ARZU

ARZU
Chapter 67


__ADS_3

Seperti orang tak tahu arah, Arzu menyusuri lorong rumah sakit dengan perasan yang tak karuan. Ia terus memikirkan mimpinya yang terus berulang hingga beberapa kali.


"Dokter Arzu." panggil seseorang yang berhasil membuyarkan pikiran Arzu.


"Ada apa sus?" tanya Arzu tak semangat. Ia menatap suster untuk menunggu jawaban.


"Maaf dok saya cuma mau menyampaikan pesan dari dokter Rehan. Tadi beliau berpesan agar dokter Arzu menemui beliau di ruanganya." ucap sang suster.


"Ya, baik lah. Saya akan segera kesana. Terimakasih sus." ucap Arzu tersenyum tipis.


"Sama-sama dok. Dokter baik-baik saja kan? Dokter terlihat pucat." ucap suster sedikit khawatir karena melihat wajah Arzu yang pucat.


"Saya tidak apa-apa. Saya akan langsung keruang dokter Rehan. Mari." ucap Arzu memutar arah. Ia terus memijat keningnya yang terasa sakit. Beberapa hari ini ia memang jarang tidur dan makan.


"Arzu, ada apa denganmu? Aku melihat beberapa hari ini kamu tidak semangat? Apa masih memikirkan istrimu?" tanya Rehan menatap keponakannya begitu intens.


"Tidak, aku hanya lelah." ucap Arzu menopang kepalanya. Rasa sakit di kepalanya kian bertambah.


"Are you ok?" tanya Rehan mulai khawatir dengan keadaan keponakannya. Ia tahu betul sifat Arzu.


"Kau harus istirahat Arzu. Cuti lah beberapa hari." ucap Rehan. Arzu menggeleng.


"Jika aku dirumah, keadaanku pasti lebih buruk dari ini. Aku akan terus mengingatnya." ucap Arzu memejamkan matanya. Sakit di kepalanya pun semakin menjadi. Rehan yang melihat itu pun langsung meraih telpon untuk menelepon seseorang. Arzu tidak bisa mendengarnya dengan jelas karena ia mulai tak sadarkan diri.


***

__ADS_1


"Tolong jaga dia sebentar, aku harus menangani pasien. Maaf aku sudah mengganggu waktu istirahatmu." ucap Rehan pada seorang gadis yang kini tengah duduk menatap Arzu yang masih belum sadarkan diri.


"Em, dokter Rehan. Kenapa anda menelepon saya, kenapa bukan orang lain? Anda tahu bukan bagaimana sikap Arzu pada saya, dari dulu dia tidak pernah menyukai saya." ucap gadis itu menahan langkah Rehan. Rehan membalikan tubuhnya dan menatap gadis itu lekat.


"Karena aku tahu, hanya kamu yang bisa kembali merubah sifat Arzu Cella. Kau lebih tahu Arzu luar dalam. Aku pergi dulu." ucap Rehan keluar dari ruangan Arzu. Ya, gadis itu adalah Cella.


'Anda salah dok, saya tidak pernah faham dengannya. Dia terlalu sulit untuk aku fahami.'


Cella menatap wajah pucat Arzu dengan seksama.


"Kamu tidak pernah berubah Arzu. Kau masih keras kepala dan begitu dingin. Tapi aku tidak bisa melupakanmu, aku masih mencintaimu Arzu. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku sangat sulit untuk melupakanmu. Aku tidak bisa Arzu." ujar Cella mulai menangis. Hatinya begitu perih.


"Kamu tahu, aku terus berusaha untuk tersenyum saat melihat kamu bahagia dengan orang lain. Aku selalu mengharapkan kamu bahagia Arzu. Maaf, aku begitu lancang sudah mencintaimu begitu dalam."


"Jangan khawatir, saat ini aku sedang belajar untuk mencintai orang lain. Walaupun itu sangat sulit bagiku." Cella bangun dari duduknya. Ia menghapus air matanya dan menghela napas dalam-dalam. Ia melangkahkan kakinya sedikit menjauh dari Arzu.


"A... Arzu, kamu sudah sadar? Maaf, aku akan panggilkan dokter." ucap Cella. Namun Arzu kembali menahan tangannya.


"Bukankah kau seorang dokter? Bagaimana bisa kau melupakan gelarmu." ucap Arzu datar.


"Maaf Arzu, itu bukan bidangku. Aku...


"Tidak perlu memanggil dokter. Aku bisa merawat diriku sendiri." Arzu memotong ucapan Cella. Namun ia tak melepaskan genggaman tangannya.


"A.. Arzu, bisa tolong lepaskan tanganku?" ucap Cella berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Arzu.

__ADS_1


"Temani aku sebentar." ucap Arzu kembali memejamkan matanya. Namun ia enggan untuk melepaskan tangan Cella. Cella menatap Arzu bingung, ini bukan Arzu yang ia kenal.


"Arzu, lepaskan tanganku. Aku tidak mau ada yang salah faham." ucap Cella dengan nada memohon.


"Huh, Gerald yang akan salah faham?" ucap Arzu kembali membuka mata. Ia tersenyum getir sambil menatap Cella.


"Arzu, aku mohon." ucap Cella.


"Apa kau mulai menyerah?" pertanyaan Arzu berhasil membuat Cella tekejut. Ia menatap Arzu bingung.


"Kau akan menyerah secepat itu?" ucap Arzu dengan tatapan sendu. Kini Cella mulai mengerti arah pembicaraan Arzu.


"Itu tidak cepat Arzu, sudah cukup lama aku menunggu. Itu semua tidak cepat." ucap Cella bangun dari duduknya. Air matanya kembali berderai.


"Bisa kah kau terus berusaha untuk mendapatkan hatiku Cella? Jangan pernah menyerah." ucap Arzu menatap Cella.


"Sampai kapan Arzu? Aku sudah cukup lelah dengan hatiku. Aku juga ingin bahagia seperti orang lain, aku akan melupakan semuanya. Semua perjuangan sia-siaku." ucap Cella menatap Arzu nanar.


"Maaf, aku harus kembali keruanganku." ucap Cella melangkah pergi.


"Jika aku mengatakan aku akan belajar mencintaimu, apa kau akan mempertimbangkannya?" perkataan itu berhasil menghentikan langkah kaki Cella. Cella menghapus air matanya seraya membalikan tubuhnya.


"Maaf Arzu, semuanya sudah terlambat. 5 bulan lagi aku akan menikah dengan Gerald di Amerika. Jadi sekali lagi aku minta maaf." Cella pun langsung beranjak pergi meninggalkan Arzu yang terdiam untuk mencerna semua ucapan Cella.


"Hah, kau bohong Monik. Kau mengatakan jika dia mencintaiku dengan tulus. Mana buktinya? Dia memilih orang lain. Bukan aku Monik, jadi berhenti mengatakan jika dia mencintaiku." ujar Arzu mengepalkan tanganya. Tanpa sadar, air matanya sudah jatuh membasahi pipinya. Arzu menyetuh pipinya, ia melihat cairan bening di tangannya. Ia tersenyum getir.

__ADS_1


"Kau berbohong Monik." ucap Arzu mengepalkan tangannya semakin erat. Ia memukul sofa dengan kasar hingga membuat tangannya memerah.


__ADS_2