Antara Cinta Dan Cita Cita

Antara Cinta Dan Cita Cita
Eps 62 Makan sore


__ADS_3

Sore ini semua anggota keluarga berkumpul di ruangan papa Hendra. Semuanya terlihat sedang memikirkan sesuatu dan ada juga yg sedang bingung.


"Gimana ma, apa sebaiknya kita bawa papa ke Singapura saja?" tanya Arya memecahkan keheningan ini.


"Mama gak tau nak, mama juga bingung harus bagaimana" jawab mama dengan sesenggukan.


"Iya ma, kalau memang mau di bawa ke Singapura juga gapapa. Siapa tau papa bisa sembuh dengan menjalani perawatan di sana. Dan mama jangan khawatir, aku akan tinggal di singapur sampai papa sembuh. Kamu setuju kan sayang" timpal Tama kepada mamanya dan bertanya kepada istrinya.


"Tentu saja sayang, keluargamu juga keluargaku dan keputusanmu itulah yg terbaik" jawab Leony dengan tulus.


"Yasudah terserah kalian saja, yg terpenting papa bisa dapat perawatan yg baik di sana" jawab mama dengan pasrah.


"Mama yg sabar ya banyak banyak berdoa supaya papa cepat sembuh" ucap Delia memeluk pundak mertuanya.


"Iya ma, mama jangan terlalu banyak pikiran. Mama juga kan baru sembuh, jadi banyakin istirahat juga ya" timpal Leony yg berada di sebelah mana Renata.


"Terima kasih nak, kalian memang anak anak yg baik" memeluk kedua menantu yg berada di sisi kanan dan kirinya.


"Okelah ma, Tama akan mengurus semuanya. Dan kamu Arya, urursi perusahaan disini. Jika ingin menjenguk mama dan papa kalian bisa menggunakan waktu yg luang." ucap Tama dengan tegas.


"Baiklah kak, aku pasrahkan mama dan papa kepadamu. Jika kalian membutuhkan bantuan ku maka jangan sungkan menelponku." jawab Arya menanggapi ucapan kakaknya.


"Oke semuanya selesai, dan malam ini kita siap siap supaya besok bisa langsung terbang" Tama mengakhiri diskusi nya.


Setelah diskusi selesai, semuanya bubar dan menjalankan perannya masing masing.


"Ma, aku dan Delia mau keluar sebentar ya, mau ngisi perut hehe. Mama mau titip apa?"


"Emmm.. mama mau pecel lele aja. Sama minumnya teh hangat."


"Baiklah, kalo kak Tama sama Leony mau apa? angel?" ucap Arya menawarkan kakak dan keponakannya.

__ADS_1


"Aku samakan mama saja" ucap keduanya dengan serempak.


"Hemmm.. kompak banget sih. Kalo kamu angel mau apa, om yg traktir loh?" goda Arya kepada angel. Yah semenjak kepulangannya ia selalu diam dan tidak seperti biasanya. Mungkin ia juga merasa sedih dengan keadaan kakek yg ia sayangi.


"Emmm.. kalo angel mau ikut aunty Delia gimana? boleh kan?" tanyanya dengan polos


"Tentu saja"


"Tidak, tidak boleh"


Jawaban keduanya membuat angel merasa bingung. Di satu sisi ia senang karena aunty Delia mengizinkannya, namun di suatu sisi om Arya melarangnya.


"Yasudah, angel mau bakso saja." jawabnya dengan lesu.


"Mas nggak boleh gitu kalian tau angelnya jadi sedih lagi kan" bisik Delia ke telinga Arya.


"Eh angel sayang keponakan aunty yg paling cantik. Kamu boleh kok ikut dengan aunty tapi dengan satu syarat yah" timpal Delia menggendong angel dalam pelukannya.


"Kami pergi dulu ya. Assalamualaikum " ucap Delia keluar sambil menggendong keponakan manisnya itu.


Mereka sudah duduk di atas karpet sebagai alasnya. Warung pinggir jalan namun tetap menjaga kebersihan di setiap sudut nya. Makanan yg enak bisa di dapatkan dengan harga yg murah. Bukan masalah harganya, namun ini benar benar sangat enak. Jika di tanya, kenapa mereka tidak membuka restoran atau setidaknya menyewa kios untuk berjualan. Mungkin alasannya yaitu mereka kekurangan modal atau bisa jadi mereka menyukai suasana di pinggir jalan yg dapat melihat langsung keadaan kota.


"Buk pesan nasi pecel dua sama bakso satu ya. Oh iya minum nya es teh tiga." ucap Arya memesan makanannya.


"Oh iya mas tunggu sebentar ya" jawab ibu penjual dengan logat khas jawa. Arya kembali ke tempat duduknya dan bergabung dengan istri dan keponakannya.


"Waduh seru banget sih, lagi main apa nih" Arya mengahmpiri keduanya.


"Ini nih om, masak aunty bilang kalau matahari itu ada dua. Yg betul kan ada satu" ucap Angel mengadu kepada om nya.


"Betul, memang matahari ada satu. Lalu kenapa kamu bilangnya ada dua sayang?" tanya Arya dengan penasaran.

__ADS_1


"Iya mas, yg satu matahari untuk menyinari dunia. Dan yg satunya itu spesial banget yaitu untuk menyinari hatiku" jawab Delia dengan entengnya.


"Ishh garing banget sih. Kurang pro tau gombalannya." Arya sengaja menggoda istrinya dan langsung bibirnya cemberut seperti gunung muncung.


"Mas Arya gak asyik ah, gak mau bicara sama mas Arya" jawab Delia tampak kecewa dengan jawaban suaminya itu. Entah kenapa akhir akhir ini ia sering banget berubah ubah moodnya. Terkadang ia merasa senang dengan hal kecil ataupun kecewa dengan hal kecil. Ah mungkin mau datang bulan pikirnya.


"Sayang jangan gitu dong, eh kamu tau nggak kenapa kalau malam mataharinya gak ada?" tanya balik suaminya sambil merangkul pundak istrinya.


"Entah mana ku tau" jawab ketus Delia.


"Jawabannya karena mataharinya ada di kamu. Kamu matahari yg selalu menyinari hari hariku dengan senyuman. Jika matahariku sedang cemberut, marah dan sedih itu rasanya seperti sedang mendung dan sebentar lagi mau hujan. Aku lebih suka matahari yg bersinar terang, bahkan sinarnya bisa membuat semangat seseorang bangkit kembali." lanjut Arya mengelus rambut istrinya.


"Cieee romantis banget sih. Angel jadi pengen punya suami" ucap polos angel sambil cengengesan.


"Hussshh... tidak boleh, angel kan masih kecil. Lebih enak jadi anak kecil loh, bisa main sama teman teman. Kalau aunty kan gak bisa main kayak angel lagi kan?" Delia memberikan pernyataan yg benar jika masa kecil itu jauh lebih enak dari masa dewasa.


"Betul itu, kamu itu masih kecil jadi jangan mikirin kayak gitu ya." jelas Arya ikut menasehati keponakannya itu.


"Ini semua gara gara kamu mas, lihat anak kecil seperti angel harus mendengar semua ucapan gak bermutu itu" Delia menyalahkan Arya karena masih kesal dengannya.


"Sudah sudah dong om aunty, angel lapar nih lebih baik makan sekarang deh" angel menengahi keduanya dan segera menyantap bakso pesanannya.


Akhirnya mereka bertiga pun menghabiskan pesanannya masing masing. Tak lupa memesan pesanan kakak dan mamanya. Setelah selesai mereka pun segera pulang karena hari sudah mulai gelap.


********


Ayo... siapa yg masa kecilnya pernah berpikir seperti angel. Kalau menjadi dewasa itu menyenangkan. Namun semua itu salah, karena paling bahagia itu waktu masa kecil bisa bermain dengan teman tanpa beban pikiran. Berbeda dengan dewasa, banyak masalah dan pikiran. wkwkwkwk...


Tapi itu menurut aku ya, gak tau deh menurut kalian gimana hehehehe.....


Salam dari author 😊

__ADS_1


__ADS_2