ARZU

ARZU
Chapter 66


__ADS_3

Sudah beberapa hari sejak kejadian mimpi itu. Tapi Arzu masih belum bisa melupakan semua ucapan Monik. Perkataan itu terus menghantui dirinya.


BRUUKK


Arzu tak senagaja menabrak seseorang hingga benda yang orang itu pegang terjatuh.


"Sorry, aku tidak sengaja." ucap Arzu membantu mengambilkan sebuket mawar milik pria yang ia tabrak.


"Tidak jadi masalah, aku juga tidak hati-hati." ucap pria itu mengambil bunga itu dari tangan Arzu.


"Ah iya, perkenalkan namaku Gerald. Aku kesini mencari seseorang. Apa kau kenal dengan Cella?" ucap pria itu mengulurkan tanganya.


"Ah, aku Arzu. Ya, aku mengenalnya? Kau.."


"Aku calon suaminya, yang tepat nya kami dijodohkan. Aku ingin membuat kejutan untuk nya, bisa tolong tunjukkan dimana ruangannya?" ujar pria itu yang berhasil membuat Aezu terkejut.


'Jadi dia sudah memiliki kekasih?'


"Hey, apa kau mendengar ucapanku?" tanya pria itu lagi yang berhasil membuat Arzu tekejut.


"Ya, ruangannya tak jauh dari sini. Pintu ke tiga dari sini." ucap Arzu menunjuk ruangan Cella."


"Ah, thank you brother. Aku sangat beruntung bertemu denganmu. Aku akan langsung kesana. Semoga dia terkejut." ucap pria itu begitu semangat.


"Ya, semoga berhasil." ucap Arzu datar. Pria itu pun langsung berjalan menuju ruangan Cella. Arzu menatap punggung pria itu lekat. Seperti ada yang memgganjal dihatinya. Namun Arzu tidak tahu apa itu. Ia menggelengkan kepalanya dan langsung masuk keruangannya.


"Sus, tolong ambilkan berkas kemarin. Ada berapa yang harus saya perbaiki." ucap Arzu bicara melalui telpon. Lalu tak berapa lama seorang suster masuk membawa sebuah map.


"Ini berkas yang anda minta dok." ucap sang suster meletakkan map itu diatas meja.


"Ya, terima kasih." ucap Arzu.


"Sama-sama dok, saya pamit dulu. Permisi dok." ucap suster yang dijawab anggukan oleh Arzu. Ia membuka dokumen yang harus ia perbaiki.


"Bro, kantin yuk? Lapar gw." ucap Aditya masuk keruangan Arzu tanpa permisi.


"Ketuk pintu sebelum masuk, jangan lupakan tatakrama." ucap Arzu datar. Aditya duduk dihadapan Arzu.

__ADS_1


"Sorry, lupa." ucap Aditya cengengesan. Ia menatap wajah Arzu yang terlihat kusut.


"Kenapa muka lo? Udah kayak remesan peyek gitu." ucap Aditya meneliti wajah Arzu. Arzu memberikan tatapan membunuh pada Aditya.


"Ck, udah lah. Buruan kekantin, lapar gw. Ayok." ucap Aditya berjalan kearah pintu.


"Zu, lima menit Lo gak nyusul gw. Gw bakal nyuruh Cella kesini, jangan abaikan ancaman gw." ucap Aditya. Ia keluar dari ruangan Arzu dengan senyuman lebar.


Arzu menutup laptopnya dan membereskan semua dokumen penting. Sebelum keluar, ia merapikan penampilan nya. Benar kata Aditya, Arzu terlihat sangat berantakan. Tidak perduli dengan penampilannya, Arzu pun langsung beranjak keluar untuk menyusul Aditya. Bukan karena takut akan ancaman darinya, namun saat ini perut Arzu berontak minta diisi. Pagi tadi ia lupa sarapan.


"Yuhuuuu... Nyusul juga akhirnya pangeran es." ucap Aditya begitu senang. Arzu sama sekali tak menanggapi ucapan Aditya.


Setelah memesan makanan. Arzu ikut duduk di sebelah Aditya.


"Hey, kita ketemu lagi." sapa seseorang. Ya, dia adalah pria yang Arzu tabrak tadi. Pandangan Arzu tertuju pada wanita cantik yang tengah memeluk buket bunga. Wanita itu terlihat canggung.


"Em Ger, aku sangat lapar. Bisa kita langsung makan?" ucap Cella yang sudah tidak nyaman dengan tatapan Arzu. Jika terus ditatap seperti itu, bisa-bisa Cella semakin gugup.


"Tentu honey. By Arzu." ucap Gerald menarik tangan Cella. Hal itu tak luput dari tatapan Arzu.


"Bro, itu pacarnya Cella? Gila, bisa move on juga dia dari lo." ucap Aditya menatap Cella dan Gerald tak percaya. Mereka memilih duduk ditepi kolam. Tentu saja mereka masih bisa melihat dengan jelas apa yang mereka lakukan.


'Hah, ternyata wanita es itu bisa tertawa juga.'


Tap! Mata mereka pun saling bertemu. Arzu sama sekali tak memalingkan wajahnya. Ia terus menatap Cella yang tadi tertawa kini langsung terdiam. Cella menundukkan kepalanya karena merasa tidak nyaman.


"Hah, bahkan dia masih bisa menatap orang lain." ucap Arzu yang berhasil membuat Aditya bingung. Pasalnya sedari tadi ia tidak bicara.


"Siapa yang lo maksud?" tanya Aditya melihat kiri dan kanan seperti orang bodoh. Arzu sama sekali tidak memperdulikan Aditya yang dibuat bingung olehnya.


Kini tak ada lagi pembicaraan. Mereka terhanyut dalam keheningan sambil menikmati makanan. Selesai makan, Arzu langsung beranjak pergi tanpa sepatah kata pun. Aditya kembali dilanda kebingungan. Sikap Arzu benar-benar sangat aneh.


Arzu melempar snelli miliknya dengan kasar di sofa. Ia juga menjatuhkan tubuhnya disana. Suasana hatinya benar-benar sangat kacau. Hatinya sangat panas saat melihat Cella tersenyum untuk pria itu.


"Akhhh... Kenapa seperti ini? Aku tidak mungkin memiliki perasaan ini." ucapnya mengacak rambutnya kasar. Ia bingung dengan perasaanya saat ini. Baginya, ini terlalu cepat. Ia tidak mungkin mencintai orang lain, sedangkan dihatinya masih terdapat rasa cinta yang mendalam untuk Monik.


Arzu menatap langit-langit cukup lama. Lalu perkataan Monik kembali terngiang. Ia membenarkan posisi duduknya.

__ADS_1


"Apa yang dia maksud itu adalah Cella? Tidak mungkin, aku tidak pernah mencintai wanita itu." ucap Arzu menggeleng. Ia mengusap wajahnya beberapa kali. Bayangan masa lalunya kembali bermain dalam ingatannya.


"Kenapa kau selalu mengikuti ku?" tanya Arzu pada seorang gadis yang kini tengah duduk disebelahnya.


"Aku tidak mengikutimu, mungkin kita berjodoh." ucap gadis itu dengan wajah datarnya. Arzu tidak lagi bicara, ia sama sekali tak menghiraukan gadis cantik di sebelahnya. Ia tidak ingin hari pertama di sekolah menjadi kenangan buruk. Ya, hari ini adalah hari pertama Arzu masuk ke sekolah menengah atas.


"Sial! Aku lupa membawa buku." ucap Arzu kesal. Bagaimana mungkin ia lupa memasukkan buku pelajaran di hari pertamanya. Lalu seseorang meletakkan buku di hadapannya.


"Hari ini aku sangat malas belajar, pakai saja bukuku." ucap gadis disebelahnya. Arzu hendak protes, namun sang guru sudah terlebih dahulu menghampiri meja mereka.


"Mana buku pelajaranmu?" tanya sang guru menatap gadis itu tajam.


"Maaf pak, saya lupa bawa." ucap gadis itu santai. Sang guru terlihat sangat marah.


"Siapa nama kamu?"


"Gracella Marcelina Putri pak." ucap gadis itu dengan lantang.


"Ini adalah hari pertama kalian masuk sekolah. Berani sekali kalian bandel. Jangan kalian pikir sekolah ini tempat bermain. Banyak siswa yang ingin masuk kesini. Tapi kalian tidak bersyukur. Keluar! Berdiri satu kaki di bawah tiang bendera hingga jam istirahat." semua siswa terdiam karena merasa takut. Namun tidak dengan gadis itu, ia langsung beranjak keluar. Sang guru pun menggeleng tak percaya dengan sikap siswi yang satu itu.


Arzu menatap punggung sang gadis yang mulai menghilang dibalik pintu. Rasa bersalah mulai menyelimuti hatinya. Jam pelajaran pun sudah dimulai. Namun Arzu tidak bisa pokus. Ia terus memikirkan gadis itu.


'Dasar bodoh. Dia kira aku akan perduli.' batin Arzu.


Ia berusaha untuk pokus kembali dengan pelajaran yang sedang berlangsung. Namun wajah gadis itu kembali melintas di depannya. Ia menghela napas gusar.


"maaf pak, saya izin ke toilet." ucap Arzu mengangkat tangannya.


"Silahkan, jangan lama." ucap sang guru. Arzu mengangguk dan langsung beranjak keluar. Ia sedikit berlari menuju lapangan. Terlihat sang gadis itu tengah berdiri dengan sebelah kaki.


"Apa kau sudah gila? Kau pikir aku akan peduli denganmu?" ucap Arzu memberikan tatapan tajam. Gadis itu sama sekali tak bergeming.


"Tidak perlu sok kuat, kau terlalu sombong." imbuh Arzu. Ia sangat kesal karena gadis itu tidak merespon ucapannya.


"Sekuat apapun kau berusaha. Aku tidak akan pernah menyukai gadis dingin dan sombong seperti mu. Kau terlalu percaya diri." setelah mengatakan itu, Arzu langsung beranjak pergi meninggalkan gadis itu. Setetes air bening berhasil jatuh ketanah.


"Lalu wanita seperti apa yang kau sukai Arzu?" teriak gadis yang kerap dipanggil Cella itu. Arzu menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Yang jelas dia bukan dirimu." ucap Arzu. Ia melanjutkan langkahnya menuju kelas. Cella tersenyum. Sebuah senyuman yang tak bisa diartikan. Senyuman yang begitu penuh makna.


__ADS_2