
Setelah melihat keadaan Rangga, Monik menjadi orang pendiam. Ia sama sekali tidak bicara, yang ia lakukan hanya menangis dan termenung. Monik sangat terpukul, ia terus menyalahkan dirinya sebagai penyebab Rangga koma.
CEKLEK
Seorang pria tampan masuk dengan baju putih yang masih melekat di tubuhnya, ia duduk di sebelah Monik yang sedang termenung menatap lurus kedepan.
"Sayang, jangan seperti ini. Kamu harus makan, ini semua bukan kesalahan kamu" ucap pria itu yang tak lain adalah Arzu. Arzu membawa Monik kedalam dekapannya, ia mengecup pucuk kepala Monik dengan lembut.
"Kamu harus makan dan harus cepat sembuh" ucap Arzu menangkup wajah Monik.
"Kak Rangga" ucap Monik menatap manik mata Arzu.
"Aku tahu, dia pasti akan sembuh. Jangan seperti ini, kamu harus sehat. Jika kamu seperti ini aku yakin Rangga juga akan sedih melihat keadaan kamu sayang" ucap Arzu kembali memeluk Monik. Monik menagis di pelukan Arzu, Ia menenggelamkan wajahnya di dada Arzu.
"Sudah, kamu makan ya? Tidak ada penolakan" ucap Arzu melepaskan pelukanya dan mengambil makan di atas meja.
"Monik tidak lapar" ucap Monik, Arzu menghela napas karena bingung dengan sikap Monik.
"Monik, kali ini dengarkan aku. Kamu harus makan" ucap Arzu menyodorkan sesendok nasi pada Monik, namun dengan cepat Monik menutup mulutnya. Arzu sangat kesal akan hal itu, Ia meletakkan kembali sendok di piring.
"Terserah kamu, aku sudah cukup sabar Monik" ucap Arzu yang langsung meletakkan piring di meja dan beranjak pergi meninggalkan Monik. Monik yang melihat itu semakin menangis, ia memeluk lututnya.
"Arzu kamu mau kemana!?" seru Elya saat berpapasan dengan Arzu di depan pintu. Arzu menatap Elya begitu dingin hingga Elya sedikit merinding, lalu Arzu kembali melangkah pergi. Elya masuk ke dalam dan melihat Monik sedang memeluk kedua kakinya dengan tubuh yang bergetar.
__ADS_1
"Ya ampun Monik, kamu kenapa? Tadi Arzu juga sangat aneh" ucap Elya menyentuh pundak Monik, Monik mengangkat kepalanya dan menatap Elya lekat.
"Ini semua salah Monik kak, Monik yang menyebabkan semua orang sakit dan terluka. Monik... "
"Cukup, apa yang kamu katakan hah? Jangan bicara yang aneh-aneh" ucap Elya memotong ucapan Monik, Elya memeluk Monik dengan lembut.
"Sudah jangan menangis, kamu sudah makan?" tanya Elya yang di jawab gelengan Monik, lalu Elya melihat makanan di meja. Ia mengerti kenapa Arzu terlihat sangat marah.
Dasar anak itu, tidak ada sabarnya sedikit. Batin Elya.
"Makan, setelah ini kamu harus istirahat. Masalah Arzu biar kakak yang bicara padanya" ucap Elya, Monik terdiam menatap Elya. Lalu tak lama ia mengangguk pelan, Elya tersenyum dan langsung mengambil makanan yang tadi ia bawa. Perlahan Elya menyuapi Monik, Monik mengunyah makanannya begitu pelan.
***
"Kenapa muka lo?" tanya Aditya duduk di hadapan Arzu.
"Siap-siap aja lo tua gak ada yang ngurus" ucap Arzu tersenyum getir, ia kembali pokus pada layar laptop di hadapannya.
"Bisa suruh orang, kan gampang" ucap Aditya dengan begitu enteng.
"Terserah" ucap Arzu tanpa menatap Aditya.
"Oh iya, pasien yang koma itu belum sadar ya?" tanya Aditya.
__ADS_1
"Belum, itu yang jadi masalah buat gw" ucap Arzu membuat Aditya bingung.
"kok bisa?" tanya Aditya penasaran.
"Dia yang menolong istri gw, jadi saat ini Monik tidak mau makan dan terus menangis karena sahabatnya itu" ucap Arzu menutup laptopnya, ia memijat keningnya karena sangat pusing dengan maslah yang menimpa dirinya.
"Waduh, ribet ini mah. Terus sekarang istri lo gimana?"
"Dia di ruangannya" ucap Arzu datar, Aditya memicingkan matanya. Ia seperti mencium bau-bau keributan diantar Arzu dan Monik.
"Terus lo ngapain disini?" tanya Aditya, namun Arzu sama sekali tak menjawab ucapan Aditya.
"Gw capek" ucap Arzu bangkit dari duduknya, ia berjalan menuju sofa dan merebahkan tubuhnya di sana. Aditya yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Tak lama pintu terbuka dan menampakkan Elya berdiri di sana sambil menggelengkan kepalanya.
"Arzu" ucap Elya menghampiri Arzu dan Aditya. Arzu membuka matanya dan menatap Elya sebentar, lalu ia kembali menutup matanya.
"Ada apa dengan kamu Arzu, gara gara hal kecil kamu meninggalkan istri kamu yang sedang kalut? Mana yang katanya kamu sangat mencintai istri kamu? baru seperti itu saja sudah menyerah" ujar Elya, Arzu yang mendengar itu sama sekali tak bergeming. Aditya pun hanya bisa diam karena ia tidak mengerti dengan urusan rumah tangga.
"Dengarkan kakak Arzu, temui Monik dia sangat membutuhkan kamu. Bersabar lah dengan sikapnya, kamu tahu kan Monik sedang hamil. Ibu hamil sangat sensitif dan butuh perhatian, pergi lah. Jangan seperti ini, tadi Monik kembali mengalami pendarahan dan..." belum selesai Elya bicara, Arzu langsung bangun dan berlari keluar. Elya yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kamu kapan nikah?" tanya Elya pada Aditya.
__ADS_1
"Eh, aku kak? Kapan-kapan deh" ucap Aditya sambil cengengesan, Elya yang mendengar itu menggeleng pelan.
"Menikahlah, kamu akan tahu betapa indahnya cinta. Cinta yang tak akan di dapat saat kamu sendiri seperi ini. Kalau begitu aku pergi dulu, menikah Adit. Kamu sudah tua" ujar Elya bangun dari duduknya dan langsung pergi. Aditya yang mendengar ucapan Elya hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.