
"Kau... " seru Arzu saat melihat wanita yang saat ini sedang menatapnya.
"Oh jadi kalian sudah saling kenal?" tanya Elsha sambil tersenyum.
"Bagaimana dia bisa disini?" tanya Arzu datar.
"Owh, begini ceritanya kak... "
Flashback on
BRUUKK
" Up sorry." ucap Elsha yang tak segaja menabrak wanita hingga semua yang dipengang wanita itu berserakan dilantai. Elsha langsung membantu membereskan kertas-kertas yang berserakan dilantai.
"Tidak apa apa mbak. Biar saya saja yang bereskan." ucap wanita itu sambil membereskan kertas miliknya.
"Kamu?" seru Elsha saat melihat wajah wanita itu.
"Eh mbak tadi ya?" ucap wanita itu yang tak lain adalah Monik.
"Iya, kamu lagi cari lowongan kerja?" tanya Elsha sambil mangambil kertas lamaran kerja.
"Iya mbak, saya sedang mencari kerja sampingan." ucap Monik tersenyum.
"Panggil saya Elsha, kita seumuran kok." ucap Elsha menjulurkan tangannya pada Monik.
"Monik." ucap Monik tersenyum ramah.
"Hmmm... Monik ya? Nama yang bagus." ucap Elsha tersenyum penuh arti.
"Bagaimana kalau kamu bekerja denganku?" tanya Elsha menatap Monik.
"Kerja apa mbak? eh maksudnya Elsha." ucap Monik.
"Model untuk lukisan mau tidak? Aku punya kakak yang sangat membutuhkan model untuk lukisanya." ucap Elsha penuh harap.
"Aku tidak mengerti soal model." ucap Monik.
"Itu masalah gampang, ikut lah denganku." ucap Elsha menarik tangan Monik.
"Masuklah." ucap Elsha menyuruh Monik masuk kedalam mobil saat mereka sudah sampai di parkiran.
"Kita mau kemana?" tanya Monik saat Elsha sudah melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Kita akan bertemu dengan kakakku." ucap Elsha penuh semangat.
Tak berapa lama, Elsha memarkirkan mobilnya didepan sebuah gedung yang lumayan besar.
"Ayok, ikut denganku." ucap Elsha turun dari mobil dan diikuti oleh Monik.
Monik mengikuti Elsha dari belakang.
"Kak, aku sudah dapat model yang kakak mau." ucap Elsha pada seorang pria yang masih sibuk melukis. Pria itu membalikan tubuhnya dan betapa terkejutnya Monik saat melihat wajah pria itu. Pria itu tersenyum ramah pada Monik.
"Lumayan cantik. Kenalin aku Arza." ucap Arza menjulurkan tangannya pada Monik. Monik masih terdiam menatap wajah Arza.
"Kenapa dia sangat mirip dengan pria aneh itu? Hanya rambut mereka saja yang berbeda." ucap Monik dalam hati. Arza yang melihat itu langsung menatap Elsha. Elsha menganggukkan kepalanya, Arza mengerti dan langsung tersenyum jahil.
"Hello, are you ok?" tanya Arza merubah ekspresinya menjadi dingin. Monik terkejut dan mulai tersadar dari lamunannya.
"Ya, sa-saya Monik." ucap Monik gugup dan langsung menyambut uluran tangan Arza.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kita pernah bertemu?" tanya Arza yang berhasil membuat Monik terkejut.
"Ti-tidak, mungkin aku salah lihat." ucap Monik menundukkan kepalanya.
"Sudah lah, Ayok ikut aku keruang kostum." ucap Elsha yang langsung menarik tangan Monik menuju ruang kostum.
Flashback off
"A-pa kalian kembar?" tanya Monik terbata.
"Ya, dia kakakku. Tapi kami berbeda, aku lebih baik darinya." ucap Arza berbisik pada Monik. Monik langsung menatap Arza yang sedang tersenyum padanya.
"Kalian begitu mirip. Hanya rambut kalian saja yang berada. Kamu seperti perempuan karena rambutmu panjang." ucap Monik yang berhasil membuat Arza terkejut, pasalnya Monik adalah orang pertama yang mengatakan jika ia seperti perempuan.
"Buahahaha... Kau mirip perempuan katanya kak, cocok Juga sih. Lihat lah jika kakak memakai gaun pengantin seperti Monik, aku yakin banyak pria yang tergoda." ujar Elsha sambil tertawa. Arza yang mendengar itu sangat kesal. Monik tersenyum saat melihat Elsha tertawa, namun senyuman itu hilang saat ia melihat tatapan tajam dari Arzu.
"Apa kalian akan terus tertawa? Jika seperti itu aku akan pulang." ucap Arzu yang hendak pergi. Namun dengan cepat Arza menahan Arzu.
"Tunggu dulu dong kak. Duduk lah disana, aku akan segera melukismu." ucap Arza menunjuk sebuah kursi yang sudah ia sediakan untuk Arza. Arzu menatap Arza kesal dan langsung duduk dikursi yang Arza tunjukkan.
"Monik ikut lah dengan kakakku. Elsha tolong bantu mereka." ucap Arza yang mulai serius.
"Kalian harus terlihat mesra, seperti pasangan pengantin baru. Monik, duduklah dipangkuan Kak Arzu." Monik membulatkan matanya saat mendengar ucapan Elsha, sedangkan Arzu hanya menatap Monik datar. Ya, Arzu mengakui jika malam ini Monik terlihat lebih cantik tanpa kacamatanya. Arzu juga menyukai rambut panjang Monik dibiarkan tergerai dari pada diikat seperti biasa.
"Apa harus duduk dipangkuanya?" tanya Monik pada Elsha. Elsha mengangguk begitu semangat.
__ADS_1
"Tapi... "
"Ayolah, hanya sebentar." ucap Elsha memohon pada Monik.
"Baik lah." ucap Monik mengalah, ia melangkahkan kakinya mendekati Arzu yang sedari tadi terus menatapnya.
"Maaf." ucap Monik yang mulai duduk dipangkuan Arzu.
"Kak letakkan tangan kakak disini." ucap Elsha menarik tangan Arzu dan meletakkannya di pinggang Monik. Seketika tubuh Monik menegang.
"Saling tatap dong plis." ucap Arza sedikit berteriak. Monik menelan air ludahnya karena sangat gugup. Ia juga bingung kenapa jantungnya berdegup sangat kencang. Monik mulai memberanikan diri untuk menatap wajah Arzu yang begitu dingin. Lalu pandangan keduanya pun terkunci.
"Ok good, tetap seperti itu." seru Arza yang mulai melukis.
"Kenapa kau memilih pekerjaan seperti ini?" ucap Arzu datar.
"Tidak apa pilihan lain, saya dipecat ditempat kerja saya yang kemarin." ucap Monik yang berhasil membuat Arzu terkejut.
"Apa karena kejadian kemarin?" tanya Arzu.
"Tidak, itu memang kesalahan saya karena terlalu ceroboh." ucap Monik sambil terus menatap mata biru Arzu.
"Tidak perlu bekerja." ucap Arzu yang berhasil membuat Monik bingung.
"Kalau saya tidak bekerja bagaimana dengan biaya berobat ibu saya?" ucap Monik menatap Arzu tak percaya.
"Apa kau lupa ucapanku tadi siang?" tanya Arzu, Monik mengernyitkan keningnya karena bingung.
"Menikahlah denganku, aku akan menanggung semua kehidupanmu dan juga ibumu." ucap Arzu begitu tegas, Monik hanya diam menatap Arzu.
"Aku serius, jadi aku harap malam ini kau memikirkan semuanya. Besok aku dan kedua orangtuaku akan melamarmu." ucap Arzu menatap manik mata coklat Monik. Monik mengerjapkan matanya beberapa kali karena tidak percaya dengan ucapan Arzu, ia tidak pernah mengira jika Arzu benar benar ingin menikahinya.
"Bagaimana jika saya sudah menikah?" tanya Monik.
"Aku tahu kau belum menikah ataupun memiliki kekasih." ucap Arzu datar. Monik hanya menundukkan kepalanya. Arzu menarik dagu Monik untuk bisa terus menatap wajah manis Monik. Tanpa mereka sadari Elsha dan Arza sedang memperhatikan mereka.
"Apa kakak setuju jika dia jadi pasangan kak Zu?" tanya Elsha sedikit berbisik pada Arza.
"No problem, she is beautiful." ucap Arza menatap Arzu dan Monik.
"Aku menyukai Monik, dia sangat baik dan dia juga pintar." ucap Elsha dengan mata berbinar.
"Sshuut... Diam lah, aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan." ucap Arza, Elsha mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan ucapan Arza.
__ADS_1
"Kenapa saya yang anda pilih untuk menjadi istri, banyak wanita lain yang lebih cantik dan kaya. Saya hanya.... " belum selesai Monik bicara Arzu sudah terlebih dahulu menarik tengkuk Monik dan melumat bibir Monik.
" Ukhuuk Ukhuuk..... "