
Arzu terlihat merenung sendirian di kamarnya. Ia kembali mengingat kebencian di wajah Cella. Bukan ini yang Arzu inginkan. Walaupun mereka tidak bisa bersama, namun hubungan pertemanan tidak boleh putus.
Arzu terlihat membuang napas dalam-dalam. Ia bangun dari duduknya dan berjalan menuju kamar kedua putrinya. Hanya mereka yang bisa menenangkan pikirannya.
"Maafkan papa sayang, papa gagal membawa bunda kalian. Maafkan papa." ucap Arzu mencium kening kedua putrinya.
"Tidak apa-apa sayang, setidaknya kamu sudah berusaha." sebuah tangan mengelus kepala Arzu. Arzu membalikan tubuhnya dan mendapatkan sang mama tengah menatapnya sambil tersenyum. Arzu memeluk Inna dengan penuh kelembutan.
"Sekarang dia membenci Arzu ma, dia salah faham." ucap Arzu mengeratkan pelukannya. Inna mengelus kepala putranya. Ia bisa meraskan apa yang Arzu rasakan.
"Tidak sayang, mama sangat yakin. Cella tidak akan membenci kamu. Jika wanita sudah mencintai begitu dalam. Akan sangat sulit untuk membenci orang itu." ucap Inna. Arzu terdiam sesaat. Inna melepas pelukkannya. Ia menatap wajah putranya. Merah di pipi Arzu masih sedikit terlihat.
"Ada apa? Kenapa dengan pipi kamu. Dan ini apa? Tangan kamu juga sampai biru seperti ini. Kamu berkelahi?" tanya Inna mulai panik. Arzu menggeleng.
"Ada kesalah fahaman Ma. Bukan masalah besar." ucap Arzu mengelus pipi Inna. Inna menghela napas berat. Hatinya sangat sakit saat melihat kehidupan putranya yang penuh cobaan. Beruntung Arza tidak memiliki masalah serumit Arzu. Jika tidak, Inna mungkin tidak akan bisa tidur.
Saat ini Arza memang sedang tidak ada dirumah. Sejak kapan anak itu ada dirumah. Arza saat ini sedang berada di luar negeri bersama istrinya. Bisa dikatakan ia sedang berbulan madu.
"Ma, Arzu ke kamar dulu." ucap Arzu.
"Ya, istirahatlah. Mereka juga sudah tidur." ucap Inna tersenyum. Arzu mengangguk dan langsung beranjak pergi. Inna menatap punggung Arzu dengan tatapan penuh harap. Ia berharap kebahagiaan kembali pada putranya. Ia sangat ingin melihat anak-anaknya hidup dengan bahagia.
"Ma, belum tidur?" tanya Samuel berdiri di depan pintu. Inna menatap suaminya lekat, ia menggeleng pelan.
"Ada apa?" Samuel berjalan menghampiri Inna. Inna langsung memeluk suaminya. Ia menangis, mengeluarkan isi hatinya.
"Mama tidak tega melihat Arzu pah, dia begitu terpukul. Mama tidak sanggup melihatnya." ucap Inna sesegukan. Samuel menghela napas dan mengelus punggung Inna.
"Papa tahu, mama tidak perlu bersedih seperti ini. Yakinlah, kebahagiaan sedang menanti putra kita. Dia mampu melewati semuanya, dia putra kita." ucap Samuel mengecup kepala Inna.
"Sudah, jangan menangis lagi. Nanti mereka bangun." ucap Samuel menghapus air mata Inna. Inna menyetuh lengan suaminya. Ia menatap wajah Samuel begitu lekat.
"Terimakasih pa." ucap Inna terus menatap Samuel.
"Terimakasihnya bukan seperti itu, sini dong." ucap Samuel menunjuk bibirnya. Inna tersenyum dan memukul lengan Samuel. Lalu keduanya tertawa bersama.
***
Di kamar, Arzu berdiri di depan foto Monik. Sedari tadi ia terus menatap foto itu begitu lekat.
"Sayang, apa kau mendengarku? Aku sangat merindukanmu. Ingin sekali rasanya aku memelukmu." ucap Arzu tanpa memalingkan wajahnya.
"Aku sudah membuat kesalahan. Menurutmu, apa dia akan memaafkan aku?" tanya Arzu seakan foto itu bisa menjawab semua isi hatinya.
"Aku sangat mencintaimu, juga mencintai dia. Hah, ini hukuman untukku. Karena aku begitu serakah. Aku mencintai kalian berdua dan aku kehilangan kalian juga. Maafkan aku, mungkin aku sudah membuat dirimu kecewa. Maafkan aku."
"Tidak ada lagi harapan untukku Monik. Dia sangat membenci ku. Dia tak akan pernah kembali, sama sepertimu. Aku kehilangan kalian berdua di waktu yang bersamaan. Ini salahku."
"Tidak Arzu, aku tidak pernah membencimu." ucap seseorang yang berhasil membuat Arzu tekejut. Arzu bebalik. Matanya langsung terkuci dengan sosok yang kini bediri diambang pintu.
"Sampai kapanpun, aku tidak akan bisa membencimu." sambung orang itu menatap Arzu dengan air mata yang mulai lolos dari pertahanan. Ia berlari dan langsung berhambur kepelukkan Arzu. Arzu masih terdiam, ia tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.
"Aku sangat mencintaimu Arzu, aku sangat mencintaimu. Jangan pernah mengatakan lagi jika aku membencimu. Aku tidak bisa melakukan itu." ucapnya. Ia mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Arzu. Pria itu masih terdiam sambil menatap wajah cantik wanita yang saat ini tengah memeluknya.
'Apa aku sedang bermimpi?'
"Apa ini masih sakit?" tanya wanita itu mengelus pipi Arzu. Arzu mulai tersadar saat tangan lentik itu menyentuh pipinya dan menimbulkan sedikit rasa perih.
"Kenapa kau ada disini?" tanya Arzu datar. Ia menyetuh tangan lentik itu dengan lembut.
"Aku... Aku hanya ingin melihat keadaan kamu." ucap wanita itu sambil tersenyum.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja. Pulanglah, tidak baik kau berada disini. Lepaskan aku, aku tidak mau suamimu melihat semua ini." ucap Arzu melepaskan pelukan Cella. Ya, wanita itu adalah Cella.
"Buat apa kau kembali ke Indonesia? Itu bukan perkara mudah Cella." ucap Arzu membelakangi Cella. Cella tersenyum dan kembali memeluk Arzu dari belakang.
"Aku kembali karena ingin menagih cintaku. Cinta yang sudah kau abaikan sejak lama. Cinta yang tak pernah berubah sejak dulu. Aku sangat mencintaimu Arzu. I love you." ucap Cella memejamkan matanya untuk meraskan kehangatan punggung Arzu. Ini adalah momen yang selalu Ia impikan. Dimana ia bisa merasakan kehangatan dari pria yang ia cintai.
"Jangan bercanda Cella!" Arzu membalikan tubuhnya dan mendorong Cella agar sedikit menjauh. Cella sangat terkejut.
"Aku sudah bercerai dengan Gerald, dia menceraikan aku." ucap Cella menunduk. Arzu membulatkan matanya karena terkejut dengan apa yang Cella katakan.
"Bagaimana mungkin?" ucap Arzu yak percaya. Ia kembali membalikan tubuhnya. Cella menghela napas dan berjalan untuk berdiri di depan Arzu.
"Setelah kepergian kamu, dia menceraikan aku."
Flashback on
Cella keluar dari kamar mandi dengan mata yang membengkak. Namun ia sangat terkejut saat melihat Gerald sudah berdiri menunggunya.
"Lupakan dia." ucap Gerald menatap Cella lekat. Cella menatap Gerald, air matanya kembali lolos.
"Aku akan melupakannya." ucap Cella berjalan menuju tempat pembaringan. Gerlad tersenyum getir.
"Apa malam ini kau bersedia menyerahkan dirimu? Aku ingin tahu apakah kau benar-benar akan melupakannya."
Cella sangat terkejut saat mendengar ucapan Gerald. Jujur, ia belum siap untuk menyerahkan dirinya. Sebelum cinta itu tumbuh dengan benar.
"Maaf Gerald, aku... Aku.."
"Jadi kau akan menyerahkan kesucianmu pada pria brengsek itu. Lalu kau akan datang padaku dan mengatakan kau sedang mengandung anakku." ucap Gerald yang berhasil membuat mata Cella membulat sempurna. Cella berdiri dengan mata yang memerah.
"Apa kamu pikir aku semurahan itu? Aku tidak akan pernah melakukan hal rendahan itu Gerald, aku masih punya harga diri." bentak Cella. Gerald tersenyum kecut.
"Lalu kau menganggap aku pria brengsek sehingga kau tidak mau menyerahkan dirimu padaku? Ingat, aku adalah suamimu. Aku berhak atas dirimu." ucap Gerald menatap punggung Cella. Cella semakin terisak, dadanya begitu sesak.
"Bukan itu maksudku, hanya saja... Aku... Aku...
"Lebih baik kita bercerai." ucap Gerald membelakangi Cella. Cella sangat terkejut, ia bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri Gerald.
"Gerald, apa maksudnya?" tanya Cella berdiri di hadapan pria itu.
"Sejak awal aku sudah mencintai seseorang. Dia wanita yang selalu aku impikan dan ingin aku nikahi."
Mata Cella membulat sempurna. Ia tak percaya dengan ucapan suaminya itu.
"Lalu kenapa kau tidak mengatakan ini dari awal Gerald, kau berhak bahagia dengannya. Bukan denganku." ucap Cella menggenggam tangan suaminya.
"Itu yang seharusnya aku ucapkan padamu Cella. Kenapa tidak dari awal kau mengatakan semuanya!" ucap Gerald dengan suara sedikit meninggi. Cella tersentak kaget.
"Gerald." ucap Cella menatap pria itu lekat.
"Seharusnya dari awal kau menolak perjodohan ini. Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal huh?"
"Karena aku sudah lelah berharap, aku lelah." ucap Cella begitu prustasi.
"Lalu kau menjadikan aku pelampiasan?"
Cella menggeleng, ia tak pernah memikirkan hal itu sama sekali.
"Tidak, aku hanya ingin bahagia." ucap Cella menunduk sambil menangis.
"Apa sekarang kau bahagia? Lalu kenapa kau menangis? Bukankah kau sudah bahagia?" ucap Gerald mendekati Cella. Cella semakin mengencangkan tangisannya.
__ADS_1
"Aku... Aku...
"Kau sangat mencintainya dan dia juga sangat mencintaimu."
Cella sangat terkejut, ia mengangkat kepala untuk menatap Gerald. Gerald tersenyum dan menangkup wajah Cella.
"Dasar bodoh, kenapa tidak mengatakan ini dari dulu. Kau mencintai orang lain, tapi kau menikahi aku." ucap Gerald menghapus air mata Cella.
"Kenapa masih berdiam diri disini, kejar dia. Dia sudah berani jauh-jauh kesini untuk mengatakan perasaanya padamu. Bukankah ini yang kau inginkan bukan?" ujar Gerald.
"Gerald." ucap Cella bingung.
"Gracella Marcelina Putri, dengan berat hati aku menceraikanmu." ucap Gerald. Cella menggeleng kuat.
"Gerald...
"Shut... Jangan banyak bicara, aku tahu kau masih sangat mencintainya. Kau menangis karena merasa bersalah sudah menyakitinya bukan? Kejar dia sebelum terlambat. Aku yang akan mengurus surat perceraian kita." ucap Gerald mengecup kening Cella begitu mesra.
"Gerald, bagaimana dengan dirimu?" tanya Cella menggenggam tangan Gerald.
"Jangan pikirkan aku, aku akan melakukan hal yang sama seperti kekasihmu itu, aku akan menemui wanita yang selalu aku abaikan. Aku belajar dari kalian, aku tidak akan menyia-nyiakan wanita itu lagi."
Cella tersenyum dan langsung memeluk Gerald.
"Terimakasih." ucap Cella mengeratkan pelukannya.
"Pergilah, aku tidak akan menahanmu karena aku tahu dia sangat mencintaimu. Alasan dia memukulku karena aku mengatakan jika aku akan menyakitimu. Dia sangat marah dan memukulku. Dia sangat mencintaimu." ucap Gerald mendorong tubuh Cella perlahan.
"Pergilah sebelum aku berubah pikiran dan benar-benar menyakitimu." ucap Gerald menatap Cella. Cella tersenyum dan kembali memeluk Gerald.
"Kau tidak akan melakukan itu, aku tahu." ucap Cella menangis bahagia. Ia tidak pernah menyesal sudah menikahi pria baik seperti Gerald. Walaupun pernikahan yang begitu singkat.
"Semoga kalian selalu bahagia." ucap Gerald mengecup pucuk kepala Cella.
Flashback off
"Kami sudah berecerai. Apa kamu akan menerimaku sebagai seorang janda?" tanya Cella menatap Arzu.
"Tidak!" ucap Arzu. Cella sangat terkejut, ia menunduk.
'Apa maksudnya? Apa dia menolakku lagi? Kenapa dia melakukan ini?'
"Tidak." ucap Arzu lagi sambil menarik dagu Cella. Ia menatap mata indah itu begitu dalam.
"Tidak mungkin aku menolak kamu lagi. Adapun status kamu saat ini, aku tidak perduli. Kau sudah datang kemari jadi aku tidak akan membiarkanmu pergi." ujar Arzu. Cella tersenyum bahagia. Ia kembali memeluk Arzu.
"Aku juga mencintaimu, maaf aku telat menyadarinya. Aku mencintai kalian berdua dalam waktu bersamaan." ucap Arzu menatap foto Monik. Senyuman itu seakan mengisyaratkan bahawa ia bahagia disana.
"Aku tidak pernah meminta kamu untuk tidak mencintai orang lain Arzu. Aku hanya ingin kau membalas cintaku. Aku tahu, Monik tak akan pernah tergantikan oleh siapa pun. Dia ada disini." ucap Cella menyetuh dada bidang Arzu.
"Aku sudah sangat bahagia bisa memelukmu seperti ini." imbuh Cella mengeratkan pelukannya.
"Jadi kau kembali hanya untuk memelukku." ucap Arzu mendorong tubuh Cella perlahan. Cella tersenyum dan mengangguk.
"Menikahlah dengannku, kali ini bukan sebagai ibu pengganti. Tapi jadilah istriku, kau bisa memelukku setiap detik dan setiap saat." ucap Arzu mengecup kening Cella begitu dalam. Cella memejamkan matanya dan merasakan desiran hangat di setiap aliran darahnya.
"Bagaimana jika aku menolak?" tanya Cella menyadarkan kepalanya di dada bidang Arzu.
"Maka aku akan memaksamu." ucap Arzu memeluk Cella. Beberapa kali ia mengecup pucuk kepala Cella.
'Terimakasih Monik, aku sangat mencintaimu.' batin Arzu.
__ADS_1