
"Segarnya.... setelah ini langsung istirahat sejenak ah" gumam Delia yg sedang merapikan rambutnya.
"Emm... tapi aku belum menanyakan kabar ibu dan mama. Kata Mbk sila kan aku harus berbakti kepada orang tua dan mertua" lanjutnya lagi memikirkan itu.
"Ah baiklah, aku istirahat sebentar setelah itu akan aku telfon mereka" lanjutnya kembali.
Setelah merebahkan punggungnya di kasur, ia merasakan nikmatnya rebahan.
"Pantesan kaum rebahan betah di rumah, ternyata enak juga ya hihihi" gumamnya lagi seraya cekikikan.
"Eh tunggu dulu, aku kan belum makan siang, kasian junior gak dapat gizi dong. Capcus ke dapur" ia bergerak turun keluar dari kamar dan menuju ke dapur.
"Mas Arya...!!" teriak Delia tatkala melihat suaminya keluar dari ruang kerjanya.
"Ada apa sayang, kamu mau apa" tanya nya yg seakan tau apa yg di inginkan oleh Delia.
"Aku lapar, makan bareng yuk." ajaknya sambil bergelayut manja di lengan suaminya.
"Baiklah sayang, kamu mau makan apa biar BI Jum yg masak" tawar Arya.
"Aku mau kamu yg masak untuk aku mas, selama ini kan gak pernah memasak spesial buat aku. Ya..?" Delia mengutarakan pendapatnya.
__ADS_1
"Tapi kan, aku gak bisa masak yang. Kalau kamu gak suka gimana kan kasian sama junior." rayu Arya agar dirinya tidak memasak. Bisa di bayangkan jika ia yg berada di dapur, maka dapur akan seperti kapal pecah'.
"Tak apa mas, aku hanya memintamu memasak telur mata sapi kok. Kayaknya enak makan nasi hangat terus lauknya telur mata sapi di kasih kecap sedikit. Nyam.." ucap Delia sambil mengelap sudut bibirnya. Ia tahu, memang seperti itu adalah lauk sederhana namun nikmatnya luar biasa.
"Baiklah, hanya telur ceplok kan?" tanya nya lagi memastikan pesanan istrinya.
"Iya sayang, jika mau maka aku tambahin...."
"Tidak sayang, itu saja oke. Sekarang kamu duduk sini biar aku masak buat junior dan istriku tersayang." jawabnya dengan ragu.
Arya mengambil telur lalu memecahkannya di mangkok. Dengan tangan bergetar ia mengambil teflon dan menghidupkan kompor nya. Lega rasanya setelah melihat apinya menyala. Dengan hati hati ia menuangkan minyak nya, setelah minyaknya panas ia menuangkan telur tadi ke dalam teflon.
"Alhamdulillah.. akhirnya aku bisa goreng telur" ucapnya membanggakan diri.
"Tidak usah bi, karena ini pesanan spesial dari istri tercinta." dengan bangganya ia mengucapkan itu.
"Tapi itu tuan, telurnya gosong karena tidak di balik" jawab BI Jum dan Arya pun membalikkan badannya. Ternyata benar telur yg ia masak gosong akibat apinya besar dan lupa ia balik.
"Gagal maning gagal maning" ucapnya pasrah dan kembali mencobanya.
Dua kali ia mencobanya, namun semua gagal terus. Yg kedua telurnya jatuh saat ia membaliknya dan yg ketiga telurnya pecah menjadi telur orak arik dan yg ke empat inilah membuahkan hasil yg sempurna.
__ADS_1
"Tara... telur ceplok mata sapi sudah siap. Silahkan di coba" ucap Arya memberikan hasil karyanya.
"Wahh sepertinya enak, aku makan sekarang ya?" Delia mengambil telur dan nasi secara bersamaan. Tak lupa ia mencampur nasinya dengan kecap yg sudah ia tuang ke dalam piringnya.
"Gimana sayang, sudah bisa di sebut chef kan aku?" ucap Arya
"Hehehe enak banget dong mas. Pokoknya ini telur ceplok terenak" Delia menahan rasa asin dengan menambah nasinya.
"Kelihatannya enak banget ya sayang, mas juga mau dong. Kita makan sepiring berdua ya" Arya mendudukkan bokongnya di kursi dan siap mengambil nasi serta telur karyanya.
"Eh jangan... Enak aja. Ini kan buat aku kenapa mas Arya mau ambil. " Elak Delia karena ia takut Arya mengetahui kalau telurnya kelebihan garam.
"Masak sedikit saja gak boleh. Aku juga ngiler tau" Arya langsung mengambil tanpa permisi dan memasukkannya ke dalam mulut.
Arya mengunyah dengan perlahan dan merasakan kalau telurnya kebanyakan garam. Ia pun berlari memuntahkan semuanya dan segera meneguk air hingga tak tersisa.
"Sayang, sudah jangan di makan ini itu asin banget. Sudah aku belikan saja ya" Arya mengambil piring di meja dan segera membuangnya.
"Jangan dong mas, aku habiskan aja. Lagian gak asin banget kok. Ini tu enak, tapi kalau mas Arya mau belikan juga gak papa nanti aku makan. Tapi ini juga jangan di buang. Mubazir tau, kalau mubazir itu temannya setan loh" jelas Delia segera menghabiskan makanannya.
"Baiklah kalau begitu, akupun tidak mau berteman dengan setan hihihi" jawab Arya mengangguk.
__ADS_1
Perut kenyang hati pun senang. Begitulah yg Delia rasakan saat ini. Delia menuju kamarnya dan beristirahat di balkon kamarnya sambil menikmati pemandangan sekitar rumahnya.
********