ARZU

ARZU
Chapter 60


__ADS_3

Suara dentingan sendok dan piring memecahkan kesunyian. Monik sedari tadi terus mengerucutkan bibirnya, sesekali matanya melirik Arzu yang tengah menyantap sarapan.


"Kenapa tidak makan? Tidak selera huh?" tanya Arzu tanpa melihat kearah Monik.


"Ck, kenapa kita gak keluar aja sih. Bosan di kamar terus. Katanya bulan madu, ini mah dikurung namanya" omel Monik sambil meletakkan sendok. Selera makannya sudah hilang saat Arzu melarangnya untuk keluar dari kamar.


"Kamu sangat bawel akhir-akhir ini. Makan, setelah ini kamu mandi. Sebentar lagi mobil jemputan datang" ucap Arzu menatap Monik yang masih terlihat kesal.


"Mau kemana?" tanya Monik.


"Puncak" ucap Arzu santai.


"Beneran? Kalau begitu Monik mandi dulu deh" ucap Monik dengan semangat, namun dengan cepat Arzu menahan tangan Monik.


"Habiskan makanannya, baru boleh mandi"


"Ck, iya tuan es. Habis pagi-pagi udah buat Monik kesel" Monik kembali duduk dan mulai menyantap makanannya.


***


"Kak, ayok kesana. Monik mau ikut ibu itu petik teh. Pasti seru deh" ucap Monik sedikit berlari.


"Sayang jangan lari, nanti jatuh" ucap Arzu menyusul Monik, ia tersenyum saat melihat tawa dan senyuman lebar Monik.


"Ternyata membuat kamu bahagia itu sangat mudah, aku akan terus membuat kamu bahagia" ucap Arzu.


"Kak, fotoin Monik dong sama ibu ini. Pasti imut deh" teriak Monik begitu semangat, ia terus berbicang dengan para buruh pemetik teh.


"Si eneng meni gelis pisan, saha atuh namina?" ucap salah seorang wanita paruh baya.


"Nama saya Monik buk, itu suami saya namanya Arzu. Kami dari Jakarta" ucap Monik sambil memetik teh.


"Wah, meni kasep mirip artis india. Saha atuh nya namina? Si eneng mah meni beruntung pisan euy"


Monik tertawa riang saat mendengar ucapan ibu-ibu yang terus membahas suaminya. Bahkan beberapa dari mereka meminta tips untuk bisa mendapatkan suami tampan untuk anak anaknya.

__ADS_1


"Ibu-ibu, foto rame-rame dulu yuk" ajak Monik, lalu mereka pun berdiri dengan pose masing-masing. Terlihat dari wajah Monik jika saat ini ia benar-benar sangat bahagia.


"Si kasep teu ikutan kitu?"


"Enggak usah buk, saya tidak suka foto" ucap Arzu menolak, ia memang sangat jarang berpose. Baginya itu hanya membuang-buang waktu.


"Suami saya emang gitu buk, susah diajak foto. Katanya takut banyak fans" ucap Monik yang disambut tawa oleh para ibu-ibu.


"Sayang, kita pulang" ajak Arzu.


"Ya sudah, kalau begitu Monik pamit dulu ya ibu-ibu. Assalamualaikum" ucap Monik tersenyum ramah.


"Wa'alaikumusalam. Hati-hati neng" ucap ibu-ibu serempak.


"Sebahagia itu?" tanya Arzu saat mereka sudah berada di dalam mobil. Monik menoleh dan kembali tersenyum.


"Monik sudah lama tidak main ke puncak. Terakhir kali itu kelas 3 SMA. Itu pun pas libur kelulusan" ucap Monik sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang Arzu.


"Apa kamu jarang liburan?"


"Tidak ada kata liburan dalam kamus Monik kak, jika Monik liburan maka kami akan libur makan" ucap Monik sama sekali tak terdengar nada mengeluh.


"Hem, kerja keras Monik tidak sia-sia. Karena pekerjaan itu mempertemukan kita" ucap Monik semakin erat memeluk Arzu.


"Sebelum itu juga kita pernah bertemu, jauh sebelum itu" ucap Arzu, Monik yang mendengar itu langsung menatap Arzu.


"Maksud kakak?" tanya Monik bingung.


"Tidak ada, jangan dipikirkan. Mau kemana lagi?" ucap Arzu merangkul pundak Monik.


"Pulang, Monik capek. Kaki Monik juga sakit semua, sejak hamil Monik lebih cepat lelah" ucap Monik.


"Ya sudah, kita pulang dan istirahat" ucap Arzu mengelus kepala Monik, hingga membuat Monik tertidur.


"Dasar pemalas" ucap Arzu mencubit hidung Monik dengan gemas.

__ADS_1


***


Karena merasa lelah, Monik langsung menjatuhkan tubuhnya saat mereka sudah berada di vila. Monik terbangun saat mobil sudah sampai didepan vila.


"Kak kaki Monik keram" rengek Monik, ia bangun dari tidurnya dan memijat kakinya.


"Sudah dikatakan jangan berlari, kamu tidak dengar" ucap Arzu menghampiri Monik, ia berjongkok dan menyetuh kaki sang istri.


"Tapi kan seru, kapan lagi coba seperti ini. Kalau perut Monik makin besar mana bisa lagi jalan-jalan" ucap Monik mengerucutkan bibirnya.


"Sudah, berbaring lah. Biar aku yang pijatkan" ucap Arzu. Monik tersenyum, lalu ia kembali berbaring.


"Kak, besok kita pulang kan? Minggu depan kak Rangga menikah, kita belum mempersiapkan semuanya"


"Elsha dan kak Elya sudah menyiapkan semuanya, jangan terlalu dipikirkan"


"Kok bisa? Kakak yang suruh ya? Kenapa harus nyusahin orang sih kak? Kan kita bisa siapkan sendiri"


"Sudah jangan banyak bicara, tidurlah." ucap Arzu ikut berbaring, ia memeluk Monik.


"Kak, kalau anak kita kembar pasti lucu kan? Apa lagi satu perempuan dan satu laki-laki. Terus yang perempuan mirip kakak, ih pasti gemes deh"


"Hemmm"


"Ck, kok cuma hmmm sih? Kakak mau gak punya anak kembar?"


"Heemmm"


"ih, jawab dong kak"


"Iya sayang" ucap Arzu.


"Iya apa?"


"Iya, seperti yang kamu bilang" jawab Arzu semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Pulang dari sini kita kerumah mama ya? Tiba-tiba Monik rindu mama" ucap Monik, namun tak ada jawaban dari Arzu. Monik langsung menoleh untuk melihat sang suami. Senyuman manis tersungging dibibirnya saat melihat ternyata Arzu tertidur.


"Maaf, pasti kakak capek kan? Selamat tidur. I love you" ucap Monik mencium pipi Arzu, lalu ia pun ikut memejamkan matanya.


__ADS_2