ARZU

ARZU
Chapter 19


__ADS_3

"Arzu... " ucap seseorang yang berhasil membuat Monik dan Arzu terkejut.


"Mona? Sedang apa disini?" tanya Arzu menatap orang yang tadi memanggilnya adalah Mona.


"Aku lapar dan pengen makan bakso, tapi cuma disini yang buka." ucap Mona yang langsung duduk disebelah Arzu tanpa meminta izin.


"Gak apa-apa kan aku duduk disini? Bangku lain udah penuh." ucap Mona melirik Monik. Tidak ada jawaban dari keduanya, Monik memalingkan wajahnya ketempat lain. Monik sangat bingung kenapa ia sangat malas melihat kearah Mona. Arzu yang menyadari itu langsung menggenggam tangan Monik.


"Tidak apa-apa." ucap Monik tersenyum. Lalu tak berapa lama pesanan Monik pun sampai.


"Sok atuh di santap bakso na neng. Minum na apa neng?" ucap mang Ujang meletakkan dua mangkuk bakso didepan Monik. Aroma bakso menyeruak kehidung Monik membuat perutnya ingin cepat-cepat diisi.


"Teh hangat aja." ucap Monik yang dijawab anggukan mang Ujang.


"Kamu makan bakso? Bukanya kamu tidak suka bakso?" tanya Mona yang berhasil membuat Monik tidak jadi memasukkan bakso kemulutnya.


"Kepo banget sih." ucap Monik mengaduk baksonya kasar. Arzu mengambil alih sendok ditangan Monik, ia memotong bakso dan menyuapi Monik.


"Makan, perut kamu harus terisi." ucap Arzu membuat Monik sangat bahagia. Dengan semangat Monik menerima suapan Arzu.


"Emm... Baksonya enak mang." seru Monik saat melihat mang Ujang membawa bakso milik Mona.


"Itu mah karena suami neng yang suapin, makanya enak." ucap mang Ujang tertawa.


"Emang enak kok mang." ucap Monik menerima suapan dari Arzu lagi.


"Kakak harus cobak, enak kok." ucap Monik mengambil sendok dari tangan Arzu. Mona yang melihat itu hanya bisa mengepalkan tanganya karena tidak suka dengan kemesraan Monik dan Arzu.


"Tidak, aku tidak suka bakso." ucap Arzu menggelengakan kepalanya.


"Kakak belum cobak, jadi sekarang cobak deh." ucap Monik menyuapi Arzu. Awalnya Arzu menolak, namun ia tidak mau melihat Monik kembali sedih dan akhirnya menerima suapan Monik. Arzu mengunyah perlahan bakso dimulutnya, Ia sangat terkejut karena bakso yang ia makan memang sangat enak.

__ADS_1


"Enak kan?" tanya Monik yang dijawab anggukkan oleh Arzu. Arzu mengambil satu mangkuk bakso yang ada dihadapan Monik dan memakanya dengan lahap. Monik sangat terkejut sambil terus menatap Arzu yang begitu lahap memakan bakso miliknya.


"Ih, katanya gak suka. Tapi tuh bakso Monik kok diambil." rengek Monik yang baru menyadari jika Arzu mangambil baksonya.


"Sok nambah lagi atuh neng." ucap mang ujang mengantar air minum untuk Monik dan Arzu.


"Boleh mang, satu lagi ya." ucap Monik yang dijawab anggukan oleh mang Ujang.


"Dua lagi mang." ucap Arzu yang berhasil membuat Monik dan Mona tersedak.


"Ukhuuk... Serius kak?" tanya Monik tak percaya. Arzu hanya menganggukkan kepalanya dan kembali pokus memakan baksonya lagi.


"Itu namanya tak kenal maka tak sayang neng, udah kenal mah minta nambah terus." ucap mang ujang yang disambut tawa oleh Monik, Sedangakan Mona melirik Monik tak suka.


"Huh kenyang." ucap Monik mengelus perutnya yang sudah penuh terisi oleh dua mangkuk bakso. Sedangkan Arzu yang sudah selesai makan dari tadi sedang asik memainkan ponselnya.


"Oh iya, minggu depan kamu ikut kan ke Singapura? Agenda wajib loh." ucap Mona yang berhasil mendapatkan perhatian dari Monik dan Arzu. Monik menatap Arzu penuh tanda tanya.


"Ada apa lagi?" tanya Arzu melepaskan tangan Mona.


"Aku harap disana kita satu grup." ucap Mona menyunggingkan senyuman manisnya. Namun itu semua tidak berpengaruh untuk Arzu.


"Kak pulang yuk, Monik ngantuk." rengek Monik sambil mengucek matanya yang memang sudah sangat berat.


"Iya, kita pulang." ucap Arzu membukakan pintu mobil untuk Monik, lalu mereka langsung beranjak pergi meninggalkan Mona sendirian dengan kekesalan yang begitu mendalam.


"Lihat saja, siapa yang akan menang. Aku atau perempuan kampung itu." ucap Mona tersenyum licik, lalu Ia langsung melangkah pergi.


***


Pagi hari setelah solat subuh, Monik tidak berhenti keluar masuk kamar mandi. Perutnya terus mual dan seperti biasa hanya mengeluarkan cairan bening. Monik menyandarkan tubuhnya didinding karena merasa lelah dan sangat lemas.

__ADS_1


"Minum dulu sayang." ucap Arzu yang baru muncul dari luar untuk mengambil air hangat. Arzu membantu Monik berjalan menuju ranjang, Monik menyandarkan tubuhnya.


"Kepala Monik sakit kak." ucap Monik menyentuh kepalanya yang berdenyut.


"Minum dulu, setelah ini tidur lagi." ucap Arzu memberikan segelas air pada Monik. Monik meneguk air itu hanya sedikit karena lidahnya terasa sangat pahit. Arzu meletakkan gelas diatas nakas, ia membantu Monik untuk tidur dan menarik selimut untuk Monik.


"Kakak tidak kerja?" tanya Monik menatap Arzu sambil menggenggam tangan Arzu.


"Sepertinya tidak, aku tidak mungkin meninggalkan kamu seperti ini." ucap Arzu mengelus pipi Monik.


"Monik baik-baik aja kak, kakak harus kerja sudah berapa kali kakak tidak masuk kerja." ujar Monik tersenyum.


"Tidak, aku akan meminta cuti berapa hari. Oh iya, minggu depan aku akan berangkat ke Singapura untuk training beberapa minggu." ujar Arzu yang berhasil membuat Monik terdiam. Monik menatap langit-langit karena ia menahan agar air matanya tak jatuh, Monik tidak mengerti dengan dirinya sendiri akhir-akhir ini sangat mudah menangis.


"Aku tidak bisa menolak sayang, ini wajib untuk beberapa dokter. Paman Rehan juga akan ikut." ujar Arzu memeluk perut Monik, Monik menatap mata Arzu dan air matanya berhasil lolos. Arzu yang melihat itu langsung memeluk Monik dengan erat, sebenarnya Arzu sangat berat untuk meninggalkan Monik. Tapi ia juga tidak mungkin menolak pekerjaan yang memang harus ia ikuti.


"Aku akan cepat kembali." ucap Arzu mencium pucuk kepala Monik.


"Maaf aku terlalu cengeng." ucap Monik menenggelamkan wajahnya didada Arzu, Monik melingkarkan kedua tangannya dipinggang Arzu dan memeluknya begitu hangat seakan tak ingin melepaskan Arzu.


"Tidak, aku sangat menyukai kamu yang manja seperti ini." ucap Arzu melepaskan pelukannya, ia menangkup wajah Monik dan mulai melumat bibir Monik yang sudah menjadi candu baginya.


"Aku akan sangat merindukanmu." ucap Arzu menyatukan keningnya hingga hidung mereka saling beradu. Monik tersenyum sambil menyentuh rahang tegas Arzu, Monik kembali melumat bibir Arzu dengan sangat lembut. Monik sedikit tersenggal karena merasa oskigenya tinggal sedikit, Arzu yang menyadari itu langsung melepaskan ciumannya. Namun Monik kembali menarik tengkuk Arzu dan mencium bibir Arzu, Monik sangat merindukan kehangatan Arzu.


"Kamu harus makan sayang." ucap Arzu melepaskan ciumannya dan melihat Monik yang terengah-engah karena kehabisa oksigen, Arzu tersenyum karena melihat ekspresi lucu Monik.


"Menggemaksan." ucap Arzu mengecup pipi Monik dan berhasil membuat pipi Monik memerah.


"Tunggu sebentar, aku akan memasak untukmu." ucap Arzu mengelus kepala Monik dan langsung beranjak keluar. Monik hanya tersenyum melihat kepergian Arzu, Monik benar-benar bahagia bisa memiliki suami yang begitu perhatian padanya. Monik mengelus perutnya yang masih rata dengan begitu lembut, bagaikan beribu kupu-kupu yang terbang diperutnya mengelitik geli saat ia membayangkan anaknya lahir kedunia untuk melengkapi kebahagiannya.


"Terimakasih kamu sudah hadir sebagai kado terindah untuk mama sayang, mama akan selalu menjaga kamu." ucap Monik berbicara pada calon anaknya seakan ia bisa mendengar.

__ADS_1


CEKLEK


__ADS_2