
Arzu menatap undangan pernikahan Cella begitu lekat. Lalu ia melemparkan pandangannya keluar jendela. Awan terlihat begitu gelap. Hanya cahaya kilat-kilat kecil yang menghiasi langit. Ya, saat ini Arzu sedang dalam perjalanan. 10 jam lagi ia baru sampai di negeri paman Sam. Untuk menjemput wanita yang ia cintai.
"Aku harap kau menepati janjimu Cella, kau akan menerimaku lagi." ucapnya begitu pelan. Ia memejamkan matanya perlahan. Berharap waktu akan berjalan dengan cepat.
Suara pemberitahuan awak kabin terus terdengar karena cuaca buruk. Arzu menghela napas gusar. Jika seperti ini pejalanan akan terasa lama. Arzu membenarkan posisi duduknya. Pikirannya juga bercabang, antara cinta dan buah hatinya. Ia harus meninggalkan buah hatinya untuk menjemput cintanya. Memang dalam kehidupan itu butuh perjuangan dan pengorbanan.
Penantian yang cukup panjang itu kini menghasilkan buah yang manis. Ia tersenyum lebar saat kakinya berhasil menginjak di tanah asing. Ia berjalan dengan pasti. Hanya alamat yang terdapat dalam undangan sebagai petunjuk.
Jantung Arzu mulai berpacu saat melihat pintu mension milik keluarga Gerald. Dengan ragu ia mengetuk pintu. Helaan nafas gusar terdengar begitu jelas.
Arzu menekan bel rumah beberpa kali. Ia menggosok tangannya karena cuaca di luar begitu dingin. Tak ada jawaban dari dalam. Arzu dengan sabar menunggu, ia meneliti seluruh halaman rumah yang langsung tersambung ke jalan raya.
"Sorry sir, can I help you?"
Arzu sangat terkejut saat mendengar suara itu. Ia begitu mengenalnya. Arzu membalik tubuhnya perlahan. Mata indah itu membulat sempurna saat melihat sosok yang ada di hadapannya.
"A... Arzu?" ucapnya begitu tekejut. Arzu tersenyum tipis saat melihat wajah terkejut Cella.
"Ini sangat dingin, apa bisa aku masuk?" ucap Arzu memeluk dirinya sendiri karena tubuhnya benar-benar kedinginan.
"Ah, maaf. Silahkan masuk." ucap Cella menggeser tubuhnya untuk mempersilahkan Arzu masuk.
"Apa aku mengganggu waktu kalian?" tanya Arzu sambil melihat-lihat seisi rumah.
"Tidak, ayok ikut. Mama dan papa ada di dalam." ucap Cella berjalan mendahului Arzu. Arzu mengangguk dan mengikuti gadis itu. Tatapanya terus tertuju pada punggung sang gadis. Seulas senyuman terukir dibibirnya.
"Ma, Pa. Ada tamu. Cella kekamar sebentar." ucap gadis itu meninggalkan Arzu tanpa sedikit pun menoleh.
'Apa kau benar-benar sudah membenciku? Sampai-sampai kau sudah tak mau melihatku lagi?'
"Arzu, silahkan duduk." ucap papa Cella menatap sang istri bingung. Arzu mengangguk dan duduk disofa.
"Maaf om, tan, saya mengganggu waktu kalian." ucap Arzu menatap kedua orangtuanya Cella.
"Tidak, kami sedang bersantai. Kenapa cepat sekali kemari? Bukankah acara pernikahannya ujung minggu ini? Apa kamu juga sedang ada keperluan disini?" tanya Marcel, papa Cella.
"Em, iya om. Ada yang harus saya perjuangkan." ucap Arzu yang berhasil membuat keduanya bingung.
__ADS_1
"Ah, mama kamu tidak ikut?" kini Juju, mama Cella mulai bersuara.
"Mama tidak bisa ikut tan, si kembar tidak ada yang jaga. Mereka masih sangat kecil." ucap Arzu yang di jawab anggukkan oleh keduanya.
"Oh iya, kamu rencana mau tinggal disini atau menginap di tempat lain? Jika disini kami akan menyiapkan kamar untuk kamu. Kami belum ada persiapan, karena tidak menyangka kamu datang begitu cepat." ujar papa Cella.
"Em, sebenarnya tujuan saya datang kesini untuk tujuan yang lebih penting." ucap Arzu. Juju dan Marcel pun saling melempar pandangan.
"Owh, pasti di pindah tugaskan kesini ya?" ucap Juju tersenyum. Arzu ikut tersenyum dan menggeleng. Marcel menatap Arzu lekat, seakan ia faham dengan maksud ucapan Arzu.
"Ma, bisa mama mememui Cella?" ucap Marcel menggenggam tangan Juju.
"Untuk apa Pa? Mama disini aja. Lagian Cella sepertinya sedang bersiap. Sebentar lagi Gerald menjemputnya." ujar Juju yang berhasil membuat Arzu terkejut.
"Ma, masuk kekamar Cella sebentar. Papa harus bicara empat mata dengan Arzu." ulang Marcel. Juju mengerucutkan bibirnya.
"Memangnya bisa bicara pake mata? Ya sudah, mama kekamar dulu." ucap Juju, ia tersenyum pada Arzu. Lalu langsung beranjak pergi.
Kini suasana berubah menjadi mencekam. Sedari tadi tak ada pembicaraan yang keluar dari mulut Marcel, ataupun Arzu. Arzu berusaha untuk ternang, walaupun ia sedikit ngeri dengan tatapan Marcel.
"Katakan apa tujuan kamu sebenarnya?" tanya Marcel begitu datar.
"Tidak ada lagi yang bisa kamu perjuangkan disini. Semuanya sudah terlambat." ucap Marcel tertawa renyah.
"Belum terlambat om, sebelum ijab kabul terucap. Semuanya masih belum terlambat. Maaf jika saya lancang." ujar Arzu menatap Marcel lekat.
"Huh, saya salut kamu begitu percaya diri. Tapi maaf, sampai kapanpun saya tidak akan melepaskan putri saya untuk anda. Dia sudah milik orang lain. Akad nikah sudah dilangsungkan kemarin. Tak ada lagi kesempatan untuk anda tuan." perkataan Marcel bagaikan belati yang menghujam jantung Arzu. Arzu menggeleng pelan.
"Bagaimana dengan undangan ini? Semuanya tertulis degan jelas disini." ucap Arzu menunjukkan undangan. Marcel tertawa renyah.
"Itu hanya undangan pesta pernikahan. Akad nikah bisa dilangsungkan kapan saja. Cella yang memutuskan untuk mempercepat akadnya. Jadi anda sudah terlambat. Seharusnya kamu dari dulu memperjuangkan putri saya, tapi kamu lebih memilih orang lain. Ya sudah lah, sebaiknya kamu cari orang lain saja. Biarkan dia bahagia." ujar Marcel bangun dari duduknya.
"Aku akan menyuruh mereka untuk mempersiapkan kamar. Istirahat lah, perjalanan dari sana cukup panjang." ucap Marcel menepuk pundak Arzu. Lalu ia langsung beranjak pergi. Arzu memejamkan matanya, ia kembali mencerna setiap ucapan Marcel.
"Tidak, ini tidak mungkin terjadi." ucapnya mengepalkan tangannya. Wajahnya kini mulai memerah. Arzu bangun dari duduknya, ia melihat kesekelilingnya seperti mencari sesuatu. Ia berjalan dengan pasti untuk mencari kamar Cella.
Ceklek! Arzu sangat terkejut saat pintu sebuah kamar terbuka. Disana sudah berdiri Cella dengan penampilan yang cukup rapi.
__ADS_1
"Arzu? Sedang apa disini?" tanya Cella sambil merapikan rambutnya yang sedikit menutupi wajah cantiknya. Arzu menatap Cella begitu lekat.
"Apa tidak ada lagi kesempatan untukku Cella? Kau yang mengatakan jika aku memperjuangkanmu, kau akan menerimaku. Tapi kenapa kau berbohong dan memberikan harapan palsu?"
Cella sangat terkejut mendengar perkataan Arzu. Ia menatap Arzu begitu intens.
"Harapan palsu? Aku sudah menunggumu cukup lama Arzu. Kau mengatakan aku memberikan harapan palsu? Apa aku harus terus menunggumu Arzu? Apa aku harus menunggu dan berharap padamu, sampai kapan Arzu? sedangkan kamu sama sekali tak pernah melihatku. Aku seorang wanita, aku butuh kepastian dan juga punya harga diri." ucap Cella penuh penekanan. Arzu terdiam sesaat.
"Bisakah kau memberikan aku kesempatan Cella, aku akan memperbaiki semuanya. Aku berjanji. Aku sadar, aku mencintaimu Cella."
Deg! Jantung Cella seakan berhenti seketika. Ia tak pernah menyangka jika Arzu akan mengatakan sesuatu yang sangat ingin ia dengar. Tapi semuanya sudah terlambat.
"Maaf, ini sudah terlambat Arzu. Aku harus pergi. Suamiku sudah menunggu diluar." ucap Cella hendak pergi. Namun dengan cepat ia menahan tangan Cella.
Arzu menarik tangan Cella hingga ia kembali ke posisi semula.
"Tatap mataku dan katakan jika kau tidak mencintaiku lagi. Katakan Cella, setelah itu aku akan pergi." ucap Arzu dengan mata yang menyala. Nafas Cella kini mulai memburu.
"Lepaskan Arzu. Aku harus pergi, jangan seperti ini. Jika suamiku tahu bagaimana?" ucap Cella dengan wajah panik.
"Katakan jika kau tidak mencintaiku Cella!"
"Aku tidak mencintaimu Arzu, lepas." ucap Cella berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Arzu.
"Tatap mataku dan katakan sekali lagi." ucap Arzu menatap Cella lekat.
"Aku... Aku, aku tidak mencintaimu." ucap Cella menatap mata Arzu. Arzu tersenyum puas.
"Kau masih mencintaiku. Matamu tak bisa berbohong. Kau masih sangat mencintaiku Cella. Ah, aku sangat lega. Kau boleh pergi." ucap Arzu melepaskan tangan Cella. Cella sangat terkejut dan bingung dengan sikap Arzu.
"Pergilah dengan suamimu, aku akan menunggumu pulang." imbuh Arzu membelakangi Cella. Cella menatap punggung Arzu dengan tatapan bingung.
Cella barjalan perlahan dengan pikiran yang kacau. Ia tak pernah menyangka jika hal ini akan benar-benar terjadi.
'Dia mencintaiku? Apa itu benar? Ini seperti mimpi. Tapi kenapa baru sekarang dia mengatakannya? Kenapa tidak malam itu?'
Butiran bening mulai meluncur di pipinya. Ia menyetuh benda yang melingkar di jari manisnya. Ia tidak mungkin menghianati suaminya. Semuanya sudah terlambat. Cella menyapu pipinya dengan kasar. Ia tak boleh seperti ini, Gerald tak boleh mengetahui perasaanya saat ini.
__ADS_1
Berbeda dengan Arzu, ia terduduk lesu di tepi ranjang. Rasa senang, kecewa dan sedih bercampur menjadi satu. Ucapan Marcel terus terngiang. Ini semua memang salahnya. Tapi tidak jadi masalah, setidaknya ia tahu jika Cella masih sangat mencintainya. Walaupun mungkin mereka tak akan bisa kembali bersatu.