh seseorang untuk mencari keberadaan Marsha dan mengikuti setiap gerakan yg ia lakukan. Untuk memastikannya, ia harus benar benar menyelidikinya.
Tepat jam 15.00 wib ia keluar kantor untuk membeli makanan. Ia sangat bosan duduk di kursi dan berkutat dengan komputer ataupun kertas dokumen yg bertumpuk itu.
Mobil berhenti tepat di depan penjual batagor dan es dawet, menggugah selera. Ia turun dari mobil merapikan kemejanya dan menggulungnya sampai ke siku. Semua pengunjung terpesona oleh ketampanannya.
"Waow... ternyata memang ada yg cowok ganteng versi lokal? aku kira yg ada hanya di Drakor Drakor itu?" ucap seseorang dengan temannya. Tak henti henti menatap wajah Jo yg berjalan melewatinya.
"Benar, sungguh beruntung cewek yg mendapatkannya." balas temannya yg tak kalah melotot ke arah Jo.
__ADS_1
Jo yg mendengar itu pun tak mau ambil pusing. Karena memang selama ini ia sering di puji seperti itu, bukan karena kepedean loh ya, tapi ini memang fakta kalau gak percaya tanya aja sama author nya hehehehe.
"Bang batagor ya dua porsi di bungkus sama es dawetnya juga di bungkus." ucap Jo yg sudah berlangganan di tempat tersebut.
"Baik mas, silahkan duduk dulu ya, saya buatkan pesanannya." jawab sang penjual dengan ramah. Tak lama kemudian Jo pun duduk di dekat Abang penjualnya dan menghadap ke arah sang pengunjung.
Saat matanya beralih ke samping, ia mendapati sosok yg ia cari. Siapa lagi kalau bukan Marsha. Namun ada yg aneh dengan penampilannya. Kenapa ia sangat tertutup sekali. Ia berpakaian menggunakan celana jeans panjang di padu dengan kemeja yg agak kebesaran di tubuhnya.
Jo pun langsung berlari ke arahnya dan berharap memang yg di lihatnya adalah Marsha.
"Marsha tunggu..." Teriak Jo ke arah Marsha yg membelakanginya. Marsha yg merasa di panggil pun seketika menoleh kebelakang. Mendapati Jo di belakangnya, Marsha pun berusaha lari dan menghindari Jo. Begitupun dengan Jo, ia melihat Marsha berlari ikut menyusul dan tak mau kalah jejak lagi.
"Marsha berhenti. Kenapa kau menghindari ku hah.. ! " bentak Jo saat berhasil memegang tangan Marsha.
"Ma-ma af aku hanya tidak ingin berurusan dengan mu lagi" jawab Marsha dengan gugup.
"Apa? seorang Marsha barusan mengucapkan maaf kepadaku? sungguh ini luar biasa. Bahkan perubahannya pun sangat melejit. Aku harus tetap waspada. Siapa tau ini adalah trik nya yg sekarang." gumam Jo dalam hatinya.
" Tidak, bukan begitu Marsha. Sekarang ayo ikut aku kesana. Kita bicarakan sebentar oke" lanjut Jo menarik paksa tangan Marsha. Ia tak perlu mendapatkan persetujuan dari si empunya. Karena mau tak mau ia akan memaksanya.
"Sekarang jelaskan, kenapa kamu berubah seperti ini?" tanya Jo tanpa basa basi
"Aku begini karena kurang like dari kalian. Ayolah like aku dulu hehehehe ✌️
Salam manis dari author ❤️
__ADS_1