ARZU

ARZU
Chapter 10


__ADS_3

"Maaf kami telat datang." seru seseorang yang mendapatkan perhatian semua orang.


"Inna." seru Juju yang langsung menghampiri Inna dan memeluk sahabatnnya itu erat. Inna membalas pelukkan Juju. Inna memang pergi sendirian karena Samuel sedang keluar kota.


"Yang lain mana?" tanya Juju melerai pelukannya.


"Arzu menyusul dibelakang." ucap Inna membuat Cella menyunggingkan senyuman lebarnya. Marcel yang menyadari itu hanya ikut tersenyum melihat wajah putrinya yang begitu bahagia. Lalu tak lama terlihat Arzu berjalan mengandeng tangan Monik yang begitu cantik dengan gaun yang pas ditubunya.


"Aku tidak apa-apa kak, kakiku sudah baikan." ucap Monik tersenyum kearah Arzu.


"Jika sakit katakan." ucap Arzu.


"Ya." ucap Monik tersenyum kearah orang-orang yang sedang menatapnya. Cella yang tadi tersenyum kini mulai memudar dari bibirnya. Ia menatap kearah Arzu yang begitu mesra merangkul pinggang Monik.


"Happy birthday Cella." ucap Arzu memberikan sebuah kotak kecil pada Cella.


"Terimakasih." ucap Cella tanpa ekspresi. Ia menatap Monik begitu lekat.


"Kamu Monik kan? Anak bik Yeni yang dulu kerja disini?" tanya Juju saat mengenali Monik. Monik menganggukkan kepalanya dan tersenyum ramah pada Juju.


‌"Wah jadi calon instri Arzu seorang anak pembantu? Hebat banget ya anak pembantu bisa mendapatkan anak orang kaya seperti Arzu." ujar seseorang membuat hati Monik terasa tersayat sayat. Monik menundukkan kepalnya dan merasakan matanya mulai memanas.


"Pasti dia cuma mau harta keluarga Willson."


"Iya, ternyata dia murahan ya."

__ADS_1


"Ya tuhan, kok masih ada sih wanita penjilat kayak dia."


Beberapa orang terus berbisik dan menilai Monik dengan tanggapan negatif mereka. Inna yang mendengar ucapan mereka begitu marah, begitupun dengan Arzu. Arzu menggenggam tangan Monik sangat erat. Inna tersenyum pada semua orang yang sedang menatapnya.


"Kalian begitu mudah menilai orang lain dengan ucapan kalian yang begitu manis, apa kalian pernah berfikir jika orang yang kalian bicarakan itu begitu terluka. Kalian hanya melihat calon menantuku dari luarnya saja, tapi kalian tidak tahu isi dalam dirinya. Kalian tidak perlu takut, karena yang memiliki warisan Willson bukanlah kalian. Jika menantuku menginginkannya, kami dengan senang hati akan memberikanya karena dia adalah ibu dari penerus keluarga Willson kedepannya. Kami keluarga Willson mengucapkan terima kasih atas sambutan kalian yang begitu manis." ujar Inna panjang lebar dan berhasil membuat semua orang terdiam. Arzu merangkul Monik yang masih menundukkan kepalanya. Juju sangat merasa bersalah karena ia yang menyebabkan semua ini terjadi.


"Inna aku minta maaf." ucap Juju yang hanya mendapatkan senyuman dari Inna. Lalu pandangan Inna beralih pada seorang wanita yang menyebabkan kekacauan. Wanita itu menundukkan kepalanya karena merasa malu. Inna menghampiri Monik yang masih menunduk dan menarik dagu Monik. Inna melihat wajah Monik yang sembab.


"Jangan menangis sayang, biarkan orang lain berbicara buruk padamu. Tapi kau tetap menantuku." ucap Inna menghapus air mata Monik. Monik menatap Inna begitu lekat. Inna memeluk Monik begitu lembut.


"Kita pulang ya? Arzu bawa Monik pulang." ucap Inna yang dijawab anggukan oleh Arzu.


"Ayok." ajak Arzu, Monik melangkahkan kakinya mengikuti Arzu.


"Aku pamit pulang dulu, semoga kamu panjang umur Cella." ucap Inna tersenyum pada Cella dan langsung beranjak pergi. Juju hanya diam menatap kepergian Inna.


"Aku ingin membatalkan pernikahan ini kak. Aku tidak pantas menjadi istri kamu. Jarak kita sangat jauh." ucap Monik menatap Arzu begitu terluka. Arzu mengeratkan rahangnya dan langsung memeluk Monik.


"Aku tidak akan melepaskan kamu Monik, jangan dengarkan ucapan mereka." ucap Arzu memeluk Monik erat.


"Tapi apa yang mereka ucapkan benar, aku hanya seorang rakyat biasa yang berharap akan menjadi seorang ratu. Itu sangat tidak mungkin kak." ujar Monik menangis tersedu dipelukan Arzu.


"Berhenti bicara, apapun itu aku tetap mencintai kamu Monik." ucap Arzu melerai pelukannya dan menangkup wajah Monik yang sudah sembab.


"Aku mencintaimu Monik." ucap Arzu yang langsung ******* bibir Monik dengan lembut. Monik tidak menolak, ia memejamkan matanya seakan tak ingin melepaskan Arzu.

__ADS_1


"Apa aku salah jika mencintainya?" ucap Monik dalam hati. Ia melingkarkan kedua tanganya dileher Arzu. Ia membalas ciuman Arzu dengan lembut. Gelapnya malam menjadi saksi bisu mereka berdua.


"Ahhh... " Arzu melepaskan ciuman dan menatap manik mata Monik yang coklat.


"Kita pulang." ucap Arzu yang dijawab anggukan oleh Monik. Lalu keduanya masuk kedalam mobil dan langsung pulang.


Seorang wanita menjatuhkan dirinya ketanah saat menyaksikan orang yang ia cintai begitu intim dengan wanita lain. Ia meneteskan air matanya karena hatinya begitu sakit.


"Aku mencintaimu Arzu."


***


Saat ini Arzu dan Monik sudah berada didepan rumah Monik. Namun keduanya enggak untuk turun ataupun bicara. Arzu menoleh kearah Monik yang masih termenung menatap lurus kedepan.


"Kita akan mempercepat pernikahan kita, aku tidak mau kamu berubah pikiran hanya karena mendengar ucapan orang lain." ujar Arzu menatap Monik yang kini mulai menatapnya.


"Apa kakak tidak ingin memikirkan lagi keputusan kakak. Aku tidak ingin kakak akan menyesal nantinya." ucap Monik menatap Arzu.


"Aku tidak akan menyesal Monik." ucap Arzu begitu tegas.


"Tapi...." belum selesai Monik bicara, Arzu terlebih dahulu menarik tengkuk Monik dan kembali ******* bibir Monik. Monik hanya diam dan tak membalas ciuman Arzu. Arzu yang mulai kesal langsung mengangkat tubuh Monik kepangkuannya. Monik sangat terkejut karena ulah Arzu. Arzu terus memperdalam ciumannya, Monik yang mulai terbuai kini membalas ciuman Arzu. Monik meremas kerah baju Arzu karena begitu menikmati perlakuan Arzu yang begitu lembut.


Arzu melepaskan ciumannya untuk memberi waktu Monik menarik napas dan kembali ******* bibir Monik yang sedikit membengkak. Monik melingkarkan tanganya di leher Arzu. Keduanya terhanyut dalam perasaan masing-masing.


Monik mendesah lembut saat Arzu berlarih mengecup lehernya. Monik memejamkan matanya karena Arzu terus mengintimidasi dirinya. Monik terhenyak, ia tersadar dan mendorong dada Arzu. Arzu pun ikut tersadar jika dirinya sudah dikuasai oleh hawa nafsu.

__ADS_1


"Maaf." ucap Arzu menyatukan keningnya dengan kening Monik. Monik hanya bisa menunduk dan memeluk Arzu.


"Minggu depan kita akan menikah, aku tidak akan melepaskanmu lagi." ucap Arzu yang dijawab anggukan oleh Monik.


__ADS_2