ARZU

ARZU
Chapter 68


__ADS_3

Sepulangnya dari rumah sakit, Arzu langsung menuju kamar kedua putrinya. Namun ia sangat terkejut saat melihat Cella baru keluar dari sana. Arzu mengurungkan niatnya dan beranjak pergi menuju kamar. Cella yang sudah terlebih dahulu melihat Arzu, ia menatap Arzu bingung. Biasanya Arzu akan menyapa atau pun bicara walaupun hanya sepatah dua patah kata.


'Apa ini karena masalah tadi?'


Cella menggeleng pelan. Lalu ia langsung beranjak pergi. Ada rasa mengganjal di hatinya saat meninggalkan kedua bayi itu. Ini adalah hari terakhir untuknya menatap kedua bayi cantik yang sudah membuat hatinya nyaman. Mulai besok ia sudah harus fokus untuk mengurus beasiswa keluar negeri. Sekarang Cella tidak akan ragu lagi dengan keputusannya.


Di dalam kamar, Arzu menatap keluar jendela. Ia memperhatikan Cella yang mulai beranjak pergi dari rumahnya. Ada rasa tak rela dalam benak Arzu yang paling dalam. Namun semua itu ia tutup dengan egonya.


"Arzu." panggil seseorang. Arzu langsung menoleh kebelakang dan melihat Inna sedang berjalan mendekati dirinya.


"Ini, tadi Cella yang memberikan. Katanya untuk kamu." ucap Inna memberikan sebuah bingkisan kepada Arzu. Arzu menerimanya dengan perasaan bingung.


"Apa ini Ma?" tanya Arzu menatap Inna. Inna menggeleng dan langsung beranjak pergi.


'Ada apa dengan mama? Kenapa mama sangat aneh?'


Arzu langsung membuka bingkisan itu karena penasaran. Namun ia sangat terkejut saat melihat sebuah benda yang sudah lama ia lupakan. Ya, itu adalah buku miliknya saat SMA. Lalu Arzu kembali mengambil sebuah benda, itu adalah sebuah undangan. Disana tertera nama Cella dan calon suaminya.


Arzu masih penasaran dengan buku yang Cella berikan. Lalu ia membukanya dengan perlahan. Di halaman pertama Arzu mendapatkan sebuah coretan kecil. Sepertinya itu adalah tulisan tangan Cella.


Hy Arzu. Pasti kamu lupa kan dengan buku ini? Maaf. Sebenarnya kamu tidak meninggalkan buku ini waktu dulu. Aku yang mengambilnya. Maaf Arzu. Aku hanya ingin mengambil perhatian kamu.


Next hal. 5


Arzu kembali membuka halaman 5. Ia semakin penasaran dengan apa yang Cella tulis.


Hy Arzu. Jika kamu sudah membaca halaman ini. Itu artinya kamu sudah tidak membenciku lagi kan?


Maaf Arzu, setiap hari aku selalu merindukanmu. Hanya buku ini yang bisa menjadi obat rinduku.


Next hal. 7


Arzu menggelengkan kepalanya. Ia menutup buku itu dengan kasar. Namun pikiran dan hatinya berbeda pendapat. Dalam lubuk hatinya ia ingin terus membaca isi tulisan selanjutnya. Arzu menghela napas dan kembali membuka halaman selanjutnya.


Aku tidak tahu kamu membaca ini saat pagi, siang, atau malam. Dan aku juga tidak tahu berapa usia kamu saat ini. Yang pasti, saat ini pasti kamu sudah bahagia dengan pilihan kamu kan? Aku harap begitu Arzu. Aku sangat mencintaimu.


Next hal. 9


Arzu membuka lembaran selanjutnya.

__ADS_1


Huh, aku mulai bosan. Kamu tahu? Iya, ini semua karena kamu. Kamu masih saja jutek dan cuek. Padahal aku sudah merubah sifatku. Apa aku memang tidak bisa menjadi gadis kecil itu ya? Huh, beruntung sekali dia ya? Bisa mendapatkan senyuman kamu. Maaf, saat acara ulang tahunku dulu. Aku tidak sengaja melihat senyuman kamu Arzu. Walaupun senyuman itu bukan untukku, tapi aku tetap senang bisa melihatnya. Aku sangat merindukanmu Arzu. :(


Next hal. 12


'Apa ini? Bagaimana dia bisa tahu kejadian itu?' batin Arzu. Karena penasaran ia kembali membuka halaman selanjutnya.


Kali ini aku tidak mau menyapamu. Aku sangat kesal. Kamu terus mengabaikan aku Arzu. Huh, aku sangat merindukanmu. Padahal tadi aku melihatmu. Tapi aku masih merindukanmu.


Kali ini tak ada lagi petunjuk untuk halaman selanjutnya. Arzu membuka setiap halaman. Hanya terdapat gambar patah hati disana. Arzu mengernyit bingung. Ia menutup buku perlahan.


"Apa maksudnya? Kenapa dia memberikan ini padaku? Apa dia ingin mempermainkan perasaanku?" ucap Arzu melempar buku itu asal. Ia merebahkan tubuhnya diatas kasur. Kepalanya begitu sakit. Mungkin ia butuh istirahat. Arzu memejamkan matanya dan mulai terlelap.


***


"Arzu bangun, Arzu. Ini sudah malam." Arzu membuka matanya perlahan. Yang pertama ia lihat adalah wajah cantik Cella. Arzu tersenyum dan kembali memejamkan matanya.


"Arzu, kamu kenapa sih? Hey, bangun. Kamu belum mandi dan makan. Mama sudah siapkan makanan kamu diatas meja. Bangun Arzu." suara dan wajah itu pun langsung berubah.


"Mama." ucap Arzu bangun dari tidurnya. Ia melihat kesekeliling kamar untuk mencari seseorang. Inna menatap putranya bingung.


"Siapa yang kamu cari?" tanya Inna sambil mengambil buku yang tergeletak di sana.


"Arzu, besok Cella tidak akan kesini lagi. Tadi dia bilang dia ingin fokus dengan beasiswanya. Mama tidak tahu si kembar mau atau tidak dengan mama. Mereka sudah terbiasa dengan Cella." ucap Inna duduk disebelah Arzu. Arzu menatap lurus kedepan.


"Mereka akan terbiasa tanpa Cella Ma." ucap Arzu datar. Ia bangun dari duduknya dan langsung beranjak menuju kamar mandi. Ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Perasaannya saat ini sangat kacau. Pikirannya merantau entah kemana.


"Cella, kenapa kau harus hadir dalam hidupku? Kenapa?" ucap Arzu menopang tubuhnya didinding. Bayangan Cella bersama Gerald pun kembali berputar di dalam ingatannya.


"Monik, aku harap kau kembali sayang. Sejak kau pergi, hidupku benar-benar hancur. Kembalilah Monik, aku mohon." rancaunya. Kali ini ia benar-benar sangat kacau. Perasaan tak karuan dan pikirannya pun entah kemana-mana.


Selesai mandi dan makan. Arzu langsung beranjak menuju kamar kedua putrinya. Hari ini ia sama sekali belum mememui mereka.


"Hy sayang, maaf papa baru lihat kalian." ucap Arzu mengecup pipi keduanya. Syila dan Qilla pun tersenyum, seakan mereka mengerti dengan ucapan Arzu.


"Kalian tidak rindu papa?" Arzu menggendong Syila, namun tak lama Qilla menangis. Sepertinya ia tak mau kalah dengan sang kakak.


Arzu tersenyum dan meletakkan Syila diatas kasur, lalu ia mengambil Qilla dan keduanya ia tidurkan di atas kasur. Kedua baby itu tertawa bersama. Sepertinya mereka sangat senang bisa melihat papanya. Hampir seharian Arzu tidak melihat mereka. Selain kondisi yang kurang fit, Arzu juga sangat sibuk dengan pekerjaannya.


"Papa minta maaf sayang, papa janji. Mulai sekarang papa akan membagi waktu untuk kalian." ucap Arzu mencium tangan kedua putrinya bergantian. Arzu menatap kedua putrinya begitu lekat. Bibir mereka begitu mirip dengan Monik. Arzu tersenyum dan mengajak keduanya bermain. Mulai sekarang mungkin ia akan menghabiskan waktu bersama anak-anaknya. Bagaimanapun yang menjadi prioritas Arzu saat ini adalah mereka. Mereka yang membutuhkan banyak kasih sayang.

__ADS_1


***


Di sebuah kamar yang cukup besar. Terlihat seorang wanita cantik sedang duduk melamun dibalkon. Ia terus menatap gelapnya malam. Namun pikirannya entah kemana. Saat ini ia sedang dalam mood tidak baik. Pikiran dan hatinya tak sejalan.


'Hati, kenapa kau begitu sulit untuk melupakannya. Sudah hampir 16 tahun aku menyimpan cintaku sendirian. Huh, sakit sekali.'


"Cella, sedang apa sayang? Ini sangat dingin, kenapa duduk di luar?"


Suara itu berhasil membuyarkan lamunannya. Ia menoleh dan tersenyum saat melihat sang mama.


"Cella sedang mencari angin Ma, bosan di dalam terus." ucapnya sambil menggeser tubuhnya agar sang mama bisa duduk di sebelahnya. Juju menatap putrinya begitu dalam.


"Mama tidak mengerti, kenapa keluarga kita selalu berkaitan dengan keluarga Inna. Mama dan Inna memang sangat dekat. Tapi bukan berarti anak mama harus mengorbankan perasaannya untuk Arzu. Kamu tahu? Dulu papa kamu pernah menyukai mamanya Arzu dan sekarang kamu menyukai Arzu. Mama tidak mengerti dengan takdir Allah. Mungkin Allah tetap ingin mendekatkan hubungan yang sudah lama terjalin.


Tapi Cella, mama cuma minta satu hal. Lupakan Arzu sayang, mungkin dia bukan jodoh kamu. Mama tahu itu tidak mudah. Tapi Gerald juga tidak buruk, dia pria yang manis. Mungkin suatu saat nanti dia bisa membantu kamu untuk melupakan semuanya. Mama yakin itu. Biarkan takdir yang menentukan sayang."


Cella menatap Juju lekat. Ia mencerna semua ucapan mamanya dengan sesama. Memang benar, ia harus melupakan semua kenangan pahitnya dan menyambut manisnya kehidupan. Cella tersenyum dan langsung memeluk Juju dengan erat. Sudah cukup ia terus menyimpan rasa sakit.


"Apa yang kamu lakukan untuk Arzu sudah benar sayang. Kamu begitu baik dan tulus. Mama tahu apa maksud kamu selama ini. Kamu meminta papa untuk membiayai Monik kuliah, agar dia pantas bersanding dengan Arzu bukan?"


"Kamu sudah tahu Arzu akan menjadikan Monik pendamping hidupnya?" imbuh Juju.


Cella terdim sesaat. Air matanya mengalir begitu saja. Sakit memang saat melakukan pengorbanan untuk sebuah cinta. Membiarkan orang yang kita cintai bersama orang lain.


"Tidak ma, Cella melakukan itu karena kasihan dengan Monik. Dia sudah terlalu banyak membantu kita. Cella hanya ingin membantunya untuk sukses." ucap Cella memeluk Juju semakin erat.


"Bohong, tidak perlu menyembunyikan apapun dari mama. Walaupun mama ini sedikit lambat dalam berfikir, tapi mama tahu dengan jelas apa isi hati kamu." ucap Juju mencium pucuk kepala putrinya.


"Mama." ucap Cella. Tangisannya pecah dipelukan sang mama. Ia ingin menumpahkan semua unek-unek dalam hatinya. Rasa sakit yang sudah mendalam.


Juju mendorong tubuh putrinya dengan lembut. Ia menghapus air mata itu dengan hati yang iba. Seorang ibu tidak pernah ingin melihat tangisan anaknya. Seorang ibu hanya ingin membuat anaknya tersenyum bahagia. Walaupun ia harus berkorban dengan keras.


"Jangan menangis lagi, tidurlah. Ini sudah malam. Besok kamu harus kerja bukan?" ucap Juju mencium kening Cella.


"Enggak Ma, Cella cuti dua hari. Cella ingin menghabiskan waktu dirumah." ucap Cella.


"Ya sudah, sana tidur. Mama tahu kamu capek." ucap Juju mengusap pipi Cella dengan lembut. Cella mengangguk. Lalu Juju pun langsung keluar dari kamar Cella. Cella menatap kepergian Juju dengan tatapan sendu.


"Cella berjanji ma, Cella akan berusaha untuk melupakan dia. Cella janji." wanita itu kembali menatap gelapnya malam. Biarlah malam ini ia mencurahkan semua perasaannya pada sang rembulan yang enggan untuk menampakkan dirinya. Mungkin rembulan juga tak ingin menemani dirinya. Hidup itu adalah sebuah pilihan. Jadi tergantung diri sendiri, memilih tetap diam atau terus berjalan hingga menemukan titik terang.

__ADS_1


__ADS_2