
"Aaaaak... Buka mulutnya sayang, iya pintar anak bunda." Cella menyuapi kedua putrinya dengan begitu semangat. Syila dan Qila pun bertepuk tangan karena senang. Keduanya kini sudah besar. Usia mereka kini memasuki 10 bulan.
"Pinter anak bunda, mam lagi."
"Mammm...mammm.." ucap Qila sambil menarik lengan baju Cella. Cella tertawa ringan saat melihat tingkah Qila yang selalu cemburu dengan kakaknya.
"Iya sayang, Qila juga mam kok. Buka mulutnya... " seakan mengerti Qila pun membuka mulutnya dan menepuk lengan Syila. Syila memajukan bibirnya hendak menangis.
"Eh, enggak sayang. Maafin Qila ya. Siapa nakal huh?" tanya ucap Cella mengelus pipi Syila. Syila pun tak jadi menangis dan malah tersenyum.
"Sudah habis, minum dulu ya?"
Arzu berdiri didepan pintu sambil tersenyum melihat Cella begitu cekatan mengurus kedua putrinya. Qila yang sadar akan kehadiran Arzu pun langsung mengangkat kedua tangannya. Cella langsung menoleh kebelakang.
"Kenapa berdiri disitu?" tanya Cella. Arzu berjalan menghampiri Cella dan kedua putrinya.
"Aku hanya tidak ingin mengganggu kalian." ucap Arzu. Cella tersenyum mendengar ucapan Arzu.
"Mereka sudah besar, lihat Qila. Dia selalu cemburu pada Syila. Mereka sangat menggemaskan." ucap Cella mencubit pipi Qila dengan gemas.
"Lalu anak papa yang satu lagi apa kabar?" tanya Arzu mengelus perut Cella.
"Baik papa," ucap Cella menirukan suara anak kecil. Arzu tersenyum dan mengecup perut Cella.
"Papapapa..." ucap Qila terus menarik baju Arzu. Arzu tertawa renyah dan langsung menggendong Qila.
"Rindu papa ya?" tanya Arzu mencium pipi Qila dengan gemas. Cella tersenyum dan mengusap kepala Syila.
"Syila masih mau makan?" tanya Cella saat melihat Syila masih menarik piring yang Cella pegang.
"Mammmammaaa... " Syila menarik sendok dan memasukkannya kedalam mulut. Cella tertawa dan mengambil sendok di mulut Syila.
"Bunda ambilkan kue untuk kalian dulu ya? Sabar sayang." ucap Cella bangun dari duduknya. Namun baru beberapa langkah, Cella meringis kesakitan saat merasakan perutnya kram. Arzu sangat terkejut dan langsung menghampiri Cella.
"Ada apa?" tanya Arzu panik. Qila yang berada di gendongan Arzu pun ikut menatap Cella.
"Kram lagi, mungkin karena aku belum minum vitamin." ucap Cella menyetuh perutnya. Arzu sangat khawatir, ia kembali meletakkan Qila diatas stroller.
"Kita kerumah sakit, kamu sering sekali seperti ini." ucap Arzu menyetuh kedua pundak Cella.
__ADS_1
"Ini cuma kram biasa sayang. Aku hanya terlalu lelah, jadi sering mengalami kram perut. Bisa tolong ambilkan kue si kembar dan vitamin diatas meja depan." ujar Cella kembali duduk diatas ranjang dibantu oleh Arzu.
"Tunggu sebentar." ucap Arzu yang langsung beranjak keluar. Cella menarik napas dalam-dalam untuk menghilangkan kram di perutnya. Beberapa menit kemudian sakitnya pun mulai hilang. Cella mengalihkan pandangannya pada kedua putri kecilnya yang sedang berebut mainan.
"Sayang, kenapa harus berebut? Kan sudah dapat satu orang satu. Ini punya Syila, ini punya Qila." ujar Cella mengusap kepala keduanya. Mereka memang sangat menggemaskan.
"Hmm... Sepertinya bunda harus mengambil gambar kalian deh." ucap Cella mengambil ponselnya.
"Syila, Qila, lihat bunda sayang."
'Cekrek' satu gambar berhasil Cella dapatkan. Gambar yang begitu menggemaskan dimana Syila begitu semangat melihat kearah kamera, sedangkan Qila menatap Syila dengan ekspresi lucu.
"Ini sayang, diminum dulu vitaminnya." ucap Arzu yang baru saja masuk.
"Lihat, mereka sangat lucu." ucap Cella menunjukkan hasil jepretannya pada Arzu.
"Hmmm... Lumayan, tapi kenapa Qila menatap Syila seperti itu?" tanya Arzu mengambil ponsel Cella.
"Qila kan selalu cemburu dengan Syila. Tapi mereka sangat menggemaskan." ucap Cella. Ia memberikan kue cemilan untuk Syila dan Qila. Lalu Cella pun meminum vitamin kehamilannya. Arzu menatap Qila yang sedari tadi terus menatapnya. Arzu menghampiri Qila.
"Sayang, ada apa? Kenapa menatap papa seperti itu?" tanya Arzu mengelus kepala Qila. Arzu menatap kedua putrinya, wajah mereka benar-benar sangat mirip dengan Monik.
Arzu kembali menggendong Qila, sedangkan Syila masih asik menyantap kue yang sudah memenuhi mulutnya. Sepertinya Qila sangat merindukan papanya, ia membenamkan wajahnya di dada Arzu. Arzu tersenyum dan mengelus punggung Qila dengan lembut.
"Sayang, aku sangat merindukan masakan mama Inna. Bagaimana ini? Aku ingin makan masakan mama." ujar Cella mengelus perutnya sambil membayangkan betapa enaknya masakan yang selalu Inna hidangkan. Arzu mengernyit bingung.
Apa Cella sedang ngidam?
"Kamu ngidam?" tanya Arzu menatap Cella penuh tanda tanya. Cella mengerucutkan bibirnya dan mengangguk. Arzu sempat terdiam sesaat.
"Harus masakan mama?" tanya Arzu menatap Cella. Cella mengangguk.
"Bagaimana? Jarak kita sangat jauh sayang." ucap Arzu duduk di sebelah Cella yang tengah berbaring.
"Cella tidak tahu, tiba-tiba saja pengen masakan mama." ucap Cella memasang wajah sedih.
"Bagaimana kalau ibu saja yang masak buat kamu?" tanya Arzu. Cella menatap Arzu, lalu ia kembali menggeleng.
__ADS_1
"Cella cuma mau masakan mama." ucap Cella pelan. Matanya mulai berair.
"Aku akan telpon mama, jangan menangis." ucap Arzu mengelus pipi Cella. Cella tersenyum senang, namun senyum itu kembali sirna.
"Bagaimana jika itu akan membuat mama sulit? Apa keinginan Cella terlalu berlebihan?" tanya Cella menunduk. Arzu menghela napas dan menggenggam tangan Cella.
"Mama tidak akan keberatan sayang, demi cucunya mama pasti akan melakukan apapun." ujar Arzu mengecup kening Cella. Cella menatap Arzu dan Qila bergantian.
"Maafkan aku, aku merepotkan kalian." ucap Cella. Air matanya kini mulai meluncur membasahi pipinya. Qila yang melihat itu memajukan bibirnya hendak menangis.
"Sayang, tidak ada yang merepotkan siapapun. Kamu adalah ibu dari anak anakku dan juga menantu dari keluarga Wilson. Jangan terlalu di pikirkan, mama pasti tidak akan keberatan datang ke sini. Hitung-hitung liburan. Sudah, jangan menangis. Lihat Qila, dia ikut menangis." ujar Arzu. Cella menatap Qila yang ternyata ikut meneteskan air matanya.
"Maaf sayang." ucap Cella mengambil Qila dari Arzu. Lalu tak lama Qila menangis. Syila yang sedang asik memakan kue pun langsung ikut menangis. Ya, seperti itu lah. Jika diantara mereka menangis, maka yang satu lagi akan menangis. Arzu tersenyum, ia menghampiri Syila dan menggendongnya.
"Jangan menangis sayang," ucap Arzu mengelus punggung Syila. Cella menatap Arzu agar memberikan Syila padanya. Arzu mengangguk dan memberikan Syila pada Cella.
"Jangan menangis anak bunda, bunda minta maaf." ucap Cella memeluk kedua putrinya. Qila menyadarkan kepalanya di dada Cella. Sedangkan Syila menatap Cella begitu dalam. Cella tersenyum, ia mengecup bibir Syila dengan gemas.
"Anak bunda bikin gemes." ucap Cella. Namun Cella sangat terkejut saat Qila tiba-tiba memukul wajah Syila. Syila langsung menangis karena terkejut. Arzu yang melihat itu pun langsung tertawa dan mengambil Syila dari gedongan Cella.
"Sayang, jangan pukul dong kakaknya. Bunda sayang Qila juga kok, maafin bunda sayang." ucap Cella memeluk Qila dan mencium pucuk kepala Qila begitu lembut. Kini tangisan Syila pun sudah berhenti. Cella menghela napas berat. Ia tak pernah menyangka jika Qila yang masih terbilang kecil, namun sudah memiliki rasa cemburu yang begitu besar. Arzu tersenyum sambil menatap Cella.
"Bagaimana jika mereka sudah besar? Ditambah lagi akan ada adiknya?" tanya Cella menatap Arzu lekat.
"Mereka akan mengerti jika sudah besar. Kita akan mengajarkan mereka nanti." jawab Arzu mengecup pucuk kepala Syila.
"Mereka sangat pintar, cepat besar sayang." ucap Syila terus mengecup kepala Qila. Namun pandangannya terus tertuju pada Syila yang sedari tadi terus menatapnya sambil bersandar di dada Arzu.
"Bunda sayang kalian, kasih sayang bunda tidak ada beda antara Syila dan Qila. Bunda mencintai kalian." ucap Cella sambil terus menatap Syila. Cella berharap mereka mengerti jika dirinya tak pernah pilih kasih.
"Jangan terlalu di bawa perasaan sayang, mereka masih kecil. Belum mengerti apapun." ucap Arzu menatap Cella lekat. Cella tersenyum dan mengangguk.
"Kamu harus istirahat sayang, jangan terlalu lelah. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada kalian." ujar Arzu. Cella tersenyum bahagia, perhatian Arzu berhasil membuat hatinya berbunga-bunga.
***
Malam semakin larut. Suhu udara semakin dingin. Arzu terbangun dari tidurnya dan melihat Cella terus gelisah dalam tidurnya. Arzu menaikan suhu penghangat ruangan. Setelah itu Arzu beranjak menuju kamar mandi.
Setelah selesai dengan urusan dikamar mandi. Arzu kembali duduk diatas ranjang. Matanya tak sengaja menangkap album foto Cella saat sedang belajar melukis. Saat itu Cella bersikeras ingin belajar melukis. Katanya ingin melukis waja Arzu dengan hasil tangannya sendiri. Alhasil, Cella berhasil menyelesaikan lukisannya walaupun harus menghabiskan waktu selama satu bulan hanya untuk satu buah lukisan. Tapi Arzu tetap bangga pada istrinya. Tekad dan semangatnya begitu kuat. Arzu selalu menemukan kepribadian baru dari istrinya itu.
__ADS_1
"Aku tidak tahu apa lagi yang tersembunyi dalam dirimu sayang, aku akan menunggu kejutan baru darimu." ucap Arzu mencium bibir Cella yang masih tertidur pulas. Ia tersenyum sambil mengusap pipi sang istri dengan lembut. Arzu kembali berbaring dan ikut masuk kedalam selimut.