ARZU

ARZU
Chapter 52


__ADS_3

Terlihat dua orang wanita sedang duduk di kursi tunggu di depan ruang rawat, tidak ada pembicaraan di antara keduanya.


"Maafkan aku" ucap salah seorang dari mereka memecah keheningan.


"Kenapa kau selalu membuatku menderita kak, apa salahku? Dulu kau menyiksaku dan sekarang anakmu juga hampir membunuh putraku" ucap wanita satu lagi dengan tatapan lurus kedepan.


"Aku minta maaf untuk kejadian masa lalu, tapi untuk masalah Vivian aku sama sekali tidak pernah menyangka jika dia akan berbuat seperti itu" ujar wanita itu yang tak lain adalah Mayya yang sedang menatap adiknya Rayya.


"Hah, buah memang tak akan jatuh jauh dari pohonnya. Kau tahu kak, aku sudah sangat menderita dan begitu marah pada diriku sendiri. Aku juga membencimu, sangat membencimu. Mungkin kau tidak tahu penderitaan ku setelah kau hancurkan kehormatanku. Kau tidak tahu kak" ujar Rayya yang mulai terisak.


"Sekali lagi aku minta maaf, aku tahu kejadian masa lalu tak akan pernah bisa diputar kembali. Jadi aku mohon, kembali lah menjadi adikku. Aku akan menyayangimu dengan tulus" ujar Mayya menggegam tangan Rayya, namun dengan cepat Rayya menepis tangan Mayya.


"Aku tidak butuh lagi kasih sayang mu kak, aku sudah terbiasa hidup di atas cemoohan dan hinaan orang lain. Semua orang sudah menganggap aku adalah wanita murahan dan memiliki seorang anak tanpa ayah" ucap Rayya tersenyum getir, Mayya yang mendengar itu sangat terkejut.


"Apa maksud kamu?" tanya Mayya mencari sebuah jawaban. Rayya yang mendengar pernyataan itu langsung menatap Mayya dan tertawa renyah.


"Jadi kau sangat penasaran dengan kisah hidupku yang menyedihkan? Baik lah, aku akan menceritakan semuanya padamu" ucap Rayya begitu enteng.


"Kau tahu, setelah kejadian dimana kau menghabisi kehormatanku. Entah lah, jika mereka tak menyelamatkan aku mungkin saat ini aku sudah menjadi tanah. Tapi aku tahu, tuhan masih ingin aku hidup dan memberikan hukuman untuk semua kejahatan yang pernah aku lakukan. Sebulan setelah kejadian itu, aku dinyatakan hamil. Haha, saat itu aku sangat terpukul karena semua orang terus mencemooh dan menghinaku dengan mulut pedas mereka. Bahkan aku tidak tahu siapa ayah dari anak itu, aku juga membenci anak itu sangat membencinya"


"Aku sudah berusaha untuk membunuhnya, tapi tak ada satu pun caraku yang berhasil. Dia tetap sehat hingga lahir ke dunia ini, aku tak pernah memperlakukannya layaknya seorang anak. Setiap aku melihat wajahnya, kejadian itu selalu menghantuiku. Aku menyiksanya dan terus menyiksanya. Sakit, sakit sekali hatiku saat melihat dia menangis dan tubuhnya di penuhi luka oleh tangan ku sendiri. Tapi aku tidak bisa menahan emosiku saat melihat wajahnya" Rayya memukul dadanya yang terasa sangat sesak.

__ADS_1


"Hingga dia beranjak dewasa, aku juga masih memperlakukan dia layaknya sampah. Tapi anak bodoh itu sama sekali tidak pernah marah padaku, dia masih saja bersikap seakan aku ini adalah ibu yang baik. Hingga suatu hari dia menghilang beberapa minggu, perasaan takut kehilangan pun merasuki diriku. Aku terus mencari keberadaannya, tapi aku sama sekali tidak menemukannya. Hingga beberapa bulan setelah itu dia kembali dan memberikan aku sebuah hadiah. Hadiah yang tak pantas aku terima, aku bukan lah ibunya yang baik" Rayya menyetuh kalung Indah yang melingkarkan di lehernya, hal itu tak luput dari pandangan Mayya.


"Dari situ aku menyadari, jika aku sangat menyayanginya. Aku tidak ingin kehilangannya, aku mulai menerimanya. Tapi kenapa saat aku menerimanya dia mengalami hal ini" ucap Rayya yang sudah terisak, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Mayya yang mendengar semua pemaparan Rayya pun benar-benar sangat merasa bersalah.


"Jangan takut, dia akan baik-baik saja. Dia akan ditangani dengan baik disini" ujar Mayya menarik Rayya ke pelukkanya. Rayya menagis tersedu di dalam dekapan Mayya.


"Dia belum juga sadarkan diri, ini sudah lebih dari seminggu" ucap Rayya di sela isakannya.


"Dia akan bangun, aku tahu putramu akan segera bangun. Dia anak yang kuat, aku tahu itu" ucap Mayya mengelus pundak Rayya.


***


Arzu terus menatap wajah Monik dengan lekat, ia sangat berharap Monik membuka mata dan tersenyum padanya. Namun itu hanya hayalan Arzu, butiran bening mulai meluncur di pipinya. Ia mengelus tangan Monik dengan lembut dan sesekali menciumnya.


"Buka matamu sayang, jangan seperti ini" sambung Arzu sambil memejamkan matanya. Namun tak lama Arzu meraskan sebuah tangan menyentuh wajahnya. Arzu membuka matanya, sebuah senyuman terulas di bibirnya. Monik kini sudah membuka matanya dan tersenyum pada Arzu.


"Monik juga rindu kakak" ucap Monik begitu lemah, Arzu tersenyum dan mencium kening Monik.


"Sejak kapan kamu sadar?" tanya Arzu menatap Monik.


"Sejak kakak bicara, Monik hanya ingin tahu apa yang kakak ucapkan. Jadi Monik tetap memejamkan mata" ucap Monik mengelus wajah Arzu yang sudah di tumbuhi bulu-bulu halus.

__ADS_1


"Kenapa kakak seperi ini? Kakak sangat berantakan" ucap Monik menatap seluruh tubuh Arzu.


"Ini semua karena kamu, aku sangat takut kehilangan kamu" ucap Arzu mencium tangan Monik.


"Monik masih di sini kak, eh tunggu!!" ucap Monik terkejut, Arzu yang mendengar itu pun tak kalah terkejut.


"Kak Rangga? Ya allah, bagaimana dengan keadaan kak Rangga? Apa dia baik-baik saja? Apa dia... "


"Dia masih koma, beberapa hari yang lalu keadaannya masih kritis" ucap Arzu memotong ucapan Monik.


"Monik ingin menemui kak Rangga, dia sudah menyelamatkan Monik" ucap Monik yang mulai menangis dan hendak melepas infus di lengannya, namun Arzu langsung menahan Monik.


"Besok kita akan menemuinya, kamu harus istirahat. Keadaan kamu juga belum baik" ucap Arzu, Monik menggelengkan kepalanya tak setuju dengan ucapan Arzu.


"Tidak kak, Monik harus... "


"Jangan keras kepala Monik, kamu sedang hamil dan keadaan anak kita masih sangat lemah!!" seru Arzu yang berhasil membuat Monik terdiam.


"Hamil" ucap Monik tak percaya, Arzu menangkup wajah Monik dan mengangguk.


"Iya sayang, kamu sedang mengandung anak kita. Buah cinta kita" ucap Arzu menatap manik mata Monik. Monik tersenyum dan langsung memeluk Arzu, ia sangat bahagia mendengar ucapan Arzu.

__ADS_1


"Besok kita akan temui Rangga, sekarang kamu harus istirahat" ucap Arzu, Monik mengeratkan pelukannya dan mengangguk menyetujui ucapan Arzu.


__ADS_2