
"Hey kau wanita murahan, turun dari panggung sekarang" seru seseorang yang berhasil mendapatkan perhatian semua orang. Ia tak lain adalah Elsha, dengan wajah yang sangar Elsha naik kepanggung dan menyeret Vivian turun dari Panggung.
"Lepaskan, apa kau mau membunuh calon keponakan kamu" teriak Vivian melepaskan tangan Elsha dengan kasar.
"Hah, bahkan aku tidak percaya anak itu adalah calon keponakan ku. Bisa saja itu anak hasil perbuatan kotormu" ucap Elsha sambil tertawa getir.
"Jaga ucapanmu, mana buktinya jika anak ini bukan anaknya kakamu. Bahkan kau tidak punya bukti" ucap Vivian menatap Elsha tajam.
"Ini adalah buktinya" seru seseorang yang tiba-tiba muncul dan di belakangnya terlihat seorang wanita dan beberapa polisi serta beberapa preman yang masih terborgol. Mereka adalah Rehan dan Mona, Rehan menggenggam tangan Mona dengan sangat erat.
"A-apa, kenapa kau bisa bebas?" ucap Vivian yang mulai gugup.
"Arzu itu orang yang merencanakan untuk menjebak kamu waktu di Singapura, aku melihat mereka keluar dari kamar hotel. Hanya saja aku tidak melihat wanita itu dengab jelas" teriak seseorang, ia adalah Cella berjalan mendekati Arzu.
"Kenapa, kau mulai takut?" tanya Elsha menatap Vivian dengan tatapan meremehkan.
"Operator, tolong hidupkan rekaman ini" ucap Rehan memberikan sebuah kaset pada operator acara.
"Ini tidak mungkin" ucap Vivian menggeleng kuat.
"Tak ada yang tak mungkin" ucap Rehan.
Flash back on
Sesuai perkataan Mona, Rehan benar-benar kembali mengunjungi Mona. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya yang akan di sampaikan oleh Mona kepadanya.
"Saya akan langsung menceritakan semuanya pada anda, waktu kita hanya sedikit" ucap Mona menatap Rehan.
"Ya" ucap Rehan.
"Aku tidak tahu anda akan percaya atau tidak. Sebenarnya semua kasus ini adalah perbuatan Vivian, beberapa minggu lalu dia datang kesini dan mengatakan jika di balik kasus Elsha adalah dia. Dia menjebak saya, dia bilang jika dia akan menyingkirkan semua yang menghalangi dia untuk mendapatkan Arzu. Bahkan dia juga mengancam akan membunuh saya, dia sangat jahat" ucap Mona yang mulai menangis, Rehan yang mendengar itu sangat terkejut.
__ADS_1
"Bahkan sekarang tidak ada lagi yang percaya dengan saya, minggu depan adalah sidang pencabutan gelar dan izin kerja saya sebagai dokter. Itu sangat menyakitkan, saya harus menanggung kesalahan yang sama sekali tidak pernah saya lakukan" sambung Mona yang semakin terisak.
"Itu tidak akan terjadi, apa dia mengatakan akan kembali kesini?" ucap Rehan, Mona menatap Rehan lekat dan menganggukkan kepalanya.
"Kapan?" tanya Rehan penuh selidik.
"Saya tidak tahu, dia hanya bilang jika dia akan kesini lagi untuk melihat penderitaanku" ucap Mona menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong.
"Baik lah, kau harus bekerja sama denganku untuk mengungkap semua kejahatan wanita licik itu" ucap Rehan.
"Ba-bagaiaman aku melakukannya?" tanya Mona menatap Rahan. Rahan tersenyum penuh arti dan menjelaskan apa yang akan ia rencanakan pada Mona. Mona mengangguk tanda mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Rehan.
Dua hari setelah kedatangan Rehan, Vivian kembali mengunjungi Mona dengan wajah penuh kemenangan. Mona menatap Vivian dengan penuh kebencian.
"Kau tahu Mona, aku sangat berterima kasih padamu. Sebentar lagi aku akan mendapatkan apa yang aku mau, kau kalah Mona. Aku akan mendapatkan Arzu untuk seumur hidupku, langkah selanjutnya adalah menyingkirkan Monik" ujar Vivian sambil menyilangkan kedua tanganya didada.
"Kau sangat jahat Vivian, apa yang kau rencanakan lagi? Kau sangat biadab" seru Mona menatap Vivian tajam.
"Ah, banyak sekali yang ingin aku lakukan. Kau tahu aku sangat beruntung karena sedang mengandung, ini adalah senjata ampuh untukku mendapatkan Arzu. Walaupun aku tak tahu siapa ayahnya tapi aku bisa menggunakan dia, setelah aku mendapat dia maka aku akan membunuh anak tak berguna ini" ujar Vivian sambil menyeringai, Mona yang mendengar itu sangat terkejut. Ia tidak pernah menyangka jika masih ada manusia setega Vivian.
"Karena kau akan mendekam selamanya di sini, aku juga ingin mengatakan sebuah rahasia padamu. Kau tahu, besok malam aku akan menyingkirkan wanita yang memiliki posisi sebagai istri kak Arzu. Satelah itu giliran kau, karena rahasia hanya akan di ketahui oleh orang mati" ujar Vivian menepuk pipi Mona.
"Kau sangat biadab" ucap Mona menepis tangan Vivian.
"Hahaha... Ya, aku memang biadab karena aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan apa pun caranya. Aku akan pastikan kau akan tetap ada di sini hingga mautmu datang, aku pergi dulu sayang. Sampai ketemu di neraka" bisik Vivian sambil tersenyum licik, lalu tak lama ia tertawa dan langsung pergi meninggalkan Mona.
"Dasar gila" ucap Mona begitu kesal, lalu ia mematikan alat perekam yang ada di dalam bajunya. Lalu tak lama seorang wanita paruh baya yang selalu mendampingi Mona pun masuk untuk membawa Mona kembali ke sel.
"Buk, bisa saya menghubungi keluarga saya. Saya sangat merindukan mereka, sebentar saja" ucap Mona menatap wanita itu penuh harap.
"Baik lah, hanya dua menit" ucap wanita itu yang langsung di jawab anggukkan oleh Mona.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, terlihat seorang pria tampan berjalan tergesa menuju sel dimana Mona berada.
"Apa kamu berhasil?" tanya Pria itu yang tak lain adalah Rehan. Mona mengangguk dan memberikan alat perekam itu pada Rehan.
"Terimakasih, kau sangat membantu kami. Aku berjanji secepatnya kamu akan segera bebas. Tapi aku harus pergi untuk menyelidiki khusus ini" ucap Rehan mengelus pipi Mona, Mona mengangguk dan tersenyum pada Rehan.
"Aku pergi" ucap Rehan, namun Mona mencekal lengan Rehan. Rehan kembali menatap Mona dengan penuh tanda tanya.
"Terimakasih, aku akan berusaha untuk membuka hatiku untukmu" ucap Mona yang berhasil membuat Rehan begitu bahagia.
"Ya, aku akan kembali" ucap Rehan yang langsung pergi meninggalkan Mona.
Flashback off
"Ini semua bohong, itu suara tiruan" teriak Vivian.
"Benarkah, apa ini juga kau katakan tiruan?" ucap seorang pria yang baru datang dan membawa seorang dokter. Ia tak lain adalah Arza.
"Ka-kau, kenapa disini? Bukankah aku sudah... "
"Maaf, saya tidak bisa lagi berbohong. Saya seorang dokter dan saya sangat menyesal sudah membohongi pasien saya. Uang yang anda kirim tidak pernah saya setuh dan saya akan mengembalikannya. Dokter Arzu, tadi siang saya ingin menemui anda tapi saya kira kembaran anda ini adalah anda. Saya ingin mengatakan jika rahim nona Monik sangat sehat, keguguran yang terjadi itu karena pengaruh obat yang di minum oleh nona Monik"
"Dan yang menaruh obat itu adalah wanita ini, dia juga yang selalu menyebarkan gosip murahan tentang Monik di kampus" seru Elsha menarik seorang wanita bertopeng kehadapan semua orang.
"Jadi semua ini rencana busuk kau Vivian, kau sangat keterlaluan" ucap Arzu penuh penekanan.
"Satu lagi, anak yang ada dalam kandungannya bukan lah anak mu kak, aku sudah melakukan tes DNA. Ini buktinya, arahkan semua kamera pada surat ini" ujar Arza menunjukan surat hasil tes DNA ke kamera agar semua orang tahu. Vivian yang merasa di pojokkan pun hendak kabur, namun dengan cepat Elsha menahannya.
"Kau tidak bisa kabur" ucap Elsha, Elsha
mencekal lengan Vivian degan sangat erat hingga pemilik tangan pun meringis kesakitan. Arzu yang melihat itu langsung beranjak pergi untuk menyusul Monik.
__ADS_1
"Haha... Aku tidak akan membiarkan kalian bahagia. Aku akan... "
PLAAKK