ARZU

ARZU
Chapter 56


__ADS_3

CEKLEK


Pintu ruangan terbuka sangat lebar dan menjukkan seorang pria tampan dengan jas putih tersampir di lengannya.


"Assalamualaikum" ucap pria itu tersenyum.


"Wa'alaikumusalam" ucap pemilik ruangan.


"Paman, kemana saja baru kelihatan?" tanya Monik. Ya, pria itu adalah Rehan.


"Paman banyak sekali pekerjaan, maaf baru jenguk kamu hari ini. Oh iya, paman juga mau kasih ini" ucap Rehan memberikan sebuah undangan. Monik mengernyit bingung, lalu tak lama Arzu keluar dari kamar mandi.


"Paman?" ucap Arzu terkejut.


"Ya, paman ingin mengantar undangan" ucap Rehan menatap Arzu.


"Undangan?" tanya Arzu melihat benda di tangan Monik, ia mengambilnya dan membuka isinya.


"Mona?" tanya Arzu tak percaya, Rehan yang mendengar itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Kenapa kau terkejut? Apa aku salah menikahi gadis itu?" tanya Rehan duduk diujung ranjang.


"Tidak, hanya saja... Oh ya ampun, jadi gadis itu Mona? Maafkan aku paman, aku tak pernah menyadarinya. Kenapa paman tidak jujur dari awal, jadi aku lah pria yang sering kau sebut?" ujar Arzu menatap Rehan tak percaya.


"Ya, kau memang selalu selangkah lebih maju darikku. Tidak jadi masalah, karena pada intinya dia tetap jadi milikku" ujar Rehan tertawa renyah.


"Ya tuhan paman, kau tahu bukan? aku hanya mencitai siapa? Jadi apa yang kau pikirkan selama ini huh?" tanya Arzu sambil melirik kearah Monik.


"Aku hanya ragu pada diriku sendiri" ucap Rehan menatap Arzu dan Monik bergantian.


"Semoga kalian selalu bahagia, dan cepat menyusul" ucap Arzu mengelus perut Monik. Rehan yang mendengar itu hanya bisa tersenyum.


"Paman, terima kasih sudah membantu masalah rumah tangga Monik dan kak Arzu. Jika tidak ada paman, mungkin semuanya akan sangat rumit" ucap Monik.


"Itu sudah kewajiban paman, tapi itu semua tak sepenuhnya paman yang membantu. Ada seseorang yang selalu membantu paman untuk memudahkan semuanya, tapi paman juga tidak tahu siapa di balik semua ini" ujar Rehan membuat Arzu dan Monik terkejut.


"Maksud paman ada yang sudah membantu kita dari belakang?" tanya Arzu.


"Ya, paman belum bisa mengetahui siapa orang itu" ucap Rehan sambil menaikkan kedua bahunya.


"Tapi tidak perlu memikirkan hal itu, siapapun itu pasti dia orang baik. Saat ini yang paling penting kamu harus cepat sembuh Monik" ucap Rehan.


"Iya paman, Monik juga sudah lumayan baikan" ucap Monik.


"Bagus, kalau begitu ada yang menjaga hidangan di acara pernikahanku" ucap Rehan yang di sambut tawa oleh Monik. Mereka bertiga pun saling bertukar cerita dengan deselangi canda dan tawa. Tanpa mereka sadari seseorang sedari tadi terus memperhatikan semuanya.


"Ternyata melihat orang yang kita cintai bahagia itu lebih menyenangkan, hatiku juga lebih tenang dan bahagia" ujar orang itu tersenyum bahagia.


***

__ADS_1


"Hai kak, bagaimana keadaan kakak?" tanya Monik saat ia tiba di ruangan Rangga di rawat, beberapa jam yang lalu Rangga sudah sadarkan diri.


"Seperti yang kamu lihat" ucap Rangga tersenyum pada Monik, Monik membalas senyuman Rangga.


"Terimakasih kak, demi Monik kakak rela membahayakan nyawa kakak. Jika kakak tidak ada, mungkin saat ini... "


"Jangan banyak bicara Monik, kamu masih saja banyak bicara. Dasar bawel" ucap Rangga mengacak rambut Monik.


"Terimakasih" ucap Monik menggenggam tangan Rangga.


"Sama-sama, kau sudah aku anggap seperti adik sendiri. Jadi sudah kewajibanku untuk melindungimu" ucap Rangga. Lalu pandangan Rangga berlaih pada pria yang berada di samping Monik.


"Jaga dia untukku, aku tahu kau sangat mencintainya. Aku percayakan adikku padamu" ujar Rangga menatap Arzu.


"Itu pasti, dia istriku" ucap Arzu merangkul pinggang Monik, Rangga yang melihat itu tersenyum. Sedangakan Rayya sedari tadi hanya bisa diam, ia baru menyadari jika selama ini di sekelilingnya begitu banyak orang-orang baik. Rayya bersyukur putranya sama sekali tidak mengikuti semua sifat buruknya.


"Assalamualaikum" ucap seorang wanita di depan pintu dengan senyuman yang begitu lebar.


"Wa'alaikumusalam" jawab semuanya kompak.


"Sorry mengganggu" ucap wanita itu yang langsung masuk menghampiri semuanya.


"Mbak yang di Cafe itu kan?" tanya Monik pada wanita itu. Wanita itu mengernyit dan menatap Monik untuk mengingatnya.


"Oh iya, mbak sama mas yang kemarin itu kan? Uh aku senang bisa bertemu lagi dengan kalian, kalian begitu sweet" ujar wanita itu begitu semangat. Monik yang mendengar itu hanya tersenyum dan menatap Arzu.


"Ah jadi lupa deh, ini buat kakak" ucap wanita itu meletakkan buah-buahan yang dia bawa.


"Ya ampun kak, mana mungkin aku melupakan pria aneh sepertimu" ucap wanita itu tertawa renyah.


"Kau tak ingin memberi salam pada ibuku?" tanya Rangga menatap wanita itu dan Rayya bergantian.


"Ah iya, hai tan. Aku Anggi, teman bekerja Kak Rangga" ucap wanita yang bernama Anggi itu menyalami Rayya.


"Kau sangat cantik" ucap Rayya mentap Anggi, Anggi yang mendengar itu seketika pipinya merah.


"Ma, jangan menggodanya. Lihat pipinya merona" ucap Rangga yang kembali membuat Anggi tersipu malu. Anggi menutup wajahnya dengan tangan karena sangat malu. Semua orang tertawa melihat tingkah lucu Anggi.


"Ma, Anggi adalah calon menantu mama" ucap Rangga yang berhasil membuat semuanya terdiam, Anggi yang mendengar itu pun tak kalah terkejut.


"Maksud kamu?" tanya Rayya tak mengerti.


"Anggi akan menjadi menantu mama, aku akan melamarnya setelah sembuh" ucap Rangga.


"Benarkah? Mama sangat senang mendengarnya" ucap Rayya merangkul pundak Anggi.


"Maaf kak, aku tidak bisa menjadi pendamping kakak" ucap Anggi membuat semua orang terkejut. Namun tidak dengan Rangga, sebuah senyuman tersungging di bibirnya.


"Apa kau yakin? Kau akan menolakku? Yakin tidak menyesal?" tanya Rangga menatap Anggi yang kini sedang menunduk.

__ADS_1


"Bukan seperi itu, kakak tahu seperi apa.."


"Aku juga bukan orang yang sempurna Anggi, keluargaku juga begitu banyak kekurangan. Aku menerimamu apa adanya, kau gadis yang manis" ujar Rangga, Anggi terdiam mendengar ucapan Rangga.


"Kita akan melewati semuanya sama-sama" sambung Rangga, Anggi pun mengangkat kepalanya dan menatap Rangga.


"Mama juga akan sangat senang jika kamu menjadi bagian keluarga kami" ucap Rayya mengeratkan rangkulannya di pundak Anggi.


"Kamu harus terima, jangan menolak" ucap Monik penuh penekanan, Arzu dan Rangga pun sangat terkejut mendengar ucapan Monik.


"Anggi, kau tahu? Kakak ku mengatakan yang sesungguhnya, dia benar-benar serius padamu. Aku bisa melihat di matanya jika kakakku sangat mencintaimu. Aku juga yakin kamu memiliki perasaan yang sama" ujar Monik menghampiri Anggi.


"A--aku.. "


"Haha, lihat bahkan kamu sangat gugup" ucap Monik tertawa saat melihat wajah pucat Anggi.


"Dengarkan kata hatimu" ucap Monik menggenggam tangan Anggi.


"Dia tidak akan berbohong" sambung Monik, Anggi menatap Monik dengan begitu lekat dan setelah itu ia mengangguk.


"Kau lihat kak, dia akan menerimamu. Cepat sembuh agar kalian cepat menikah dan memiliki anak yang lucu" ujar Monik begitu semangat. Semua orang tersenyum mendengar ucapan Monik.


"Kak, aku pamit dulu ya. Semoga kalian selalu bahagia. Monik tunggu undangannya" ucap Monik.


"Terimakasih" ucap Rangga, Monik mengangguk sambil tersenyum pada Rangga.


"sekali lagi aku ucapkan terima kasih Rangga, kau sudah menyelamatkan istriku" ucap Arzu.


"Ya sama-sama" ucap Rangga. Lalu Monik dan Arzu pun berpamitan untuk pulang.


"Kak, Monik lapar, mau makan ayam bakar" rengek Monik pada Arzu.


"Ya sudah, kita cari tempat terdekat" ucap Arzu.


"Tapi Monik mau ayamnya utuh satu ekor, pake sambal pedas" rengek Monik.


"Kalau pedas aku tidak izinkan, aku tidak mau kamu sakit lagi" ucap Arzu, Monik menghentikan langkahnya dan menatap Arzu tajam.


"Kalau begitu tidak jadi makan, Monik tidak mau lagi makan ayam bakar" ucap Monik yang mulai meneteskan air matanya.


"Kali ini saja tolong dengarkan aku, ini demi kesehatan kamu. Kamu belum sembuh sayang" ucap Arzu menggenggam tangan Monik.


"Monik mau makan yang pedas" ucap Monik di sela isakannya. Arzu menarik Monik ke dalam dekapannya.


"Ya sudah, ayok" ucap Arzu mengalah, jika tidak Monik akan lebih sulit untuk di bujuk.


"Monik tidak jadi makan ayam, Monik mau ke kebun binatang aja ya?" ucap Monik menatap Arzu.


"Kamu sangat aneh sayang" ucap Arzu tak habis pikir dengan Monik yang seketika moodnya akan berubah.

__ADS_1


"Ini semua kemauan anak kakak" rengek Monik.


"Iya-iya, ya sudah kita berangkat" ucap Arzu, Monik mengangguk senang. Lalu keduanya langsung beranjak dari rumah sakit.


__ADS_2