
"Inna... " Inna menoleh kesumber suara, ia melihat dua orang wanita menghampiri Inna dan Monik.
"Mbak Mayya?" ucap Inna, wanita itu adalah Mayya dan anaknya. Mayya tersenyum dan langsung memeluk Inna, Inna sangat terkejut karena sudah sangat lama tidak ada kabar dari Mayya. Setelah Mayya keluar dari penjara Inna tidak pernah mendapatkan kabar apa pun dari Mayya.
"Apa kabar mbak?" tanya Inna saat Mayya melerai pelukannya, Inna menatap gadis cantik disebelah Mayya.
"Baik, kamu bagaimana?" ucap Mayya tersenyum pada Inna dan menatap Monik, Monik tersenyum pada Mayya dan gadis yang ada di hadapannya.
"Alhamdulillah baik, ini siapa?" tanya Inna menunjuk gadis cantik yang sedang menatap Inna.
"Dia putriku, Vivian. Sayang kenalkan ini tante Inna, mamanya Elya." ujar Mayya membuat Inna sedikit tidak enak, bagaimanapun Elya adalah anak kandung Mayya.
"Vivian tante." ucap Vivian mencium tangan Inna, Inna menatap Monik yang juga sedang menatapnya.
"Monik perkenalkan ini tante Mayya, mama kandung kakak kamu Elya." ucap Inna pada Monik, Monik mengangguk tanda mengerikan dan langsung mencium tangan Mayya. Mayya menatap Inna dan Monik bergantian dengan tatapan bingung.
"Monik menantuku." ucap Inna menjawab kebingungan Mayya.
"Wah, sudah hamil ya? Udah beli perlengkapan bayi?" tanya Mayya saat melihat paper bag yang Monik bawa.
"Iya tante." ucap Monik tersenyum manis, Vivian meneliti penampilan Monik dari atas hingga bawah.
"Apa hebatnya." ucap Vivian pelan namun masih bisa didengar oleh Inna dan Monik.
"Maksud nak Vivian?" tanya Inna tak mengerti ucapan Vivian, Vivian sangat terkejut dan langsung tersenyum.
"Tidak tante, tadi Vivi liat itu." ucap Vivian menunjuk orang yang sedang berduaan didepan toko.
__ADS_1
"Kamu kenal?" tanya Mayya menatap putrinya, Vivian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Kalau begitu kami pamit dulu, kasian Monik pasti kecapean dia kan sedang hamil. Mbak saya pamit dulu." ujar Inna menarik tangan Monik membawanya pergi.
"Vivian tidak menyukaimu, dia menatap kamu seakan kamu itu menjijikan. Mama tidak suka orang lain menatap kamu seperti itu." ucap Inna yang mengomel sendiri, saat ini mereka sudah berada disebuah kafe. Monik yang mendengar itu tersenyum dan menggenggam tangan Inna.
"Monik tidak apa-apa Ma, biarlah orang lain menilai Monik seperti apa. Tapi yang paling penting itu Monik mempunyai mama yang begitu baik dan selalu memperhatikan Monik, Monik sudah sangat bahagia ma. Monik tidak akan menanggapi ucapan orang lain." ujar Monik yang berhasil membuat Inna tersentuh.
"Arzu memang tidak salah memilih kamu sayang, dia sangat beruntung bisa mendapatkan istri yang baik dan berhati lembut seperti kamu." ucap Inna menggenggam tangan Monik.
"Tidak Ma, justru sebaliknya Monik yang beruntung bisa mendapatkan keluarga yang begitu baik." ucap Monik tersenyum pada Inna. Inna membalas senyuman Monik dan menatap Monik dengan penuh kasih sayang. Namun tiba-tiba senyuman Monik memudar saat ia meraskan perutnya kembali kram.
"Akhhh... " pekik Monik memegang perutnya yang semakin sakit, Inna yang melihat itu sangat panik.
"Kamu kenapa? Apa perut kamu sakit lagi?" tanya Inna yang dijawab anggukan oleh Monik. Monik menyandarkan tubuhnya dikursi, ia memejamkan matanya dan mengigit bibirnya untuk menahan rasa sakit.
Inna membantu Monik untuk bangun dan betapa terkejutnya Inna saat melihat darah dikursi.
"Ka-kamu pendarahan?" ucap Inna begitu gugup, seketika rasa bersalah menghampiri Inna karena semua ini salahnya sudah mengajak Inna pergi jauh-jauh dari rumah.
"Ma, perut Monik sakit." ucap Monik pelan karena ia sudah tidak tahan menahan rasa sakit.
"Mas, tolong bantu saya. Anak saya pendarahan." teriak Inna pada salah seorang pelanggan yang tak jauh darinya. Pria yang tadi Inna panggil pun langsung menghampiri Inna dan membantu Monik untuk di bawa kerumah sakit.
Di depan ruang tenang Monik ditangani Inna tidak bisa diam, ia sangat takut terjadi sesuatu pada menantu dan calon cucunya.
"Mama." panggil Samuel yang baru sampai bersama Elsha. Inna langsung berhambur kepelukan Samuel dan menagis.
__ADS_1
"Ini salah mama pa, tidak seharusnya Mama bawa Monik keluar dari rumah dan pergi ke mall." ujar Inna sambil menangis dipelukan Samuel.
"Sudah jangan menangis, tidak ada yang tahu akan terjadi hal seperi ini. Mama harus mendoakan agar menantu kita baik-baik saja." ujar Samuel mengelus kepala Inna untuk menenangkan istrinya.
"Ma, apa perlu kita kabari kak Zu?" tanya Elsha menatap kedua orangtuanya.
"Jangan dulu, Arzu masih dalam perjalanan. Tunggu dokter yang menangani Monik keluar dulu dan kita dengarkan apa yang terjadi." ujar Samuel yang dijawab anggukan oleh Elsha, sedangkan Inna masih menagis dipelukkan Samuel. Tak berapa lama dokter yang menangani Monik keluar, Inna melerai pelukannya dan langsung menghampiri dokter.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya Inna begitu panik.
"Begini buk, anak ibu mengalami pendarahan yang lumayan parah, janin masih sangat muda sehingga tidak bisa bertahan". ujar sang dokter yang berhasil membuat Inna, Samuel dan Elsha terkejut.
"Jadi anak saya keguguran dok?" tanya Inna sedikit bergetar, rasa bersalah semakin menghantui Inna.
"Ada satu lagi yang menjadi masalah buk, kemungkinan besar anak ibu akan sulit memiliki anak karena rahimnya sangat lemah." sambung sang dokter yang berhasil membuat Inna syok dan jatuh pingsan. Samuel menangkap tubuh Inna, lalu Inna dibawa untuk ditangani oleh dokter.
"Terimakasih dok, apa saya boleh menemui kakak saya?" ucap Elsha yang dijawab anggukan oleh dokter, lalu Elsha langsung masuk kedalam dan melihat Monik masih tertidur pulas.
"Elsha harap kakak bisa menerima semua ini." ucap Elsha menggenggam tangan Monik.
***
"Zu, lo kenapa sih? Masih memikirkan istri Lo?" tanya Aditya saat melihat Arzu tak mau diam. Ya, Arzu memang satu bangku pesawat dengan Aditya.
"Perasaan gw gak enak." ucap Arzu memijit pelepisnya, pikirannya sama sekali tidak bisa jauh dari Monik.
"Gw yakin dia akan baik-baik aja. Setelah kita sampe disana Lo telpon dia deh suapaya hati Lo tenang." ujar Aditya, Arzu menatap sahabatnnya. Aditya ada benarnya, Arzu harus menelepon istrinya untuk memastikan keadaan Monik. Arzu menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan ucapan Aditya, Aditya yang melihat itu tersenyum bahagia sambil menepuk pundak Arzu. Arzu menggelengkan kepalanya dan mulai memejamkan matanya.
__ADS_1